Hari ketiga pernikahan dan hari kedua tinggal bersama.
Mereka selayaknya manusia yang kembali ke habitat masing-masing. Kanaya dengan dunia masaknya—bedanya sekarang statusnya sudah menjadi istri dan memasak untuk suaminya. Dan Darian kembali dengan dunia kerjanya.
Dia sudah berencana ingin mengeksplor dapur impiannya sejak dulu itu. Mencoba membuat kue, mencoba resep masakan baru—apa pun pokoknya dia ingin mencoba banyak hal. Membayangkan saja dia sudah semangat.
Tapi sayang, pagi pertamanya buruk.
KANAYA BANGUN KESIANGAN.
Jam enam pagi, ia justru sudah gedebak-gedebuk membuat sarapan pagi untuk suaminya.
Berulang kali mengomel karena bingung di mana letak bumbu dapur, piring, dan lain sebagainya.
Semua karena ulahnya sendiri yang ngotot ingin membereskan koper hingga selesai tengah malam. Berujung mereka bangun pukul 05.24.
Kanaya sudah panik tujuh keliling, sedangkan Darian… ya biasa saja. Seperti tidak ada beban moral sedikit pun.
Berulang kali Kanaya berteriak menanyakan ini dan itu. Pria itu hanya menjawab singkat dan santai.
“Ada di lemari sebelah kanan atas, Sayang…” ujar Darian sedikit berteriak.
Saat itu dia sedang menyisir rambut di depan cermin. Kanaya baru saja menanyakan di mana letak gelas susu disimpan.
Sambil bersengut dan menghentakkan kaki, Kanaya menuju tempat itu. Sedikit menjinjit, dia meraihnya. “Sampean itu loh, Mas, udah tau istrinya pendek. Mau dateng. Naroh barang kok perasaan sukanya di atas-atas,” omelnya.
Kanaya tahu, suaminya tidak akan bisa mendengar. Hei, yang benar saja, jarak dapur dan kamar sepuluh meter lebih dan Kanaya mengucapkannya setengah berbisik.
Tapi tetap saja wanita melakukannya, biar afdol kalau kata Kanaya mah.
Darian keluar tiga menit setelahnya sambil menenteng jas dokternya. Dia berjalan mendekat lalu duduk di kursi meja makan.
Kanaya menoleh, memperhatikan penampilan suaminya.
Kemeja lengan panjang warna biru telur bebek dan celana dasar warna cream. Dua kancing bagian atas masih terbuka, sementara lengan bajunya digulung hingga siku.
Kanaya mendengus, dia buang muka. “Ngancingin baju aja gak bisa… mau pamer apa gimana,” gerutu Kanaya.
Darian spontan menunduk, memperhatikan dua kancing bagian atas yang terbuka. Bibirnya tertarik simpul.
“Udah ada istri harusnya emang dibenerin sama istri gak sih?” sindirnya menggoda.
Tatapannya sudah tertuju pada Kanaya yang berjalan mendekat sambil membawa sepiring sarapan dan segelas susu hangat yang masih mengepul tipis.
Ekspresinya masih sama—wajah yang ditekuk dan bibir yang mengerucut panjang.
Darian segera mengancing kemejanya sendiri.