Asam Garam Kehidupan

Amrullah Ibrahim
Chapter #13

Panasnya Siang dan Keteguhan Akar

Suara bel istirahat berdentang nyaring memecah keheningan ruang kelas Madrasah Diniyah Pesantren Al-Hidayah, menandakan pukul 11.30 WIB telah tiba. Seketika itu juga, suasana kelas yang tadinya penuh dengan suara dengungan hafalan bait-bait Alfiyah berangsur riuh. Puluhan santri berhamburan keluar ruangan, mencari tempat berteduh dari amukan sengatan matahari siang yang membakar halaman utama pesantren. Ubin-ubin keramik di selasar memantulkan cahaya putih yang menyilaukan mata, membuat siapa saja yang melangkah keluar harus menyipitkan pandangan.

Bara melangkah keluar dari barisan paling belakang kelas nahwu-sharaf, membawa setumpuk kitab kuning tipis dan sebuah buku catatan yang penuh dengan coretan tinta hitam. Keringat sudah membasahi punggung bajunya, sementara tenggorokannya terasa kering akibat udara panas yang memuai di dalam kelas berdinding tembok putih tersebut. Di sekelilingnya, para santri berlarian kecil menuju asrama atau kantin pondok untuk menghindari teriknya cuaca yang kian menjadi-jadi menjelang siang bolong.

"Panas sekali hari ini, Mas Bara. Kepala rasanya mau pecah setelah tadi memikirkan rumus i'rab yang rumit," keluh Farhan, santri senior yang berjalan di sebelah Bara sambil mengibaskan peci hitamnya ke arah wajah.

Bara tersenyum tipis, merapikan letak kitab di dekapannya. "Iya, Farhan. Rasanya luar biasa. Di luar kelas matahari seperti menusuk kulit, di dalam kelas kepala dipaksa memeras otak memahami aturan tata bahasa yang tidak ada habisnya."

"Itulah indahnya mondok, Mas. Kalau tidak tahan panasnya siang dan rumitnya ilmu, kita tidak akan pernah matang," balas Farhan tertawa renyah, sebelum akhirnya pamit berlari kecil menuju kamarnya untuk mengambil peralatan salat zuhur yang sebentar lagi akan berkumandang.

Bara tidak langsung mengikuti langkah Farhan. Ia berdiri sejenak di tepi selasar, memperhatikan hamparan halaman pesantren yang tampak lengang karena terik matahari yang berada tepat di atas kepala. Di tengah hamparan tanah lapang tersebut, bayangan benda-benda mengecil, seolah bumi sedang ditarik ke dalam pusat gravitasi yang sunyi dan menyengat. Ia tahu ia butuh tempat untuk mendinginkan kepala sebelum azan zuhur berkumandang, dan matanya langsung tertuju pada satu sudut halaman yang menawarkan keteduhan abadi.

❖ ❖ ❖

Bara melangkah menyeberangi selasar panas menuju sudut barat halaman pesantren, tempat di mana sebuah pohon ketapang berukuran raksasa berdiri kokoh. Tajuk daunnya yang lebat dan bertingkat-tingkat menciptakan kubah bayangan yang luas di atas tanah berumput liar. Tujuan Bara datang ke tempat itu sederhana: ia ingin mencari ketenangan batin, melepas penat dari kerumitan materi nahwu-sharaf yang baru saja diajarkan, serta merenungkan kembali tujuan hidupnya di pesantren ini.

Sesampainya di bawah naungan pohon ketapang tersebut, Bara langsung menjatuhkan diri duduk bersila di atas akar pohon yang menonjol keluar dari permukaan tanah. Ia mendesah lega, membiarkan punggungnya bersandar pada batang pohon yang besar dan kokoh. Hawa sejuk mikroklimat di bawah tajuk ketapang itu langsung menyambut kulitnya, kontras dengan panas luar biasa yang baru saja ia tinggalkan di tengah halaman.

"Ah... jauh lebih baik," gumam Bara pelan, membuka tas kecilnya dan mengeluarkan botol air minum untuk membasahi tenggorokannya yang kering.

Di dekatnya, beberapa santri lain juga tampak memanfaatkan tempat yang sama untuk beristirahat sambil menghafalkan kosakata bahasa Arab. Namun Bara memilih mengambil jarak sedikit agar ia bisa berpikir jernih tanpa gangguan suara berisik. Ia meletakkan kitab nahwu-sharafnya di atas pangkuan, membuka halaman yang penuh dengan catatan rumus wazan dan bina'.

"Kenapa rasanya sulit sekali menyatukan teori bahasa ini dengan kenyataan hidupku ya?" bisik Bara pada dirinya sendiri, menatap lembaran kertas yang penuh coretan pena.

Tujuan utamanya hari ini adalah mencari titik temu. Ia merasa otaknya sudah hampir meledak karena harus menghafal puluhan bentuk perubahan kata kerja dari akar kata yang sama, sementara di dalam hatinya, gejolak masa lalu dari kota besar masih sering mengusik ketenangannya. Ia ingin menjadikan tempat sunyi di bawah pohon ketapang ini sebagai ruang refleksi pribadi—sebuah tempat di mana ia bisa menjembatani antara kerumitan ilmu yang dipelajarinya dengan kekalutan jiwa yang tengah ia tata ulang.

❖ ❖ ❖

Waktu bergeser perlahan jarum jam menunjuk pukul 12.15 WIB. Azan zuhur baru saja berkumandang merdu dari menara musala pesantren, menghentikan sejenak aktivitas para santri yang kemudian berbondong-bondong mengambil air wudu. Bara ikut bangkit, menunaikan kewajiban salat berjemaah dengan khusyuk di barisan belakang musala bersama ratusan santri lainnya. Suasana salat yang tenang sedikit banyak berhasil meredam sisa-sisa kegelisahan di dalam dadanya.

Begitu rangkaian salat dan zikir bakda zuhur selesai pada pukul 12.50 WIB, sebagian besar santri kembali ke kamar untuk istirahat siang. Namun, alih-alih ikut masuk ke dalam kamar asrama yang pengap, Bara justru kembali melangkah keluar dan duduk di tempat semulanya—di bawah naungan pohon ketapang besar di sudut halaman pesantren. Pukul 13.00 WIB, terik matahari siang sedang berada di titik terganasnya.

Duduk seorang diri di tempat itu, Bara mendongakkan kepalanya ke atas. Ia mengamati bagaimana dedaunan pohon ketapang yang lebar itu bereaksi terhadap sengatan panas yang luar biasa. Sebagian besar daun-daun tersebut tampak sedikit merunduk ke bawah, melipat tepi-tepinya sedemikian rupa untuk mengurangi luas permukaan yang terpapar langsung oleh cahaya matahari.

"Menarik sekali..." gumam Bara takjub, memperhatikan gerakan alami daun-daun tersebut.

Ia teringat penjelasan guru biologi di sekolahnya dulu, dan kini dikaitkan dengan apa yang ia pelajari dari alam pesantren: itu adalah bentuk pertahanan diri tumbuhan untuk mengurangi tingkat penguapan air di musim kemarau atau di tengah hari yang sangat terik. Pohon tidak melawan sengatan matahari dengan cara membentangkan daunnya lebar-lebar hingga kering, melainkan dengan cara menyesuaikan diri, merunduk, dan melindungi inti kehidupannya di dalam batang serta akar yang menghunjam ke dalam tanah.

Bara menundukkan pandangannya kembali ke kitab nahwu-sharaf yang masih terbuka di pangkuannya. Tiba-tiba, sebuah koneksi logis yang luar biasa melintas di dalam kepalanya. Ia melihat ada kesamaan yang sangat erat antara mekanisme pertahanan pohon ketapang itu dengan kerumitan aturan tata bahasa Arab yang baru saja dipelajarinya pagi tadi.

❖ ❖ ❖

Namun, pemahaman itu tidak datang begitu saja tanpa hambatan mental yang melelahkan. Sesaat setelah merenungkan kaitan antara alam dan tata bahasa, rasa pening kembali menyerang kepala Bara. Pukul 13.15 WIB, suhu udara di luar bayangan pohon terasa semakin membakar. Keringat kembali mengalir di pelipisnya, membuat konsentrasinya buyar.

Rintangan terbesar yang dihadapi Bara saat itu adalah rasa frustrasi akademis yang sering kali melanda santri baru. Ia merasa bahwa aturan-aturan dalam ilmu nahwu dan sharaf terlalu kaku, penuh dengan pengecualian (istitsna'), perubahan harakat yang membingungkan, serta rumus-rumus abstrak yang sulit dicerna oleh akalnya yang terbiasa berpikir praktis di dunia modern kota besar.

"Kenapa harus ada begitu banyak aturan perubahan kata hanya untuk satu akar huruf dasar?" keluh Bara pelan, menutup kitabnya setengah kesal sambil memijat pelipisnya yang berdenyut-denyut.

Lihat selengkapnya