Asam Garam Kehidupan

Amrullah Ibrahim
Chapter #7

Pertemuan di Bawah Naungan Kitab Kuning

Pukul 10.00 WIB beranjak merangkak menuju pukul 11.30 WIB. Suasana di kompleks Pesantren Al-Hikmah terasa begitu hidup namun tetap memancarkan ketenangan batin yang khas. Matahari menjelang siang kini telah meninggi, memancarkan sinarnya yang hangat menembus sela-sela dedaunan pohon mangga besar yang menaungi halaman serambi utama perpustakaan pesantren. Bayangan dahan dan ranting memantul indah di atas lantai ubin keramik yang bersih, menciptakan pola remang-remang yang menyejukkan mata di tengah teriknya cuaca hari itu.

Bara duduk bersandar tenang di atas sebuah balai-balai bambu panjang yang ditempatkan di sisi luar serambi perpustakaan terbuka. Angin siang berhembus sepoi-sepoi, membawa serta aroma khas kertas tua dari tumpukan manuskrip dan kitab-kitab klasik di dalam ruangan, berpadu dengan aroma harum bunga melati yang merambat di pagar kayu serambi. Di kejauhan, sayup-sayup terdengar suara santri-santri yang sedang melantunkan hafalan Al-Qur'an dengan nada tartil yang merdu, menciptakan sebuah latar suara spiritual yang menenangkan jiwa siapa saja yang mendengarkannya.

Kedatangan Bara ke pesantren ini sebenarnya menemani sang Ayah yang memiliki agenda penting untuk membicarakan urusan wakaf tanah dan kerja sama pertanian organik dengan pengurus yayasan pesantren. Sejak tiba satu jam yang lalu, sang Ayah langsung diajak masuk ke ruang kerja pengurus utama di gedung sebelah, meninggalkan Bara seorang diri untuk menunggu di serambi perpustakaan terbuka tersebut.

Bara menikmati kesendirian itu dengan mengedarkan pandangannya ke sekeliling kompleks pesantren. Arsitektur bangunan yang memadukan unsur kayu jati klasik dan dinding putih bersih memberikan kesan megah nan bersahaja. Buku-buku tebal beraksara Arab gundul tertata rapi di rak-rak terbuka yang bisa diakses oleh siapa saja. Bagi Bara, tempat ini selalu menghadirkan aura kedamaian yang berbeda dari suasana ladang tempat ia biasa bekerja sehari-hari.

"Tempat ini benar-benar menyimpan ketenangan tersendiri," gumam Bara pelan seraya merapikan lipatan kemeja batiknya.

Di tempat duduknya yang nyaman, ia mulai membuka sebuah catatan kecil di tangannya, meski pikirannya sesekali melayang memikirkan apa yang sedang dibicarakan oleh ayahnya di ruang dalam. Namun, keheningan pagi menjelang siang itu tidak berlangsung lama. Sebuah derap langkah ringan yang mendekat dari arah koridor perpustakaan mengalihkan perhatiannya sepenuhnya.

❖ ❖ ❖

Sambil menunggu ayahnya selesai berbicara dengan pengurus pesantren, Bara sebenarnya memiliki tujuan sederhana: mengisi waktu luang dengan membaca dan menenangkan pikiran setelah perjalanan panjang dari desa. Namun, tanpa ia sadari, semesta seolah sedang merancang skenario lain yang mempertemukannya dengan sesuatu yang jauh lebih bermakna bagi perjalanan hidupnya.

"Hmm, sepertinya aku harus mencari buku referensi pertanian dalam Islam yang pernah diceritakan Ayah tempo hari," batin Bara dalam hati, berniat bangkit dari balai-balai bambu untuk melangkah ke rak perpustakaan.

Sebelum kakinya sempat beranjak, pintu kayu ukir perpustakaan terbuka lebar. Seorang gadis seusia dengannya muncul dari balik pintu, membawa setumpuk kitab kuning berukuran besar dan tebal di kedua tangannya. Beban tumpukan kitab itu tampak cukup berat, membuat gadis tersebut harus berjalan dengan sangat hati-hati agar tidak ada satupun kitab yang terjatuh ke lantai.

Gadis itu adalah Fathia Samaira, putri dari Kiai Abidin, pemimpin pengasuh Pesantren Al-Hikmah. Fathia dikenal di lingkungan pesantren sebagai sosok cerdas yang kerap membantu ayahnya merapikan arsip perpustakaan dan mengelola naskah-naskah klasik. Hari itu, ia mengenakan gamis sederhana berwarna hijau lumut lembut dengan jilbab senada yang menjuntai rapi menutupi dadanya, memancarkan aura kesederhanaan yang anggun dan berwibawa.

Tujuan awal Bara yang tadinya hanya ingin mencari buku seketika bergeser. Melihat seorang gadis kesulitan membawa tumpukan kitab setinggi dagunya, insting sosial dan rasa tanggung jawab moral Bara langsung bergegas mengambil alih. Ia ingin menawarkan bantuan agar beban gadis itu berkurang, sekaligus menunjukkan rasa hormat kepada sesama pengunjung perpustakaan.

"Maaf, biar kubantu membawakan sebagian kitab itu," ucap Bara setengah berdiri, berniat melangkah mendekati Fathia yang tampak mulai kelelahan menahan beban tumpukan kitab di tangannya.

Namun, sebelum Bara sempat melangkah lebih dekat, sebuah insiden kecil mendadak terjadi, mengubah alur pertemuan mereka menjadi sebuah momen yang tak terlupakan. Hembusan angin siang yang tiba-tiba bertiup kencang menerobos masuk ke serambi terbuka, menciptakan pusaran udara kecil yang menyapu permukaan meja baca di dekat pintu.

❖ ❖ ❖

Pusaran angin siang itu datang begitu cepat tanpa diduga. Hembusan kuat tersebut langsung menyambar tumpukan kertas catatan kecil dan lembaran transkrip terjemahan yang berserakan di atas meja kayu di dekat Fathia berdiri.

"Ah!" seru Fathia kaget, berusaha mempertahankan keseimbangan tumpukan kitab di tangannya agar tidak jatuh berantakan ke lantai, sementara beberapa lembar kertas catatan penting miliknya beterbangan lepas ke udara tersapu angin.

Lembaran-lembaran kertas berisikan catatan tangan dengan tinta hitam itu melayang-layang anggun di atas serambi perpustakaan. Transisi dari suasana tenang yang damai seketika berubah menjadi kepanikan kecil yang menuntut kecepatan bertindak. Fathia tampak bingung, antara harus mempertahankan kitab-kitab tebal di dekapannya atau segera mengejar catatan-catatan penting yang terancam melayang keluar serambi dan jatuh ke kolam ikan di halaman bawah.

Melihat situasi tersebut, Bara sama sekali tidak membuang waktu. Jiwa sigapnya langsung merespons dengan cepat. Ia membatalkan niatnya untuk sekadar berdiri, lalu melompat gesit dari balai-balai bambu tempat duduknya tadi.

"Jangan khawatir, biar kukejar!" seru Bara sigap, bergerak cepat mengikuti arah jatuhnya lembaran-lembaran kertas tersebut.

Gerakan Bara begitu terukur. Dengan sigap ia melangkah ke sisi kiri balai-balai, mengulurkan tangannya tinggi-tinggi ke udara untuk menangkap selembar kertas yang hampir tersapu angin ke luar pagar serambi. Satu lembar berhasil ia tangkap di udara, disusul oleh lembaran kedua yang melayang turun mendekati pot bunga di sudut tiang penyangga.

Fathia, yang berhasil meletakkan tumpukan kitabnya dengan selamat di atas meja terdekat, menoleh dengan mata terbelalak kaget bercampur kagum melihat kecepatan dan ketepatan reaksi pemuda asing di hadapannya itu. Napasnya sedikit memburu akibat keterkejutan sesaat, namun senyuman tipis mulai tersungging di bibirnya melihat aksi penyelamatan kertas-kertas catatannya.

"Alhamdulillah, hampir saja catatan riset tafsir itu melayang ke kolam," ucap Fathia dengan nada lega, suaranya terdengar lembut namun jelas di telinga Bara yang baru saja berhasil mengumpulkan seluruh lembaran kertas yang beterbangan.

Bara berbalik menghadap Fathia sambil merapikan lembaran-lembaran kertas catatan tersebut agar kembali tersusun rapi. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat dari biasanya, bukan karena lelah berlari kecil, melainkan karena ia menyadari siapa gadis di hadapannya saat ini.

❖ ❖ ❖

Bara melangkah mendekati meja tempat Fathia berdiri, lalu menyerahkan lembaran-lembaran kertas catatan kecil itu dengan sopan menggunakan kedua tangannya. "Ini catatanmu, Neng. Maaf kalau aku lancang langsung ikut menangkapnya tadi. Anginnya memang cukup kencang tiba-tiba."

Lihat selengkapnya