Sore hari merayap turun dengan keanggunan yang khas di kompleks pesantren, membawa serta semilir angin sejuk yang berembus pelan melewati sela-sela pepohonan mahoni tua. Pukul menunjukkan tepat pukul empat sore, menandakan peralihan waktu dari teriknya siang menuju kelembutan senja. Cahaya matahari mulai melunak, memancarkan rona keemasan yang memantul di permukaan air kolam ikan terletak di halaman belakang pesantren, dekat deretan asrama santri putri. Di tepi kolam yang dikelilingi oleh batu-batu kali berlumut tipis itu, tampak seekor kucing berbulu belang tiga tengah meringkuk malas, menikmati kehangatan sisa hari.
Bara melangkah pelan menyusuri jalan setapak berkonblok, menikmati keheningan yang sesekali dipecah oleh suara gemercik air mancur bambu buatan santri. Langkahnya terhenti ketika ia melihat sesosok gadis berjilbab abu-abu sedang berdiri di tepi kolam, menebarkan segenggam pelet ikan ke dalam air. Riak-riak kecil tercipta seketika, disusul oleh kerumunan ikan mas dan mujair yang berebut makanan dengan cipratan air yang riuh.
"Banyak juga ya ikannya, Fathia? Pantas saja dari kejauhan terdengar suara cipratan yang cukup ramai," sapa Bara ramah begitu ia berdiri beberapa langkah di samping gadis itu, menjaga jarak sopan yang lazim di lingkungan pesantren.
Fathia menoleh, tersenyum simpul sambil meletakkan sisa pelet ke dalam wadah kecil di atas batu datar. "Iya, Bara. Ikan-ikan ini sudah dipelihara sejak santri angkatan sebelum kami. Katanya, suara cipratan air dan gerakan mereka bisa jadi terapi tersendiri untuk meredakan penat setelah seharian menghafal Al-Qur'an."
"Benar juga katamu," balas Bara sambil mengangguk pelan, membiarkan pandangannya menyapu sekeliling. "Tempat ini memang jauh lebih tenang dibanding bagian depan pesantren yang dekat dengan jalan raya desa."
"Pesantren memang sengaja merancang sudut-sudut seperti ini agar para santri punya ruang untuk merenung," ujar Fathia lembut, suaranya berpadu harmonis dengan desau angin sore yang menggoyangkan ujung jilbabnya. "Setiap sudut di sini punya cerita dan pelajarannya sendiri, asalkan kita mau sedikit peka memerhatikannya."
Suasana di sekitar kolam mendadak terasa begitu damai. Aroma tanah basah yang bercampur dengan wangi bunga melati dari kebun kecil di dekat asrama mendefinisikan sore itu dengan sempurna, menciptakan latar tempat dan waktu yang ideal untuk sebuah percakapan yang lebih dalam.
❖ ❖ ❖
Di balik kedatangan Bara ke tepi kolam ikan sore itu, tersimpan sebuah tujuan batin yang ingin ia tuntaskan. Sejak mengikuti kajian tauhid ba'da zuhur tadi bersama Kiai Ilyas, ada satu simpul tebal di dalam kepalanya yang belum sepenuhnya terurai. Konsep tentang takdir dan ikhtiar manusia sering kali berbenturan dengan logika rasionalnya yang terbiasa hidup di kota besar, di mana segala sesuatu diukur dari hasil kerja keras semata. Ia berniat mencari pencerahan, atau setidaknya teman berdiskusi yang sepemikiran untuk meluruskan keraguannya.
"Fathia, bolehkah aku bertanya sesuatu tentang pelajaran tauhid tadi siang?" tanya Bara, menatap lurus ke permukaan air kolam yang kini mulai kembali tenang setelah keributan makan ikan reda.
Fathia melirik sekilas, lalu mengangguk dengan antusias. "Tentu saja, silakan. Bagian mana yang masih membuatmu penasaran, Bara? Jujur saja, materi tadi siang memang cukup mendalam dan butuh perenungan ekstra."
"Tentang takdir," jawab Bara lugas, menyandarkan sebelah tangannya pada pagar bambu pembatas kolam. "Kiai Ilyas tadi menjelaskan bahwa segala sesuatu sudah ditetapkan sejak zaman azali. Tapi di sisi lain, kita juga diperintahkan untuk terus berusaha dan berdoa seolah-olah segalanya ditentukan oleh usaha kita. Bukankah itu terdengar seperti sebuah kontradiksi?"
Fathia tersenyum kecil mendengar pertanyaan itu, seolah ia sudah menduga bahwa hal itulah yang mengganjal di benak pemuda di hadapannya. "Banyak orang yang awalnya melihat itu sebagai kontradiksi, Bara. Padahal, jika kita memahaminya dengan hati yang bersih, takdir dan ikhtiar adalah dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan."
Tujuan Bara untuk mencari kejelasan kini mulai menemukan jalurnya. Ia mencondongkan sedikit tubuhnya, mendengarkan setiap patah kata yang akan diucapkan oleh gadis di sampingnya dengan penuh perhatian, berharap sudut pandang baru mampu meredakan gejolak ketidakpastian yang selama ini mengurung pikirannya.
❖ ❖ ❖
Percakapan ringan di tepi kolam itu perlahan-lahan bergeser menjadi sebuah diskusi yang lebih bermakna, diantar oleh transisi waktu sore yang bergerak semakin cepat. Langit di atas kepala mereka mulai menampakkan gradasi warna yang menakjubkan—dari biru cerah perlahan berubah menjadi semburat jingga keemasan, lalu merambat ke warna merah muda di ufuk barat. Bayangan pohon-pohon kelapa di seberang kolam memanjang di atas permukaan air, menciptakan siluet yang artistik.
Fathia mengambil napas panjang, merangkai kalimat sebelum menjelaskan konsep yang ia pahami. "Coba bayangkan takdir itu sebagai sebuah garis besar skenario yang ditulis oleh sutradara terbaik, yaitu Allah SWT. Peran kita sebagai manusia adalah aktor di dalamnya. Sutradara sudah tahu akhir cerita kita, tapi bagaimana kita membawakan peran itu dengan akting terbaik, itulah ruang ikhtiar kita."
Bara terdiam sejenak, mencerna analogi yang disampaikan Fathia. Udara di sekeliling terasa semakin sejuk seiring dengan turunnya kabut tipis dari arah bukit pesantren. Suara azan Asar yang berkumandang beberapa waktu lalu seolah masih menyisakan getaran ketenangan di udara, menjembatani kesibukan hari menuju keheningan malam yang segera tiba.
"Skenario... ya," gumam Bara pelan, matanya menerawang jauh menembus pantulan langit di air kolam. "Tapi sering kali, sebagai manusia, kita merasa skenario yang diberikan kepada kita terlalu berat untuk dijalani. Kenapa harus ada ujian kegagalan jika sebenarnya kita sudah berusaha maksimal?"
"Karena tanpa ujian, kita tidak akan pernah tahu seberapa kuat potensi yang dititipkan Tuhan di dalam diri kita," jawab Fathia dengan nada suara yang menyejukkan, penuh keyakinan. "Ujian bukan bentuk kemarahan Tuhan, Bara, melainkan cara-Nya menempa kita menjadi pribadi yang lebih matang. Ibarat besi, ia harus dibakar dan ditempa berulang kali agar bisa menjadi pedang yang tajam dan berguna."
Transisi suasana sore itu terasa begitu magis. Tidak ada lagi kecanggungan di antara mereka. Diskusi tentang tauhid yang awalnya terasa kaku dan teoritis, kini berubah menjadi obrolan hati ke hati yang mengalir secara natural di bawah naungan langit senja pesantren.
❖ ❖ ❖