Kanaya pulang kampung H-2 minggu lamaran.
Alasannya?
Ya karena dia sudah tidak bekerja. Kanaya jadi terkekeh mendadak ketika mengingat Riana, adik Kanaya yang sekarang duduk di bangku universitas semester enam itu.
“Ih, ngapain kamu pulang-pulang segala?” katanya kala itu.
Kanaya tidak marah. Dia justru berusaha menahan sudut bibirnya agar tidak terangkat. “La katanya kamu mau minta uang saku tambahan dari Kakak Ipar…”
“Eh iya ya? Ya udah lah, buruan pulang… langsung nikah aja gimana. Udah gak sabar aku dapet duwet jajan dari Bapak, kamu sama Kakak Ipar.”
“Minta lah sekarang kalau berani!” ujar Kanaya menantang.
Yang ditantang justru merasa tertantang. “Berani lah. Mana nomornya?”
Kanaya pikir adiknya itu tidak serius. Tapi ternyata, jarak lima belas menit, pesan masuk darinya berisi, “gak sia-sia aku doa siang-malem. Cair bosss... cair…” beserta bukti transfer atas nama Darian Jian sebesar satu juta rupiah.
Kanaya hingga mendekatkan ponselnya ke mata saking syoknya.
“Baru masuk Tol Salatiga katanya,” ujar Darian memecahkan lamunan Kanaya.
Kanaya spontan menoleh. Mereka sedang berada di Terminal Ungaran. Darian tidak mengantar, Kanaya tidak mengizinkan. Namun pria itu menyusul untuk menemani Kanaya dan melepas kepergiannya.
“Masih lama berarti,” seru Kanaya.
Darian duduk di bangku panjang sebelah Kanaya. Suasana terminal malam ini padat, lebih padat dari sebelumnya. Mungkin ini bersamaan dengan cuti sekolah yang baru saja usai.
“Emangnya di Semarang gak ada kah loketnya?” tanya Darian penasaran.
“Ada… tapi udah kebiasaan di sini.” Kenyamanan itu nomor satu, kan?
“Aku dari awal selalu dari sini, Mas… biasanya sih berangkat dari rumah Mbak. Tapi ini Mbak lagi mudik.”
“Udah kasih kabar lagi ke Mbak Mas?”
Kanaya mengangguk lambat. Dia sudah keliling ke tempat semua saudara yang ada di Jawa. Ingin meminta restu sekaligus berpamitan. Termasuk pada sepupu yang Kanaya anggap sudah seperti ibunya sendiri.
Dan sepasang suami-istri yang Kanaya sudah anggap sebagai orang tuanya selama di perantauan itu, satu-satunya saudara yang sudah Kanaya izinkan mengenal Darian meski hanya melalui panggilan video.
“Mas…”
Darian berdehem, dia menoleh.
Kanaya masih menghadap depan, pada bus yang silih berganti datang dan meninggalkan terminal.
“Menurut Mas worth it gak kita sampe di fase ini, setelah tujuh tahun pisah?”
Darian tidak langsung menjawab. Kanaya pun tidak ingin menoleh walau hanya sekadar melihat ekspresi pria itu—dia takut.
“Kenapa tanya gitu?” ujar Darian setelah dua puluh detik.
Kanaya angkat bahu. “Penasaran aja. Dulu kan aku tiba-tiba minta putus, kan? Aku yang mutusin.”
“Tapi emang waktu itu alasanmu emang bener kan?”
Kanaya baru berani menoleh—mereka saling tatap. “Tapi kan—” Kanaya tidak bisa melanjutkan. Mendadak bibirnya kelu. Tapi lima detik setelahnya dia kembali bertanya, “apa alasan Mas masuk islam?”