Momen perjalanan mudik seperti ini momen yang paling Kanaya suka dan nantikan setiap ada kesempatan.
Dia selalu mempersiapkan semua dengan detail: dari memesan tiket jauh-jauh hari hanya demi mendapatkan nomor kursi favoritnya, atau rela menunda hari keberangkatan jika gagal mendapatkannya.
Kanaya juga selalu membeli camilan satu kantung kresek penuh—semua yang dia sukai beserta air mineral seperti "dot" katanya sih, "biar enak loh... kan gak udah bangun-bangun kalau mau minum," saat kala itu Raina mengejeknya.
Atau membawa bantal dan selimut tambahan. Semua dia persiapkan secara hati-hati dan matang.
Dulu, Kanaya juga sempat berandai-andai bagaimana rasanya melakukan perjalanan seperti ini jika bersama pasangan halalnya.
Dan ternyata Tuhan memang sebaik itu. Keinginannya terbayar—LUNAS.
Saat ini, di hari ini. Impian itu Allah kabulkan. Kanaya menoleh, sedikit mendongak. Dia menatap Darian. Yang ditatap sadar, jelas balik menatap.
“Kenapa?” tanyanya.
Kanaya menggeleng. “Mas tau... aku selalu suka banget momen mudik kayak gini,” ujar Kanaya memberi tahu.
“Tau... kelihatan dari kelakuanmu...” jawab Darian polos.
Kanaya mengerlingkan mata. Dia membenarkan posisinya agar lebih mudah menatap Darian. “Kelihatan banget kah?”
Darian mengangguk santai.
“Dari?”
“Kayaknya cuma kamu yang mau mudik berasa mau pindahan...” tutur Darian terus terang.
Kanaya menatap selimutnya, lalu setelah itu pada kantung kresek berisi camilan dan kembali pada Darian. “Iya juga ya...” gumamnya. “Berlebihan banget ya, Mas?”
Tanpa sungkan Darian manggut-manggut. “Kenapa kok suka momen mudik gini? Bukannya capek duduk berjam-jam di bus?”
“Capek... tapi asik..." jawabnya, dia menarik napas lebih panjang. "Waktu mobil jalan terus makin ninggalin rumah itu rasanya kayak mau memulai hidup baru, terus buka lembaran baru gitu, Mas."
Kanaya menoleh ke luar jendela, melihat pepohonan besar, motor, dan mobil yang berlawanan arah.
"Pemandangannya juga bagus. Kayak..." dia menjeda ucapannya sejenak. "Kayaknya gak ada deh, Mas, yang lebih asik dari lihat pemandangan sambil ngemil makanan favorit."
“Kalau gitu ngapa kemarin gak milih kursi depan aja? Kalau gak sebelah kiri.”
Kanaya menggerakkan jari telunjuknya. Dia sudah duduk nyaman lagi menghadap depan.
“Bangku ini tu yang paling pas, Mas. Gak di atas ban. Gak bikin deg-deg ser kayak di depan, terus bisa lihat mobil yang berlawanan juga, bonusnya tetep dapat pemandangan juga.”
Darian menyeringai kecil. Dia tidak tahu harus menanggapi apa.
“Dulu aku pernah, Mas, duduk di belakang. Enak juga sih, asal di sebelah jendela. Tapi grujalannya kerasa banget..."
"Bangku yang bisa aku terima selain 3D itu cuma nomor 4D.”
“Kenapa enggak nomor dua?”
Kanaya menggeleng lagi. “Kedepanan kalau nomor dua itu, Mas. Kayak nanggung gitu. Yang paling pas itu nomor tiga.”
Demi Allah, Darian sampai menggaruk keningnya sendiri karena tidak paham.
“Aku juga selalu naik Rosalia, Mas. SELALU.”
“Karena telanjur nyaman juga?” tanya Darian menebak.
Tapi jawaban Kanaya justru di luar dugaanya—lagi.
“Hmm... lebih tepatnya karena aku gak pernah mau coba yang lain selain Rosalia," lalu memamerkan deretan gigi putihnya.
Darian sempat diam cukup lama. Dia terkejut.
“Apa itu juga alasan Naya belum buka hati buat orang lain selama ini?”
Tiba-tiba saja kalimat itu terlontar dari mulut Darian tanpa dia pikir panjang dulu.
Sekarang giliran Kanaya yang diam. Dia juga sempat menghela napas dua kali sebelum menjawab.
“Mas tau dari Lia?”
“Dari Haikal—” ralat Darian.