Kanaya dan Darian sampai Semarang pukul sembilan pagi. Haikal dan Lia yang menjemput atas tawaran keduanya. Katanya, “Ya kali pengantin dateng udah gak dianter, gak disambut pula… mesakke men leh leh….”
Itu kalau kata Haikal, Lia beda lagi. Dari Kanaya turun dari bus sampai berdiri di hadapan Kanaya, wanita itu tidak ada habis-habisnya menatap Kanaya dengan tatapan meledek. Kanaya mah pura-pura tidak melihat saja.
Tapi namanya saja Lia, jelas dia tidak menyerah, justru ganti menyenggol lengan Kanaya dengan sikunya. Berkali-kali, hingga si empunya tangan menatapnya nyalang.
“Gimana rasanya nikah? Gacor kan?”
“Apaan sih Li, gak banget deh kamu…” sewot Kanaya menjawab.
Lia memainkan bibirnya sambil menahan tawa.
“Gimana Nay? Aman boyok?”
Kanaya menoleh.
“Aman lah, Mas. Naik bus enak kok. Sampean sendiri? Aman kemarin?”
Haikal mencebikkan bibir, lalu berakhir dengan bibirnya yang dia lengkungkan ke bawah.
“Lampung busuk jalannya ternyata. Gila sih…”
Kanaya tertawa.
“Arah ke bandara itu bagus, Mas… beda cerita kalau udah agak plosok-plosok.”
“Kaya di gang rumahmu itu?”
Kanaya mengangkat alis.
“Lebih parah sih…”
“Jalan batu gak rata itu ada yang lebih parah?” tanya Haikal.
Dia meletakkan tangan kanannya di pinggang. Tangan kirinya menyisir rambut depannya hingga tersingkap ke belakang.
“Gila… gila… untung aku gak tinggal di Lampung. Bisa servis mobil mulu aku kalau gitu…”
“Ya udah terus mau gimana ini kita? Mau langsung pulang apa ke mana dulu? Panas ini say…” seru Lia memotong.
Mereka memang masih di pinggir jalan selayaknya orang hilang arah, mengobrol tidak jelas di bawah teriknya matahari.
Darian menoleh kanan kiri, lalu tatapannya jatuh pada Kanaya.
“Mau mampir dulu atau pulang?”
Kanaya berdehem sebentar.