Asalea Lova

Ni Kadek Wiwik Dwi Oktari
Chapter #6

Pertemuan Pertama dengan Ayah

Falea sekali lagi meneliti alamat rumah yang tertempel pada dinding beton, mengurung halaman seluas 3 hektare di dalam sana. Mata belonya melotot menyadari jika nyatanya ayah adalah orang kaya. Terbukti dari dua penjaga gerbang yang berjejer rapi di luar rumah, di dalamnya ada bagunan tingkat tiga lengkap dengan taman buatan yang dipenuhi pepohonan layu juga air mancur tinggi dan berwarna-warni seperti yang ada di Puputan Badung, bedanya di sini tidak berisi Patung Catur Muka dan diameternya lebih lebar. Bangunannya tidak terlalu kentara dari tempat Falea berdiri, tapi jika dilihat dari mewah gerbangnya tentu bagian dalamnya tidak perlu dipertanyakan lagi. Gerbang berwarna hitam polos yang jika dilihat dari dekat seperti ada pola garis-garis melengkung yang abstrak dan jika diteliti ada tulisan hangul. 

“Nuguseyo?” tanya salah satu penjaga, Falea melongo, mendadak dia ingin memiliki kemampuan xenoglosia agar bisa berkomunikasi dengan para penjaga, tapi kenyataannya Falea hanya bisa berjalan mundur tanpa kata. Menit berputar sepuluh kali dan gadis itu tetap menempel pada tembok tua diseberang rumah ayahnya, memikirkan cara agar bisa menemui si pemilik rumah sebelum dia mati dimakan udara malam. Seperempat menit kemudian sebuah mobil jaguar berhenti di depan gerbang, mata Falea memincing mengingat bagaimana rupa itu berubah dari foto yang pernah dilihatnya.

“STOP!” cegahnya saat mobil itu ingin memasuki gerbang rumah membuat pengemudi menghentikan mobilnya dengan keras. Falea enggan menghampirinya hingga laki-laki itu keluar sendiri dari mobil dan memberikan kuncinya pada salah satu penjaga.

Lihat selengkapnya