Di antara semua orang, sepertinya Raina deh yang paling sibuk dan panik soal acara lamaran ini.
Semua-semua ingin dia urus, tapi tidak ada yang benar-benar dia tangani. Hanya komentar sana-sini lalu pergi begitu saja.
Iya, pergi.
Hingga membuat beberapa orang geram. Termasuk Bu Lastri.
Kala itu Raina diminta membantu sepupunya yang sedang memotong karpet untuk alas kue basah. Seperti biasa, gadis itu terlalu banyak berkomentar hingga membuat Ibunya kehilangan kesabaran, “nyoh lah Na, guntingen dewe!” (Ini lah Na, gunting saja sendiri).
Tapi baru saja Bu Lastri ingin memberikan semua itu, dia sudah keburu kabur.
Atau siang tadi saat Kanaya sedang membantu orang dapur mengupas kunyit. Tanpa aba-aba, dia langsung menarik tangan Kanaya untuk dia bawa ke dalam kamar.
“Ish Ni... orang tu kalau mau dilamar tu perawatan badan dulu. Bukanya malah ocek-ocek brambang...” sambil mengangkat tangan kiri Kanaya tinggi-tinggi, dia meringis. “Gak sley banget lah,” katanya berkomentar.
Kanaya tidak diizinkan membantah. Semakin dibantah, maka semakin membantah juga dia.
Alhasil, seharian mereka perawatan diri. Dari pakai masker bersama hingga luluran. Sampai beribu ancaman keluar dari mulut Kanaya.
“Awas aja sampe aku gatel-gatel gegara ini, tak tuntut kamu!”
Tapi Raina ya tidak perduli.
Dan terakhir soal make up.
Kanaya ingin yang simple saja. Sederhana. Toh hanya lamaran sederhana. Tapi dibantah telak oleh Raina. Dia sibuk bukan kepalang. Semua alat make up yang dia punya, semua dia keluarkan. Dia susun di atas meja, bak tukang make up profesional.
“Boleh lah... tapi aku kek bukan aku gak sih, Na?”
Raina berdecak keras. Sambil berkacak pinggang, dia mengamati Kanaya dan pantulan cermin besar.
Dan di puncak acara, yang paling sibuk juga Raina. Dia yang paling panik. Mondar-mandir kamar Kanaya dan ruang tamu, memastikan rombongan itu sudah datang atau belum. Bertukar pesan dengan Darian.
“Kamu tu bisulan apa gimana lah, Na? Mbok ya duduk!”
Dia mendecah, menatap layar ponsel di genggamannya dengan gelisah.
“La udah sampe mana katanya?”
“Sampe Tugu Obor.”
Mendengar itu, Kanaya tanpa sadar meremas tangannya sendiri. Tidak tahu, tiba-tiba jantungnya berdetak kencang.
“Udah sampe belokan, Ni...” buru-buru dia keluar kamar.
Kanaya menunggu dengan was-was. Tangannya berusaha menahan diri untuk tidak meremas gamis biru yang dia kenakan.
Dua menit.
Tiga menit.
Delapan menit.
Baru adiknya itu menampakkan batang hidungnya lagi. Wajahnya berseri, menatap Kanaya meledek.
Sambil menyipitkan matanya, berusaha membidik Kanaya dari sela ibu jari dan telunjuk yang dia angkat, Raina berkomentar.
“Emmmm... boleh lah,” katanya.
Kanaya tidak bisa merespons. Dia sibuk mengontrol detak jantungnya sendiri.
Raina yang belum puas kembali bersuara.