Asam Garam Kehidupan

Amrullah Ibrahim
Chapter #2

Semburat Sinar dan Nafas Kehidupan

Pukul 06.00 WIB beranjak merangkak menuju pukul 07.00 WIB. Langit di ufuk timur yang semula menyemburkan semburat jingga kemerahan kini perlahan-lahan bertransisi menjadi biru terang yang jernih, membentang luas tanpa sekat di atas perkebunan milik keluarga Bara. Udara pagi masih menyisakan hawa dingin yang menusuk tulang, namun perlahan-lahan mulai dihangatkan oleh jilatan sinar mentari pagi yang mulai meninggi di atas pucuk-pucuk pepohonan mahoni.

Bara masih bergeming di tempat yang sama, berdiri tegak di dekat rumpun pohon kopi di sudut kebun. Punggungnya bersandar santai pada batang pohon yang kokoh, sementara kedua matanya menatap lekat ke arah hamparan daun-daun hijau yang berkilauan diterpa cahaya. Butiran-butiran embun malam yang tadinya menggelayut manja di ujung daun tampak mulai menguap perlahan, berubah menjadi uap tipis tak kasat mata yang mengepul ke udara seiring dengan naiknya temperatur suhu pagi itu.

"Alam tidak pernah berdusta dalam menyajikan keindahan dan kebenarannya, Bara," gumam Bara pelan pada dirinya sendiri, meresapi setiap detik pergantian waktu yang begitu tenang.

Di hadapannya, proses alam yang menakjubkan itu terjadi begitu natural. Butiran embun yang menguap tidak serta-merta hilang sia-sia ke angkasa; sebagian besar dari molekul air yang berharga itu diserap kembali oleh pori-pori daun yang mulai terbuka menyambut datangnya siang. Proses biologis yang sederhana namun sarat makna ini menjadi pemandangan harian yang tak pernah bosan disaksikan oleh Bara sejak kecil. Air embun yang meresap ke dalam jaringan sel tumbuhan itu kemudian mendistribusikan kehidupan, menghidupkan seluruh ranting, batang, hingga akar yang tertanam kuat di dalam tanah subur.

Bagi Bara, pagi hari di kebun ini selalu menghadirkan ketenangan spiritual yang sulit ditemukan di tempat lain. Suara cicit burung emprit yang bersahutan dari semak belukar, desir angin pagi yang menggesek dedaunan, hingga aroma tanah basah yang menguap terkena panas matahari, semuanya berpadu menjadi sebuah simfoni alam yang agung. Ia merasa menjadi bagian kecil dari siklus kehidupan yang maha luas ini, di mana setiap makhluk hidup memiliki peran dan jalurnya masing-masing dalam mengabdi kepada Sang Pencipta.

❖ ❖ ❖

Di tengah lamunannya yang mendalam, sebuah langkah kaki berirama terdengar mendekat dari arah jalan setapak di tepi kebun. Langkah yang mantap namun sarat dengan kelembutan itu sudah sangat dikenali oleh Bara. Tak lama kemudian, sosok paruh baya berambut putih dengan topi jerami lusuh dan handuk kecil tersampir di pundaknya muncul dari balik barisan pohon pisang. Beliau adalah ayah Bara, seorang petani desa yang tidak hanya memiliki tangan dingin dalam mengolah tanah, tetapi juga memiliki kedalaman jiwa dan kebijaksanaan hidup yang luar biasa.

"Pagi yang cerah untuk merenung, Nak," sapa sang Ayah dengan suara baritonnya yang hangat, sambil melangkah mendekat dengan membawa dua cangkir tanah liat yang mengepulkan uap tipis.

Bara menoleh, menyambut kedatangan ayahnya dengan senyuman tulus. "Iya, Ayah. Pagi ini suasananya begitu hidup. Aku sedang memerhatikan bagaimana embun pagi bekerja menghidupkan daun-daun itu."

Sang Ayah berhenti tepat di samping Bara, lalu menyodorkan salah satu cangkir tanah liat berisi air hangat yang dibawanya. "Teh jahe hangat buat pengusir dingin. Minumlah pelan-pelan supaya tubuhmu segar."

Bara menerima cangkir tersebut dengan kedua tangannya. Kehangatan langsung menjalar dari permukaan tanah liat ke telapak tangannya. "Terima kasih, Ayah."

Ayah Bara meneguk sedikit tehnya, lalu ikut memandang ke arah hamparan kebun yang kini semakin terang benderang disinari matahari. Tatapan matanya menyiratkan pengalaman hidup puluhan tahun bergelut dengan alam. "Apa yang menarik perhatianmu dari daun-daun dan embun itu tadi, Bara? Kamu terlihat begitu serius memandangnya sejak fajar tadi."

Bara menyeruput tehnya yang beraroma rempah menenangkan, sebelum menjawab, "Aku kagum pada cara alam bekerja, Ayah. Air embun yang kecil dan dianggap sepele ternyata menjadi sumber kehidupan bagi seluruh bagian pohon. Tanpa air itu, daun akan mengering dan ranting akan mati."

Mendengar ucapan putranya, sang Ayah tersenyum bangkalan. Ada secercah binar kebanggaan di mata tuanya. Inilah momen yang selalu dinantikan oleh Bara—berdialog dengan ayahnya mengenai rahasia-rahasia kecil alam semesta yang menyimpan hikmah besar.

"Kamu benar sekali, Nak," ucap Ayah memulai penjelasannya dengan nada tenang. "Tapi, renunganmu itu sebenarnya bisa ditarik lebih luas lagi, jauh melampaui urusan biologi tumbuh-tumbuhan."

Bara menoleh penuh minat, menantikan kelanjutan kalimat sang Ayah. Tujuan Bara pagi ini memang bukan sekadar menikmati pemandangan, melainkan mencari jawaban atas kegundahan hatinya mengenai arah hidup dan kedewasaan rohaniah yang sedang ia pelajari.

❖ ❖ ❖

Sang Ayah meletakkan cangkirnya di atas sebuah tunggul kayu tua yang bersih, lalu merentangkan kedua tangannya ke arah hamparan kebun yang luas. Angin pagi berhembus lembut, memainkan ujung baju mereka. Transisi dari kekaguman fisik terhadap alam menuju perenungan filosofis yang lebih dalam pun dimulai secara mengalir dan tanpa paksaan.

"Manusia itu, Bara..." Ayah memulai dengan suara yang berbisik lembut namun tegas, "pada hakikatnya bagaikan daun dan matahari yang kita saksikan tadi."

Bara mengerutkan keningnya, mencoba menangkap esensi dari perumpamaan yang dilontarkan oleh ayahnya. "Maksud Ayah, jasad kita adalah daunnya?"

"Tepat sekali," jawab sang Ayah sambil menepuk pelan pundak putranya. "Jasad kita, raga yang terbuat dari unsur tanah ini, membutuhkan asupan fisik agar bisa bertahan hidup. Kita butuh air, butuh makanan, butuh istirahat, dan udara bersih untuk bernapas. Sama seperti daun yang butuh air embun dan nutrisi tanah."

Bara mengangguk-angguk pelan, meresapi setiap kata yang meluncur dari bibir ayahnya. "Tetapi, jika hanya itu yang kita miliki, kita tidak ada bedanya dengan tanaman atau hewan ternak yang hanya hidup untuk makan dan berkembang biak."

"Nah, di situlah letak perbedaannya, Nak," sambung sang Ayah dengan mata yang berbinar terang. "Selain jasad yang membutuhkan asupan fisik, jiwa manusia memerlukan cahaya ilahi agar tidak layu dan mati dalam kegelapan. Cahaya itu adalah petunjuk, ilmu, dan keimanan."

Penjelasan sang Ayah menghunjam relung hati Bara paling dalam. Semburat sinar matahari yang kian meninggi di langit seolah menjadi visualisasi nyata dari apa yang baru saja dijelaskan oleh ayahnya. Sinar itu menembus sela-sela daun, memberi energi pada klorofil untuk berfotosintesis. Begitu pula cahaya ilahi, batin manusia yang kering dan gersang karena beban duniawi memerlukan siraman petunjuk agar kembali segar dan berdaya guna bagi sesama.

Bara merenungkan kembali perjalanan hidupnya belakangan ini. Terkadang ia terlalu sibuk memikirkan urusan dunia, mengejar target-target material, hingga lupa bahwa jiwanya sedang mengalami kekeringan rohani. Obrolan pagi ini menjadi jembatan transisi yang sangat mulus dari kekaguman estetika alam menuju kesadaran teologis yang mendalam.

"Ayah, bagaimana caranya kita memastikan bahwa jiwa kita selalu mendapatkan cahaya itu?" tanya Bara dengan nada suara yang sedikit bergetar karena rasa penasaran yang besar.

Sang Ayah tersenyum bijak, memandang putranya dengan penuh kasih sayang. "Pertanyaan yang bagus. Jawabannya ada di sekeliling kita, terpampang nyata di hadapan kita saat ini."

Lihat selengkapnya