Asam Garam Kehidupan

Amrullah Ibrahim
Chapter #1

Embun Pertama di Ujung Daun

Udara dingin lereng bukit menyusup melalui celah-celah kain jaket usang yang dikenakan Bara Fathan. Pukul 04.30 WIB. Langit subuh masih menyisakan pekat yang gulita, berhiaskan taburan bintang yang berkelip enggan di atas punggung Gunung Merapi dan Merbabu. Di kejauhan, suara jangkrik malam perlahan-lahan digantikan oleh kokok ayam jantan pertama yang bersahut-sahutan dari perkampungan penduduk di kaki lembah. Bara, seorang bocah berusia sepuluh tahun, duduk bersila dengan tenang di atas sebuah batu besar pipih yang terletak persis di tepi ladang keluarganya. Batu itu terasa dingin, menyerapkan embun pagi langsung ke serat kain celana pendeknya, namun ia sama sekali tidak bergeming.

"Bara, apakah kamu tidak kedinginan?" sebuah suara lembut tiba-tiba memecah keheningan, datang dari arah gubuk bambu di dekat ladang.

Bara menoleh perlahan. Ia melihat bayangan ibunya, Inaq, berjalan mendekat sambil membawa selembar selimut tipis berwarna pudar.

"Tidak, Inaq. Udara pagi ini justru terasa sangat jujur," jawab Bara dengan suara kecil yang tenang, matanya kembali menatap lurus ke depan.

Inaq tersenyum tipis, merapatkan selimut ke bahu anaknya. "Jujur bagaimana maksudmu, Nak?"

"Udara ini dingin, tapi ia tidak pura-pura hangat. Ia memeluk apa saja yang dilewatinya tanpa meminta balasan," bisik Bara, jemarinya menunjuk ke arah sehelai daun talas yang tumbuh subur di dekat batu tempat ia duduk.

Di ujung daun talas yang lebar dan berwarna hijau tua itu, bertengger sebutir embun pagi yang amat jernih. Sempurna bulat, tidak pecah, menampung seluruh semesta kecil di dalam permukaannya yang licin. Bara mendekatkan wajahnya, memperhatikan bagaimana butiran air itu memantulkan pendar cahaya fajar keperakan yang perlahan-lahan mulai merayap naik dari balik ufuk timur. Semburat jingga dan keemasan berpadu di langit, menyapu sisa malam yang kelam.

"Lihat itu, Inaq," kata Bara penuh takjub. "Embun itu tidak punya kaki, tidak punya tangan. Tapi ia bisa berdiri tegak dan indah di ujung daun yang paling rapuh."

Inaq ikut berjongkok di samping batu, merangkul pundak kecil anaknya. "Dan tahukah kamu mengapa ia bisa bertahan di sana, Bara?"

"Karena daun itu menopangnya, Inaq," jawab Bara cepat.

"Benar. Tapi daun itu sendiri juga membutuhkan embun untuk mendinginkan dahaganya sebelum matahari benar-benar naik nanti," balas Inaq lembut, menatap lekat mata jernih anaknya. "Segala sesuatu di alam ini diciptakan berpasangan dan saling merawat, Nak."

❖ ❖ ❖

Pendar cahaya fajar kini semakin benderang, mengusir kabut tipis yang sempat menyelimuti barisan tanaman tembakau dan jagung di ladang milik ayah Bara. Di usia sepuluh tahun, Bara memiliki sebuah pergulatan batin yang seringkali membuat orang tuanya kebingungan. Ia bukan anak yang rewel meminta mainan, melainkan anak yang terus-menerus mencari makna di balik benda-benda kecil yang ia temui setiap hari. Pagi ini, tujuan utamanya duduk berlama-lama di atas batu bukan sekadar menikmati pemandangan, melainkan mencari jawaban atas pertanyaan besar yang mengganjal di dalam kepalanya sejak semalam: Untuk apa manusia diciptakan jika pada akhirnya mereka sering saling menyakiti?

"Inaq, kemarin sore aku melihat Pak Karto marah besar pada kambingnya hanya karena hewan itu merusak pagar bambu," cerita Bara, mengalihkan pandangannya dari butiran embun ke wajah ibunya. "Padahal kambing itu hanya ingin mencari rumput."

Inaq menghela napas pendek, mengelus rambut ikal Bara dengan penuh kelembutan. "Pak Karto sedang lelah, Bara. Hidup di lereng bukit ini menuntut tenaga yang besar. Terkadang, kelelahan membuat hati seseorang menjadi sempit."

"Tapi apakah manusia harus selalu merasa paling benar, Inaq?" tanya Bara lagi, suaranya terdengar serius melebihi anak-anak seusianya. "Kemarin malam, saat aku membantu Abah menghitung hasil panen tembakau, Abah bilang hidup ini harus diperjuangkan dengan keringat dan kadang-kadang kelicikan kecil agar kita tidak ditipu orang kota. Aku tidak ingin menjadi licik."

Inaq terdiam sejenak. Ia menatap suaminya, Amak, yang baru saja keluar dari pintu gubuk sambil membawa cangkul di pundaknya. Langkah kaki Amak berat, mencerminkan beban hidup keluarga petani kecil yang sering dihimpit tengkulak.

"Bara," panggil Amak dengan suara serak khas pria perokok tembakau lintingan. Ia mendekati batu tempat Bara duduk. "Kamu sedang memikirkan apa lagi, Jagoan?"

Bara menoleh menatap ayahnya. "Abah, aku tadi melihat embun di ujung daun talas. Embun itu hidup karena daun, dan daun hidup karena air serta matahari. Mereka tidak pernah bertengkar. Kenapa manusia tidak bisa hidup seperti itu?"

Amak tersenyum pahit, meletakkan cangkulnya bersandar pada batu besar. Ia duduk bersila di tanah, mensejajarkan tinggi badannya dengan sang anak. "Karena manusia punya pikiran, Bara. Pikiran itu anugerah, tapi juga ujian terbesar. Hewan dan tumbuhan tunduk sepenuhnya pada hukum alam yang dibuat Sang Pencipta. Mereka tidak punya pilihan selain patuh. Sedangkan manusia... manusia diberi kebebasan untuk memilih."

"Pilihan untuk patuh atau melawan?" tanya Bara cepat.

"Pilihan untuk merawat atau merusak," jawab Amak tegas. "Itulah sebabnya, tujuanmu hidup di dunia ini bukan hanya sekadar tumbuh besar seperti batang jagung, Bara. Kamu harus belajar memahami hukum alam pertama: bahwa tidak ada satupun makhluk di bumi ini yang bisa hidup sendirian."

Bara meresapi setiap kata yang diucapkan ayahnya. Di dalam hati kecilnya, sebuah tekad mulai terpaut. Ia ingin menjadi seperti embun—memberi kesejukan tanpa pernah menuntut daun untuk membalas budi.

❖ ❖ ❖

Matahari kini telah sepenuhnya terbit, memancarkan kehangatan yang langsung terasa membakar kulit tipis Bara. Butiran embun di ujung daun talas yang tadi ia amati perlahan-lahan mulai kehilangan wujudnya. Ia menyaksikan proses penguapan itu terjadi detik demi detik; air yang tadinya jernih dan megah di ujung daun, kini berubah menjadi uap tipis tak kasat mata yang terbang naik ke langit biru.

"Lihat, Inaq, embunnya menghilang," ucap Bara dengan nada sedikit kecewa.

"Ia tidak menghilang, Nak," sanggah Inaq sambil berdiri dan merapikan kain selendangnya. "Ia naik ke atas, menyatu dengan awan, dan nanti malam atau esok subuh, ia akan turun lagi dalam bentuk hujan atau embun yang baru. Perubahan adalah hukum abadi."

Bara menganggukkan kepalanya pelan. Transisi dari embun pagi yang dingin menjadi uap yang terbang ke langit memberikannya pemahaman baru tentang siklus kehidupan. Tidak ada yang benar-benar mati di alam semesta ini; segala sesuatu hanya berubah bentuk untuk melayani tujuan yang lebih besar.

"Ayo, Bara. Bantu Abah membawa bibit jagung ini ke petak ladang bagian atas," panggil Amak, memecah lamunan sang anak.

Bara bergegas turun dari batu besar. Kakinya yang tanpa alas menyentuh tanah ladang yang masih basah dan gembur. Sensasi dingin tanah bercampur kehangatan matahari pagi memberikan energi tersendiri bagi tubuh kecilnya. Ia berjalan mengekori ayahnya, melompati gundukan tanah dan saluran air kecil yang jernih mengalir dari mata air bukit.

Selama perjalanan singkat menuju petak ladang atas, pikiran Bara terus berputar pada percakapannya dengan kedua orang tuanya. Ia menyadari bahwa kedamaian yang ia rasakan di atas batu tadi pagi adalah sebuah kemewahan yang rapuh. Di luar sana, di desa bawah, kehidupan berjalan dengan tergesa-gesa, penuh dengan ambisi, kecemasan, dan persaingan antarmanusia yang seringkali mengabaikan harmoni alam.

"Abah," panggil Bara di tengah langkah mereka. "Apakah kelak aku harus pergi ke kota untuk mengerti semua ini?"

Amak menghentikan langkahnya, menoleh ke belakang menatap putranya yang membawa sekantong kecil bibit jagung di pelukan. "Kota itu besar dan bising, Bara. Banyak orang mencari ilmu di sana. Tapi kebijaksanaan sejati seringkali tidak ditemukan di ruang kelas bertembok batu, melainkan di tempat di mana kamu berpijak sekarang—di antara tanah, daun, dan embun."

Kata-kata itu meresap jauh ke dalam sanubari Bara. Ia merasa seolah-olah sebuah pintu rahasia di dalam dadanya baru saja terbuka, memperlihatkan jalan panjang yang harus ia tempuh sebagai seorang manusia kecil yang sedang belajar mengenal Tuhannya melalui ciptaan-Nya.

Lihat selengkapnya