ASA : Ketika Doa Berbeda Arah

Sebelum Fajar
Chapter #23

Akhirnya SAH

Orang yang sedang panik itu sulit untuk mencerna segalanya dengan baik kan?


Berulang kali Kanaya membela dirinya dengan argumen itu untuk menutupi kebodohannya.


Dia bukan bodoh, hanya terlampau gugup berujung penglihatannya mengerucut, itu saja. Nyatanya setelah lewat waktu itu perlahan ia bisa mengingat segalanya.


Tapi sayang, terlambat.


Selepas lamaran itu ada banyak hal yang Kanaya urus, dari melengkapi berkas, mengurus ini itu, vaksin, dan lain-lain. Bahkan juga perdebatan sengit yang sempat terjadi satu minggu setelah lamaran.


Semua perkara serangkaian acara pernikahan.


Kanaya ingin yang super simple, jika perlu nikah di KUA saja.


Pak Yaya dan Bu Lastri yang merasa sudah terlalu banyak membuang—datang ke acara nikahan dan memberi amplop uang, jelas ingin mengunduh yang mereka tabor.


“Ya udah nah, resepsi kaya orang-orang kaya aja berarti, jadi kan dapet di tengah-tengah tu,” Raina akhirnya angkat bicara. Setelah rapat sengit dua hari sebelumnya dia hanya diam saja, seolah tidak peduli.


Semua tatapan mata tertuju padanya. Begitu juga Kanaya yang sudah di ujung tanduk—emosinya.


Raina menyalami satu per satu tatapan itu, lalu dia memutar bola matanya malas.


“Ya biar enak dua-duanya. Uni juga habis acara bakal langsung diboyong sama Kakak Ipar, jadi apa gak mending irit tenaga...” sambung Raina menjelaskan tanpa ragu.


Yang lain masih menyimak.


Gadis itu kembali berbicara.


“Lagian kalau resepsi kan dapet dua-duanya. Tetep ada pesta, gak terlalu capek. Lagian Kakak Ipar juga udah bilang siap bayarin semuanya kan?”


“Yo nak iso ki ojo ngono...” (Ya kalau bisa tu jangan gitu...) Ini Pak Yaya yang berbicara.


Kanaya tahu ini seputar harga diri. Tapi dia setuju dengan usulan adiknya. Ini jalan keluar yang paling pas untuk semuanya. Jadi dia ikut mengusulkan.


“Ya kalau bapak gak mau semua dari Mas Rian, tinggal acara yang di rumah kaya pengajian dll itu dari Bapak...”


“Cuma kalau acara di jam kaya gitu tu di sini belum umum. Pasti banyak yang dateng di rumah juga gara-gara gak tau,” ujar Bu Lastri menimpali.


“Ya dijelasin to Mak di undangannya...” jawab Raina cepat.


Kanaya setuju, dia manggut-manggut.


“Yang emang dateng besoknya ya gak papa to Mak. Tinggal dikasih sofenir aja, atau disediain kue gitu...”


Masuk akal. Raina mengacungkan jempol tangannya.


“Jajan pake mika bisa...” imbuh gadis itu.


“Kalau gak sembako... rencanaku tu aku pengen akadnya tu yang sakral gitu Mak, di masjid. Abis salat subuh kan nuansanya adem. Abis itu bagi-bagi sembako atau makanan atau apa lah ke orang-orang yang kurang mampu...” Kanaya menjeda ucapannya dengan menghela napas lelah, bahunya ikut melorot bersamaan dengan itu.


“Acara pesta itu gak usah, adain aja pengajian yang datengin ustad,” sambungnya.


Dia juga sama seperti wanita pada umumnya yang punya pernikahan impian.


Bu Lastri melirik Pak Yaya, begitu pula Pak Yaya. Mereka saling tatap.


“Ya kalau mau resepsi kaya gitu ya gak papa...” ujar Pak Yaya akhirnya mengalah.


Keputusan itu akhirnya membawa Kanaya pada kesibukan yang di luar nalar. Karena acara resepsi itu dilakukan di hotel dan Pak Yaya atau keluarga Kanaya tidak memahami banyak hal. Jadilah Kanaya yang mengurus semuanya. SENDIRI.


Nasib baik Raina sedang libur kuliah semesteran kala itu. Jadi ada yang menemaninya.


Tidak mudah memang, ada saja kendalanya satu dua hal. Namun tidak masalah, semua bisa teratasi.


Kanaya terkekeh saat ingatan itu sirna. Membawanya pada suasana masjid yang dingin saat azan subuh berkumandang.


Kanaya sudah di sini sejak lima belas menit yang lalu. Momen yang dinantikan semua keluarganya itu akhirnya datang juga.


Dengan mukena putih bersih—pemberian Kanaya. Tanpa make up dan penampilan sederhana.


Kanaya duduk dengan khidmat, mendengarkan azan subuh yang dilantunkan oleh Darian. Kata Haikal itu hasil latihan Darian selama satu bulan full dengan berguru padanya.


Seperti yang sudah direncanakan, akad nikah akan dilakukan sederhana. Di masjid dekat rumah Kanaya. Bakda salat subuh berjamaah.


Lihat selengkapnya