Asalea Lova

Ni Kadek Wiwik Dwi Oktari
Chapter #4

Secangkir Izin Pergi

September 2018

“Ibu bilang tidak!” wanita paruh baya itu berkata tegas tak memedulikan raut memelas putrinya yang sedang terduduk lesu pada salah satu meja kayu jati persegi di Luwak Coffee House. Tempat pariwisata bagi para pelancong yang ingin menikmati kopi luwak dari Bali. Bukan ini tidak di tempat lain, ini masih di lingkungan rumah nenek. Kafe ini adalah warisan nenek, yang sekarang dibawah kepemimpinan ibu. Rumah ini cukup luas, jadi nenek menjadikan bagian depannya kedai kopi dan dibagian belakangnya kebun kopi. Kamar kita bertiga ada di lantai dua, menyatu jadi satu bangunan utuh bergaya otentik.

“Aku akan menjadi orang sukses di sana bu. Lagipula aku baru saja sarjana. Aku akan mencari jati diriku di sana.” Falea masih berusaha untuk memohon, kedua tangannya saling menakup erat dan mata belonya membesar sambil mengikuti tubuh langsing ibunya menuju tape recorder lalu menyetel musik. 

“Falea Kinatif, ibu tidak marah jika kamu tidak ingin bekerja. Kamu mencoba menghindarkan?” Falea melongo walau sebenarnya 50% tepat tapi bukan itu tujuan utamanya. 

Sebenarnya Falea salah satu orang yang tidak berambisi dengan sebuah gelar. Baginya masa depan itu masih jauh dan dia baru saja bernapas lega berhasil meloloskan diri dari kengerian sidang skripsi dan kini harus menghadapi gelar magister? Oh tidak!

“Bukan bu.” Falea memutar bola matanya sambil bertopang dagu saat sebuah lagu milik Ryu mengalun lembut menyanyikan lagu My Memory. Falea bukannya tidak menyukai lagu itu, tapi mengingat bagaimana lagu itu selalu mengalun setiap pagi membuatnya bosan apalagi dengan alasan dibaliknya.

Tentu ini tidak sesuai dengan identitas kafe, makanya Ibu selalu memutarnya sebelum jam kafe buka.

Lihat selengkapnya