Pukul 05.00 WIB beranjak merangkak menuju pukul 06.30 WIB. Udara pagi di kompleks Pesantren Al-Hikmah masih menyelimuti halaman dengan selimut kabut tipis yang dingin dan menyejukkan. Langit di ufuk timur perlahan-lahan mulai memperlihatkan semburat jingga keemasan, menandakan detik-detik kemunculan sang surya dari peraduannya. Di kejauhan, suara ayam berkokok bersahutan dengan sisa-sisa zikir pagi yang dilantunkan para santri dari bilik-bilik asrama, menciptakan suasana magis yang menenangkan jiwa.
Selesai menunaikan salat subuh berjemaah di masjid utama pesantren, para santri tidak langsung membubarkan diri ke kamar masing-masing. Sebagian dari mereka merapikan sajadah, sementara beberapa santri senior terlihat menyiapkan tikar pandan dan nampan berisi teko kendi tanah liat berisi air hangat di serambi masjid yang luas. Pagi itu, udara terasa begitu bersih, kaya akan oksigen segar yang diembuskan oleh pepohonan rindang di sekitar halaman pesantren.
Bara, yang menginap di guest house pesantren atas undangan khusus Kiai Abidin untuk membahas kelanjutan program pertanian organik, turut serta mengikuti salat subuh berjemaah pagi itu. Mengenakan baju koko putih sederhana dan sarung bermotif garis klasik, ia berjalan tenang keluar dari pintu masjid menuju ke arah serambi terbuka yang menghadap langsung ke arah kebun percobaan pesantren.
"Silakan duduk di sini, Nak Bara," sapa seorang santri senior berpeci hitam ramah sambil menepuk ruang kosong di atas tikar pandan yang terbentang rapi di sudut serambi.
"Terima kasih banyak," balas Bara sambil tersenyum santun dan melipat kedua kakinya untuk bersila dengan nyaman.
Di serambi masjid yang lapang tersebut, angin pagi berembus lembut, membelai wajah setiap orang yang hadir. Cahaya matahari fajar yang mulai naik perlahan-lahan menyapu lantai ubin masjid, menciptakan bias keemasan yang hangat. Suasana pagi yang syahdu ini menjadi latar yang sempurna bagi sebuah majelis ilmu yang intim dan mendalam, jauh dari hiruk-pikuk kebisingan dunia luar.
❖ ❖ ❖
Tujuan utama Bara duduk di serambi masjid pagi ini sebenarnya adalah mencari ketenangan batin dan menyerap kebijaksanaan dari para ulama pesantren, khususnya Kiai Abidin. Sejak pertemuan pertamanya di perpustakaan beberapa waktu lalu, rasa ingin tahunya terhadap keterkaitan antara ilmu agama dan kehidupan alam semesta semakin membuncah. Ia ingin mencari titik temu yang jelas antara teori tasawuf yang diajarkan di pesantren dengan pengalaman empiris yang ia jalani sehari-hari di kebun keluarganya.
Tak lama kemudian, sosok Kiai Abidin Fanan yang berwibawa muncul dari arah pintu dalam masjid. Mengenakan jubah putih bersih dan sorban tersampir rapi di bahunya, beliau melangkah tenang menghampiri lingkaran para santri senior dan Bara. Kehadiran sang kiai langsung disambut dengan takdzim; seluruh yang hadir menundukkan kepala tanda hormat dan mencium tangan beliau secara bergantian ketika Kiai Abidin mengambil tempat duduk di kursi kayu jati tua di tengah serambi.
"Pagi yang penuh berkah, anak-anakku sekalian," ucap Kiai Abidin dengan suara baritonnya yang lembut namun berwibawa, menatap satu per satu wajah para santri dan berhenti sejenak pada Bara. "Semoga fajar hari ini membawa pencerahan bagi hati dan pikiran kita semua."
"Aamiin, Kiai," jawab mereka serempak dengan penuh khidmat.
Kiai Abidin meletakkan sebuah kitab kuning klasik di atas meja kecil di hadapannya, lalu menuangkan sedikit air hangat dari kendi tanah liat ke dalam cangkir kecil. Tujuan beliau mengumpulkan beberapa santri senior dan Bara pagi ini adalah untuk memberikan pengajian rutin pascasubuh khusus mengenai dasar-dasar ilmu tasawuf, dengan fokus pembahasan yang dekat dengan realitas kehidupan sehari-hari.
Bara menegakkan posisi duduknya, memasang telinga baik-baik dan menyiapkan buku catatan kecil di pangkuannya. Ia memiliki tujuan personal yang kuat: ia ingin membuktikan pada dirinya sendiri bahwa dunia pertanian dan dunia spiritual bukanlah dua hal yang terpisah dinding tebal, melainkan satu kesatuan risalah Tuhan yang agung.
"Pagi ini, kita akan mengkaji bab tentang ma'rifatullah melalui ayat-ayat kauniyah," kata Kiai Abidin memulai majelis, membuka lembaran kitab kuning dengan gerakan tangan yang sangat tenang. Bara mengangguk dalam hati; inilah momen yang sudah ia nantikan sejak fajar mulai menyingsing.
❖ ❖ ❖
Majelis ilmu di serambi masjid itu dimulai dengan pembacaan ayat suci Al-Qur'an secara bersama-sama, melantunkan ayat-ayat yang berbicara tentang penciptaan langit, bumi, pergantian malam dan siang, serta tanda-tanda kebesaran bagi orang-orang yang berakal. Suara merdu para santri senior melayang di udara pagi, berpadu dengan desir angin yang menyapu dedaunan pohon mangga di halaman.
Kiai Abidin menutup Al-Qur'an kecil di hadapannya, lalu meletakkannya dengan sangat hati-hati. Transisi dari pembacaan teks suci menuju penjelasan filosofis tasawuf dasar pun dimulai dengan pengantar yang sangat membumi.
"Anak-anakku, dan khususnya Nak Bara yang datang dari ladang subur di lereng bukit," ucap Kiai Abidin sambil tersenyum ramah menatap Bara. "Banyak orang mengira bahwa tasawuf itu hanya urusan ibadah ritual di dalam kamar gelap atau zikir di gua-gua sunyi. Padahal, tasawuf yang sejati adalah kesadaran rohaniah yang hidup di tengah kesibukan dunia."
Bara menyimak setiap untaian kalimat sang kiai dengan seksama, merasa seolah-olah perkataan itu ditujukan langsung untuk menjawab pergulatan batinnya selama ini.
"Allah SWT menciptakan dua kitab bagi hamba-hamba-Nya," lanjut Kiai Abidin sambil merentangkan kedua tangannya. "Pertama adalah kitab qauliyah, yaitu ayat-ayat tertulis di dalam Al-Qur'an yang kita baca setiap hari. Kedua adalah kitab kauniyah, yaitu ayat-ayat tersirat yang terbentang luas di alam semesta—mulai dari tetesan embun di pagi hari, pertumbuhan tunas tanaman, hingga perputaran musim di ladang kalian."
Mendengar penjelasan tersebut, Bara merasakan gelombang transisi pemikiran yang luar biasa di dalam benaknya. Konsep tentang "kitab kauniyah" yang dijelaskan oleh Kiai Abidin terasa sangat hidup, persis seperti apa yang pernah ia diskusikan dengan ayahnya di kebun kopi tempo hari. Jembatan antara ilmu teoretis di pesantren dan pengalaman empiris di desa kini terhubung dengan begitu sempurna di dalam kesadarannya.
"Membaca kitab kauniyah tidak cukup hanya dengan mata kepala, Nak Bara," sambung Kiai Abidin seolah membaca apa yang sedang bergolak di dalam pikiran pemuda itu. "Ia memerlukan mata hati, bashirah, agar setiap ciptaan yang kita lihat tidak berhenti sebagai benda mati, melainkan menjadi jembatan pengenal kita kepada Sang Pencipta."
Suasana serambi masjid mendadak terasa begitu hening. Para santri senior mendengarkan dengan penuh penghayatan, sementara Bara merasa lembaran-lembaran pengalaman kerjanya di ladang kini mendapatkan legitimasi spiritual yang kokoh dari seorang ulama besar.