ASA : Ketika Doa Berbeda Arah

Sebelum Fajar
Chapter #24

Day One Setelah Sah

Kelinglungan Kanaya kembali musnah saat bangun tidur mendapati Darian yang berbaring di sisi Kananya. Itu saja dia sempat mematung cukup lama sampai akhirnya kedua netranya berkedip-kedip dan berujung melotot lebar sekali.


“Ya Allah aku beneran udah nikah to ini,” gumam hatinya berseru ribut.


Buru-buru dia bangkit, memakai kerudungnya asal dan lari terbirit-birit keluar kamar.


Sampai di ruang keluarga, dia melihat Pak Yaya yang sedang menonton siaran ceramah Mama Dedeh ditemani secangkir kopi dan bakwan udang.


Kanaya sempat berhenti dua detik sebelum akhirnya berlalu menuju kamar mandi. Barulah di kamar mandi—saat sedang menggosok gigi. Potongan-potongan kejadian kemarin muncul satu demi satu.


Dari suasana menegangkannya saat akad nikah, pada saudara saat membagikan sembako setelah akad berlangsung. Kanaya yang harus make up empat jam lamanya untuk mendapatkan hasil yang maksimal, refleks dia menghela napas.


“Untung jadwalnya haid,” gumamnya dengan mulut yang masih tersumpal sikat gigi dan busa yang berlimpah.


Kanaya juga mengingat momen saat perpisahannya dengan keluarga Darian. Terutama dengan Kak Cherly yang memeluknya erat-erat sembari mengucapkan kata terima kasih berkali-kali.


Kanaya hingga mengerutkan keningnya saat mengingat itu, tapi tidak lama karena pintu kamar mandi yang mendadak digedor dari luar disusul suara Raina yang menggelegar.


“Ni... buruan. Keburu abis ntar salat subuhnya!”


Kanaya buru-buru menyelesaikan segalanya dan keluar dengan wajah setengah basah. Raina dengan wajah bantalnya dan mata yang belum melek sempurna buru-buru masuk kamar mandi.


Bu Lastri sedang menggoreng tempe sewaktu Kanaya sampai dapur. Tanpa diminta dia langsung melanjutkan garapan Bu Lastri yang sedang memotong sayur terong.


“Suamimu suka terong nggak?” tanya Bu Lastri sambil membalik tempe goreng.


“Suka aja kayaknya Mak. Dulu sih dia gak banyak pilih makanan. Kalau sekarang gak tau...” jawab Kanaya apa adanya.


Tidak ada lagi percakapan setelahnya. Mereka selesai memasak pukul enam pagi di saat Darian dan Pak Yaya sedang menyiram tanaman di halaman samping dan Raina sudah tidur lagi—tentu saja.


Momen hangat itu berubah haluan saat waktu sudah memasuki waktu zuhur. Grasak-grusuk Kanaya mengecek barang ini dan itu sudah mulai terdengar.


Darian akan memboyong Kanaya kembali ke Semarang di hari pertama pernikahan mereka. Harusnya justru semalam bersama rombongan, tapi karena Kanaya yang anti naik mobil kecil lebih dari 30 menit. Jelas dia menolak mentah-mentah.


Darian juga memaksa bahkan menyerahkan segalanya ke Kanaya—tentu saja karena wanita itu yang menolak mentah-mentah niat baik Darian.


Katanya, “Mas itu gak tau, pokoknya aku aja yang pesen tiket busnya. Mas terima beres pokoknya.”


Sebenarnya tidak banyak barang bawaan yang Kanaya bawa, hanya satu koper besar milik Kanaya dan satu koper kecil milik Darian.


Tapi paper bag yang berjejer ada dua dan itu besar-besar. Ada boneka Spongebob dan guling kecil juga yang diletakkan di atas koper.


Lihat selengkapnya