Asalea Lova

Ni Kadek Wiwik Dwi Oktari
Chapter #1

Prolog

Agustus 2018

“Roy Kinatif.” gerakan tangan Falea terhenti ketika ingin meraih kenop pintu kamar, tubuhnya berbalik menatap pintu kayu cokelat diseberang yang sedikit ternganga, kamar milik ibu. Sayup-sayup suara ibu sedang mengigau memenuhi ruangan lantai dua di rumahnya. Falea melongok melihat aktivitas di dalam ruangan itu, nenek sedang mengambil sebuah bingkai foto terbalik yang melekat di dada ibu, beliau tengah tertidur pulas akibat 5 botol bir hijau besar yang berserakan di atas meja kerjanya. Seminggu ini, ibu cukup sering mabuk di malam hari ketika semua orang sudah tertidur. Suara dirinya bertanya tadi siang kembali terdengar.

“Bu, apa yang bisa membuatmu bahagia?” suaranya beradu dengan bunyi cucuran air panas yang memenuhi cangkir. Dia duduk di hadapan ibu, memerhatikan kelincahan gerakan ibu yang sedang meracik kopi dan di tengah-tengah mereka terpasang meja kayu jati panjang seolah memberi jarak. Ibu tersenyum, senyum yang berhenti di bibir, tak pernah benar-benar sampai ke mata, dan Falea tahu itu hanya senyum simpul. Ibu tidak pernah tersenyum dengan tulus selama ini, terhadapnya atau pengunjung kafe. 

Kondisi Ibu sebenarnya adalah saat ini. Daun pintu semakin terbuka lebar memperlihatkan wajah nenek yang kaya kerutan memenuhi pandangan, dia agak terkejut menemukan Falea mematung di ambang pintu.

“Ibu mabuk lagi?” tanya Falea. Nenek mengangguk lalu berbalik lagi untuk menaruh bingkai foto yang digenggamnya di atas nakas dan perempuan itu tidak perlu repot-repot meneliti siapa orang yang berpose pada bingkai tersebut, dia tidak mau. Gadis itu memilih menghampiri tubuh kurus ibu yang tertidur nyenyak tanpa selimut. Falea tersenyum miris. Ibu seperti orang gila atau mungkin akan gila sungguhan jika tidak dihentikan.

“Ibu bahagia saat ada di sekeliling orang-orang yang ibu cintai juga mencintai ibu.” akui ibunya dan Falea langsung mengerti. Ibu masih mencintainya, orang yang pergi limabelas tahun silam.

“Nek, apa jika dia kembali, Ibu akan berhenti seperti ini?” Falea menoleh ke arah nenek yang sibuk membersihkan kulacino yang membasahi permukaan meja. Mata tuanya melirik Falea sebentar lalu mengangkat bahu sambil tersenyum singkat. Falea mendesah lantas menarik selimut yang berada di bawah kaki ibunya.

Lihat selengkapnya