Asalea Lova

Ni Kadek Wiwik Dwi Oktari
Chapter #3

Kenangan yang Lupa Dikenang

Malam menyiulkan suara jangkrik. Tidak ada bintang maupun bulan yang biasa menyinggahi langit. 

Malam itu Falea menginap di kamar Ibu. Ia meringkuk di atas ranjang putih tulang, warna kesukaan Ibu. Matanya memandang jauh ke jendela nako berukuran 15 cm, menatap pekatnya langit malam, lama. 

Pandangannya lalu beralih. Fokusnya jatuh pada replika hitam putih berukuran 4R di atas meja kerja, di sudut kanan yang bersebelahan dengan pintu masuk. Satu bingkai foto yang tidak pernah tersentuh. Terbalik. Dan sengaja menyembunyikan diri. Setidaknya dari tangan Falea.

Dia beranjak dari pembaringan. Tangannya bergetar saat meraih bingkai foto berbingkai emas polos yang terpajang kaku itu. Dan sekarang, ia memutuskan untuk mulai mengingat kembali rupa sang Ayah. 

Wajahnya menyimpan ketakutan, tapi lebih didominasi rasa penasaran. Pelan tapi pasti, tangan kanannya menarik benda kenangan itu lebih dekat.

Falea berhasil. 

Ya, setidaknya setelah lima kali percobaan yang selalu berakhir dengan frustasi. 

Ia meneliti foto hitam putih tersebut. Sosok itu gagah memiliki dada bidang hasil olahraga, cocok memakai balutan tuksedo hitam. Sang Ibu langsing sama seperti sekarang, memakai baju batik tulis berwarna cokelat terang dengan motif bunga anggrek. Motif yang sama dengan dress putri kecilnya. 

Mereka bertiga tersenyum bahagia. Seolah tidak akan pernah berpisah.

Sudut matanya memanas. Falea sesekali menghela napas panjang, meringankan sesak yang datang tiba-tiba. Fragmen masa lalu datang tanpa perlu diundang.

***

Lihat selengkapnya