Asam Garam Kehidupan

Amrullah Ibrahim
Chapter #4

Bayangan Senja dan Irama Alam

Sore hari merayap perlahan di balik punggung bukit, membawa serta embusan angin sejuk dari arah lembah yang berbisik di antara helai-helai daun jati. Bara melangkah gontai namun pasti, menyusuri jalan setapak tanah merah yang mulai basah oleh embun tipis. Bayangan tubuhnya memanjang di atas tanah, ditarik oleh surutnya cahaya matahari yang perlahan-lahan mulai kehilangan keemasannya. Pukul menunjukkan tepat setengah enam sore, detik-detik krusial di mana siang bertransisi menuju malam di penghujung hari yang melelahkan.

Di ufuk barat, langit membentang dalam gradasi warna yang dramatis—dari semburat jingga terang hingga ungu kehitaman yang mulai merayap naik. Bara menghentikan langkahnya sejenak, membiarkan matanya merekam keindahan senja yang sering kali ia abaikan di tengah kesibukan harian.

"Indah sekali ya, Bar? Kalau dipikir-pikir, waktu berjalan begitu cepat tanpa pernah meminta izin kita," suara Pak Tua Rahmat tiba-tiba memecah kesunyian, muncul dari balik rumpun bambu sambil membawa seikat kayu bakar di pundaknya.

Bara tersenyum tipis, menoleh ke arah lelaki paruh baya yang garis-garis wajahnya terlihat semakin tegas diterpa cahaya temaram. "Benar, Pak. Rasanya baru tadi pagi saya berdiri di batas ladang, tapi sekarang matahari sudah hampir tenggelam."

"Itulah rahasia alam, Nak. Perubahan dari terang ke gelap selalu mengajarkan kita tentang kefanaan," balas Pak Rahmat dengan nada tenang, suaranya berpadu harmonis dengan desau angin sore. "Lihatlah bayangan itu. Semakin sore, ia semakin panjang, lalu akhirnya lebur dalam kegelapan malam. Begitu pula hidup manusia."

Bara mengangguk pelan, meresapi setiap kata yang meluncur dari bibir orang tua itu. Di kejauhan, kawanan burung kuntul terbang beriringan dalam formasi diagonal yang rapi, kembali ke sarang mereka di pucuk-pucuk pohon kelapa. Irama kepakan sayap mereka begitu teratur, seolah mengikuti sebuah partitur tak kasat mata yang telah digariskan semesta.

"Apakah burung-burung itu tidak pernah tersesat, Pak?" tanya Bara penasaran, matanya mengikuti arah terbang kawanan burung tersebut.

"Alam tidak pernah salah jalan, Bara," jawab Pak Rahmat sambil tersenyum bijak. "Keteraturan yang kau saksikan itu bukanlah sebuah kebetulan yang terjadi begitu saja. Semuanya adalah ketetapan yang sangat rapi, diatur oleh Sang Pencipta dengan presisi yang sempurna."

❖ ❖ ❖

Langkah kaki mereka kembali berayun, menyusuri pematang sawah yang mulai basah oleh embun malam. Dalam hati, Bara menanamkan sebuah tujuan yang kuat untuk sore menjelang malam ini. Di tengah berbagai persoalan hidup yang terus berkecamuk di kepalanya—mulai dari ketidakpastian masa depan, beban pikiran keluarga, hingga keraguan yang sering melanda batinnya—ia bertekad menemukan ketenangan batin yang sejati. Ia tidak ingin lagi berlari dari kenyataan atau tenggelam dalam kecemasan yang sia-sia.

"Pak, apa menurut Bapak ketenangan itu bisa dicari?" tanya Bara tiba-tiba, memecah keheningan yang sempat tercipta di antara derit jangkrik yang mulai bersahutan.

Pak Rahmat menghentikan langkahnya, menatap lurus ke mata Bara dengan pandangan yang dalam. "Ketenangan bukan barang hilang yang bisa kau temukan di bawah kolong meja, Bara. Ketenangan adalah buah dari penyerahan diri yang utuh kepada Yang Maha Kuasa."

Bara terdiam, mencerna kalimat itu dalam-dalam. Ia menyadari bahwa selama ini ia terlalu sibuk mengejar kepastian duniawi, mengandalkan logika dan kekuatannya sendiri, hingga melupakan esensi dari kepasrahan itu. Niatnya malam ini sederhana namun mendalam: ia ingin membersihkan hatinya dari segala beban dunia, meredam ego yang sering membakar dada, dan menyandarkan seluruh lelahnya di hadapan Sang Pencipta melalui ibadah yang khusyuk.

"Saya ingin merasakan ketenangan itu, Pak," ucap Bara lirih, hampir seperti bisikan pada angin sore. "Rasanya sudah lama sekali dada saya terasa sesak oleh beban pikiran yang tidak kunjung usai."

"Kalau begitu, niatkan langkahmu sekarang juga," kata Pak Rahmat menepuk bahu Bara pelan. "Sebentar lagi azan Maghrib akan berkumandang. Mari kita tuju surau kecil di ujung desa. Di sanalah tempat terbaik untuk meletakkan segala beban yang kau bawa."

Bara mengangguk mantap. Tujuan utamanya kini sudah sangat jelas: menyucikan diri, merapatkan shaf bersama warga desa, dan bersujud dalam keheningan malam untuk memohon ketenteraman jiwa. Bayangan surau tua beratap rumbia dengan lampu petromak yang menggantung di serasynya mulai tampak dari kejauhan, memancarkan cahaya kekuningan yang hangat di tengah temaramnya senja.

❖ ❖ ❖

Suara azan Maghrib tiba-tiba menggelegar membelah udara senja, dilantunkan dengan suara yang merdu dan bergetar oleh Pak Kades dari pengeras suara surau desa. Getaran suara itu merambat menyusuri lembah, menyapa setiap batang pohon, dan meresap ke dalam relung hati setiap makhluk yang mendengarnya.

Bara merasakan getaran aneh menjalar di seluruh tubuhnya. Suara azan itu seolah menjadi jembatan transisi yang tegas antara kebisingan dunia siang hari dan kekhidmatan malam yang segera tiba. Perubahan suasana terjadi begitu cepat; warna jingga di langit barat perlahan-lahan larut, digantikan oleh selimut malam berwarna biru tua yang bertabur bintang-bintang kejora.

"Dengar itu, Bara," bisik Pak Rahmat sambil mempercepat langkahnya menuju surau. "Panggilan itu adalah pengingat bahwa segala aktivitas dunia harus dihentikan sejenak, demi menyembah Dzat yang telah menghidupkan dan mematikan hari."

"Iya, Pak. Suaranya selalu berhasil membuat bulu kuduk saya merinding," aku Bara jujur, mempercepat langkahnya agar sejajar dengan orang tua itu.

Sesampainya di halaman surau, suasana tampak begitu damai. Beberapa orang warga desa, sebagian besar mengenakan sarung kotak-kotak dan peci hitam, tampak berwudhu di pancuran bambu yang mengalirkan air jernih dari mata air pegunungan. Suara gemercik air yang berpadu dengan desir angin malam menciptakan simfoni alam yang menenangkan jiwa.

Bara ikut mengambil tempat di sebelah pancuran. Ia membasuh wajahnya, merasakan kesegaran air dingin menyapu kepenatan yang melekat di kulitnya sepanjang hari. Setiap tetesan air yang jatuh dari wajahnya seolah membawa pergi debu-debu dosa dan keraguan yang selama ini mengotori hatinya.

"Air wudhu ini bukan sekadar membersihkan kotoran fisik, Nak," ujar salah seorang warga paruh baya yang berdiri di sebelah Bara sambil merapikan pecinya. "Ia mencuci bersih sisa-sisa keduniawian yang melekat di pikiran kita sebelum kita menghadap-Nya."

"Benar sekali, Pak," jawab Bara ramah. "Terima kasih pengingatnya."

Setelah menyempurnakan wudhu, mereka melangkah masuk ke dalam surau yang berlantai kayu jati tua. Bau harum kayu gaharu yang dibakar bercampur dengan aroma karpet masjid yang khas menyambut kedatangan mereka. Suasana di dalam surau begitu tenang, diterangi oleh lampu neon putih yang memantul di dinding-dinding papan kayu.

❖ ❖ ❖

Lihat selengkapnya