Falea enggan beranjak dari balkon kamar. Ia menikmati guyuran hujan yang beradu dengan speaker Huper milik Ayah. Sekarang speaker itu menetap di kamarnya, menyuarakan lagu lawas kesukaan Ibu. Berharap jika suara Ryu sampai ke telinga Ayah yang sibuk menggeram di ruang kerja.
Tepat di sebelah kiri kamarnya.Lingkungan sekitar terlihat sepi dari aktivitas manusia. Sebelum matanya menangkap tanda-tanda kehidupan. Seorang laki-laki keluar dari gerbang rumah yang berada tepat di seberang rumah Falea. Tidak terlalu kentara akibat hujan dan payung yang menutupi wajahnya. Tapi mata Falea cukup jeli untuk mengenalinya.
Laki-laki Sungai Banpo!
Gadis itu terbelalak kaget. Otaknya merespons cepat. Ia segera menuruni tangga dua-dua demi mempersingkat waktu. Terjatuh. Menyenggol sofa. Terpeleset di lantai basah yang baru selesai dibersihkan. Mencium pintu karena lupa dibuka. Dan berlari lebih cepat menuju gerbang rumah saat berhasil keluar gedung. Tak memedulikan lututnya yang lecet serta tatapan aneh para pelayan yang sibuk membersihkan rumah.
"Tunggu!" pekiknya pada sosok laki-laki yang sudah menghilang bersama payung hitamnya di belokan jalan utara, menuju ke arah timur.
Yah. Falea terlambat.
"Kamu tidak apa-apa?" Belum hilang kagetnya karena kehilangan seseorang, kini Falea lagi-lagi melebarkan kedua matanya. Menatap Bibi Hwang, kepala pelayan di rumahnya yang bisa berbahasa Indonesia. Wanita dengan sedikit uban di atas ubun-ubun itu kini meringis melihat kedua lutut Falea yang membiru. Sambil melebarkan payung berwarna putih polos.
"Kamu bisa bahasa Indonesia?" tanya Falea.Wanita paruh baya itu mengangguk. Memperlihatkan kerutan yang sangat kentara di pipinya saat tersenyum.
"Aku bisa sepuluh bahasa asing." Falea melongo tidak percaya. Gadis itu pantas menyebut dirinya bodoh sekarang.