Pukul 07.00 WIB. Pagi di awal musim pendaftaran santri baru menyambut langkah kaki Bara Fathan yang kini telah menginjak usia dua belas tahun. Udara lereng bukit terasa begitu segar, membawa serta aroma khas dedaunan basah yang tersiram embun pagi dan harum samar kayu bakar dari dapur-dapur penduduk desa. Semburat cahaya matahari keemasan menerobos celah-celah dedaunan pohon mahoni di sepanjang jalan setapak, menciptakan bayangan panjang yang menari-nari di atas tanah berdebu. Di kejauhan, siluet barisan pegunungan tampak membentang megah, seolah-olah menjadi saksi bisu atas babak baru yang hendak dimulai dalam lembaran hidup seorang anak dusun.
Bara berjalan di samping ayahnya, Amak, menyusuri jalan berbatu yang keluar dari batas desa menuju kompleks Pondok Pesantren Al-Fanan. Di pundaknya, sebuah tas sandang kain usang berisi pakaian seadanya dan sebuah buku catatan tua menggantung erat. Langkah kaki Bara terasa ringan, namun di dalam dadanya bergemuruh perasaan campur aduk antara rasa antusias yang menggebu dan rasa gentar yang sulit disembunyikan.
"Bagaimana, Bara? Kakimu tidak lelah berjalan sejauh ini, kan?" tanya Amak sambil menoleh, tangannya memegang erat sebilah tongkat kayu bambu yang biasa ia pakai mendaki ladang.
"Tidak, Amak. Kakiku justru terasa semakin kuat setiap kali kita mendekati tempat itu," jawab Bara dengan suara tenang, matanya menatap lurus ke depan.
Tidak lama kemudian, di balik tikungan jalan yang dikelilingi pagar tanaman bougenville yang sedang berbunga lebat, tampaklah sebuah bangunan besar dengan arsitektur tradisional bercampur sentuhan modern yang bersahaja. Gerbang utama Pondok Pesantren Al-Fanan berdiri kokoh menyambut setiap pendatang. Pintu gerbangnya terbuat dari kayu jati tua berukir kaligrafi halus di bagian atasnya, memancarkan wibawa yang menenangkan siapa saja yang memandangnya.
"Itulah gerbangnya, Nak," bisik Amak pelan, ada nada kebanggaan sekaligus kelegaan yang terselip di balik suara seraknya.
Bara berhenti sejenak untuk meresapi pemandangan di hadapannya. Kompleks pesantren itu tampak begitu hidup. Puluhan calon santri seusianya bersama orang tua mereka tampak hilir mudik memasuki area halaman utama yang luas. Ada yang datang dengan gerobak sapi, ada pula yang berjalan kaki seperti dirinya. Tempat ini bukan sekadar pusat ilmu agama, melainkan kawah candradimuka tempat jiwa-jiwa muda ditempa menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama. Refleksi waktu pagi ini merepresentasikan sebuah fajar baru bagi masa depan Bara—titik tolak di mana ia akan mulai menyelami samudra keilmuan di bawah asuhan pengasuh pesantren yang kharismatik, Kiai Abidin Fanan.
❖ ❖ ❖
Melangkah melewati gerbang utama Al-Fanan, Bara merasakan perubahan atmosfer yang begitu kontras dengan suasana ladang tempat ia biasa menghabiskan hari-harinya. Suara deburan angin yang bergesekan dengan dedaunan kini berpadu dengan alunan suara santri senior yang melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an dari arah surau pesantren. Di usia dua belas tahun, Bara membawa sebuah tujuan yang jauh lebih besar dibandingkan sekadar menuntut ilmu formal. Ia datang ke tempat ini dengan tekad bulat untuk menemukan jawaban atas teka-teki masa lalu keluarganya, sekaligus menyucikan niat agar ilmunya kelak menjadi jembatan kedamaian bagi sesama manusia.
"Ingatlah, Bara," ucap Amak menghentikan langkahnya di bawah pohon mangga besar yang menaungi halaman pendaftaran. "Kamu datang ke sini bukan untuk mencari pujian atau sekadar kepintaran duniawi. Kiai Abidin selalu berpesan kepada para orang tua santri bahwa ilmu itu bagaikan cahaya. Ia tidak akan masuk ke dalam hati yang penuh dengan kesombongan."
Bara menganggukkan kepalanya dengan khidmat. "Aku ingat, Amak. Aku ingin belajar memahami agama dan alam semesta dengan hati yang bersih, seperti embun yang pernah kulihat di ujung daun talas dulu."
Amak tersenyum, mengusap kepala Bara yang tertutup peci hitam beludru sederhana. "Bagus kalau kamu tidak melupakan pelajaran kecil itu. Sekarang, tujuan utama kita adalah mendaftarkan dirimu ke kantor administrasi pesantren dan menghadap langsung kepada panitia seleksi sebelum waktu dhuha habis."
Di sekitar mereka, suasana pendaftaran tampak ramai namun tetap tertib. Para calon santri duduk berbaris di atas tikar pandan panjang yang digelar di teras gedung utama. Mereka tampak gugup, saling berbisik atau menghafalkan doa-doa pendek yang tertera di buku panduan kecil masing-masing. Bara melangkah mendekati meja pendaftaran bernomor tiga, tempat seorang santri senior berbusana koko putih dan berpeci putih sedang mencatat berkas-berkas pendaftaran.
"Selamat pagi, Pak. Saya ingin mendaftarkan anak saya, Bara Fathan, dari dusun lereng timur," ujar Amak sopan sambil menyerahkan amplop cokelat berisi surat keterangan lulus madrasah diniyah desa kepada santri senior tersebut.
Santri senior itu mendongak, tersenyum ramah menyambut kedatangan mereka. "Ah, selamat datang di Al-Fanan, Pak. Silakan duduk terlebih dahulu. Mari kita periksa berkasnya, Adik Bara."
Bara duduk di bangku kayu panjang di samping ayahnya. Ia memperhatikan bagaimana santri senior itu memeriksa setiap lembar kertas dengan teliti. Di dalam hatinya, sebuah target tertanam kuat: ia harus bisa melewati seluruh tahapan seleksi tes lisan maupun tulisan hari ini dengan hasil terbaik. Ia ingin membuat kedua orang tuanya bangga, sekaligus membuktikan bahwa anak dusun sepertinya memiliki ketekunan yang tidak kalah dari anak-anak kota yang datang membawa fasilitas serba ada.
❖ ❖ ❖
Proses administrasi pendaftaran berjalan lancar tanpa hambatan berarti. Setelah berkas dinyatakan lengkap, Bara mendapatkan selembar kartu nomor ujian berwarna hijau muda bertuliskan angka 042. Ia diminta untuk segera bergegas menuju aula serbaguna pesantren di bagian belakang kompleks untuk mengikuti tahap tes lisan dasar mengenai baca tulis Al-Qur'an dan pemahaman keislaman mendasar.
"Pergilah ke sana, Nak. Abah akan menunggu di sini bersama para wali santri lainnya," kata Amak sambil menepuk pelan bahu Bara.
"Baik, Amak doakan aku ya," balas Bara, lalu melangkah meninggalkan area pendaftaran utama menuju arah aula yang ditunjukkan.
Transisi dari hiruk-pikuk halaman depan menuju keheningan di sekitar aula serbaguna menghadirkan suasana yang berbeda. Gedung aula tersebut berdinding kayu jati tua dengan jendela-jendela besar terbuka lebar, membiarkan angin pagi berhembus leluasa mendinginkan ruangan. Di dalam ruangan yang luas itu, beberapa meja penguji telah disiapkan. Para penguji tampak mengenakan jubah putih bersih dan sorban melingkar rapi di kepala mereka, memancarkan wibawa keilmuan yang membuat bulu kuduk merinding.
Bara mengambil tempat duduk di kursi antrean nomor tiga. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba meredupkan debar jantungnya yang kian kencang. Di kursi sebelah kanannya, seorang anak sebayanya berambut rapi dan mengenakan pakaian serba baru tampak gelisah, menggigit kuku jempolnya sambil terus membaca buku catatan tebal di pangkuannya.
"Kamu gugup juga?" bisik anak berambut rapi itu tiba-tiba kepada Bara.
Bara menoleh, tersenyum kecil. "Sedikit. Rasanya seperti mau menghadapi ujian hidup yang sesungguhnya."
"Namaku Dimas," kata anak itu memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangan. "Aku dari kota kabupaten. Ibuku memaksa aku masuk pesantren supaya aku tidak kebanyakan main game online di rumah."
Bara menyambut uluran tangan Dimas dengan hangat. "Aku Bara, dari dusun lereng bukit. Senang berkenalan denganmu, Dimas."
"Wah, dari desa ya? Pasti sudah jago ngaji dong. Kalau aku sih jujur saja masih pas-pasan," keluh Dimas dengan nada jujur yang mencairkan ketegangan di antara mereka berdua.
"Kita sama-sama belajar di sini, Dimas. Kiai Abidin bilang ilmu itu dicari, bukan ditunggu," balas Bara menenangkan temannya itu.
Percakapan singkat tersebut menjadi jembatan mental yang sangat penting bagi Bara. Transisi dari rasa cemas seorang diri menuju interaksi sosial sesama calon santri membantunya melepaskan ketegangan psikologis. Tidak lama kemudian, suara pengeras suara kecil memanggil nomor antrean 040, menandakan giliran Dimas sebentar lagi akan tiba, disusul kemudian oleh nomor antrean Bara.
❖ ❖ ❖
Giliran Bara akhirnya tiba. Suara petugas memanggil nomor ujiannya dengan jelas ke dalam ruangan aula. Dengan langkah pasti namun penuh kehati-hatian, Bara berdiri dari kursi tunggu, merapikan letak peci hitamnya, lalu berjalan mendekati meja penguji nomor dua. Di balik meja tersebut duduk seorang penguji senior berjanggut tipis putih, mengenakan kacamata berbingkai besi tipis dan sorban hijau tua di pundaknya.