Suara azan zuhur yang menggema dari pengeras suara musala pesantren baru saja mereda, meninggalkan keheningan sesaat sebelum kompleks asrama kembali berdenyut dengan aktivitas siang hari. Pukul 13.00 WIB. Matahari di atas kubah langit Karangtengah seolah bertindak sebagai raksasa pemanas yang membakar permukaan bumi tanpa ampun. Ubin-ubin putih di selasar aula memantulkan cahaya putih menyilaukan, dan udara di luar terasa begitu padat, seolah oksigen ikut memuai bersama naiknya suhu harian yang menyengat kulit.
Bara melangkah keluar dari serambi musala setelah selesai menunaikan salat berjemaah bersama ratusan santri lainnya. Ia melepas kaus kakinya, lalu menenteng sandal jepit dengan langkah santai namun waspada terhadap panas ubin. Di sekelilingnya, suasana pesantren tampak kontras; sebagian santri bergegas kembali ke kamar untuk menghindari terik, sementara kelompok kecil lainnya masih berkumpul di bawah naungan pohon-pohon besar, bersiap melanjutkan diskusi kelompok mingguan yang diwajibkan oleh pengurus pondok.
"Wah, hari ini panasnya benar-benar luar biasa, Mas Bara. Kepala rasanya mau mendidih," sapa Farhan, santri senior yang berjalan di samping Bara sambil mengibaskan peci hitamnya ke arah wajah.
Bara tersenyum tipis, mengusap pelipisnya yang basah oleh keringat. "Iya, Farhan. Rasanya seperti dipanggang di atas wajan besi. Tapi justru di sinilah ujian kesabaran yang sebenarnya diuji, bukan?"
"Betul sekali," jawab Farhan tertawa kecil. "Apalagi kalau ditambah emosi yang ikut naik gara-gara urusan diskusi kelompok tadi. Bisa-bisa suasana makin panas."
Bara mengernyitkan dahi. "Memangnya ada apa dengan kelompok diskusi tadi?"
"Ah, itu... anak-anak kelas satu sedang bersitegang di ruang serbaguna. Salah paham soal pembagian tugas risalah bahasa Arab. Kalau tidak segera dilerai, bisa berujung adu mulut," jelas Farhan dengan nada sedikit khawatir.
Bara terdiam sejenak. Ia meresapi tiupan angin panas yang sesekali lewat, membawa serta aroma debu ladang dan daun kering. Di tengah terik siang yang membakar emosi tersebut, sebuah niat tiba-tiba muncul di benaknya untuk melihat langsung situasi di ruang serbaguna.
❖ ❖ ❖
Langkah kaki Bara dan Farhan berbelok menuju gedung serbaguna berlantai dua yang terletak di sisi timur kompleks pesantren. Tujuan Bara ke sana bukan sekadar mencari tontonan, melainkan sebuah dorongan batin yang kuat untuk menguji seberapa jauh ketenangan jiwa yang telah ia pelajari dari alam dapat diterapkan dalam menyelesaikan masalah nyata di sekitarnya. Selama berminggu-minggu merenung di bawah rindangnya pohon beringin dan ketapang, ia belajar bahwa manusia yang kuat bukanlah mereka yang membalas amarah dengan amarah, melainkan mereka yang mampu menjadi akar penenang di tengah badai emosi.
Begitu tiba di ambang pintu ruang serbaguna yang terbuka lebar, suara riuh rendah langsung menyambut pendengaran mereka. Di dalam ruangan bercat hijau pudar itu, sekitar belasan santri baru tampak berdiri membentuk lingkaran tegang. Dua orang santri berdiri saling berhadap-hadapan dengan dada membusung dan napas memburu, sementara rekan-rekan mereka berusaha menarik tangan keduanya agar tidak terjadi kontak fisik.
"Kamu jangan asal tuduh ya! Aku sudah kerjakan bagian bab nahwu sesuai jadwal, kenapa kamu bilang aku numpang nama?!" bentak seorang santri berkaus hijau muda dengan suara bergetar karena emosi.
"Alasan! Bukktinya halaman terjemahan kitabmu masih kosong saat dikumpul tadi pagi! Jangan coba-coba lempar tanggung jawab!" balas santri di hadapannya dengan nada tidak kalah tinggi, wajahnya memerah padam menahan amarah di bawah teriknya udara siang yang pengap.
Bara berdiri tenang di dekat pintu, memperhatikan dinamika pertengkaran kecil itu secara seksama. Ia melihat bagaimana suhu udara siang hari yang membakar seolah merasuk ke dalam kepala para remaja itu, membuat emosi yang semestinya bisa diredam justru meledak-ledak tanpa kontrol.
"Mas Bara, sebaiknya kita panggil pengurus asrama saja untuk melerai mereka," bisik Farhan cemas di sebelah Bara.
Bara menggeleng pelan. Ia menatap Farhan dengan sorot mata yang tenang dan meyakinkan. "Jangan dulu, Farhan. Kalau kita libatkan pengurus formal sekarang, harga diri mereka di hadapan teman-teman sekelompoknya akan jatuh. Biar aku coba dekati mereka dengan cara lain."
Tujuan Bara saat itu sangat jelas: ia ingin menggunakan intuisinya untuk membaca akar permasalahan yang sebenarnya, meredam api kemarahan tanpa memihak siapa pun secara subjektif, dan mengembalikan akal sehat kelompok tersebut ke jalur yang benar.
❖ ❖ ❖
Waktu menunjukkan pukul 13.25 WIB. Suasana di dalam ruang serbaguna semakin terasa pengap karena sirkulasi udara yang kurang baik di tengah teriknya siang hari. Bara melangkah masuk secara perlahan ke tengah-tengah lingkaran yang bersitegang itu. Kehadirannya yang tenang, tanpa suara bentakan atau gestur menggurui, secara ajaib berhasil menarik perhatian sebagian santri yang tadinya sibuk berteriak.
"Maaf mengganggu diskusi kalian," ucap Bara dengan nada suara yang rendah, tenang, namun jelas terdengar di seluruh ruangan.
Kedua santri yang sedang bersitegang itu menoleh secara bersamaan. Napas mereka masih memburu, namun ketegangan di wajah mereka sedikit mengendur ketika melihat Bara—santri senior baru yang dikenal bijak dan tenang—berdiri di hadapan mereka.
"Mas Bara... anak ini tidak mau jujur soal tugas kelompok!" adu santri berkaus hijau dengan nada masih bernada tinggi namun mulai menurun intensitasnya.
"Aku dengar keluhan kalian berdua," balas Bara lembut sambil melangkah mendekat, lalu duduk bersila di atas lantai keramik tepat di tengah-tengah lingkaran mereka. "Tapi coba kalian pikirkan baik-baik. Apakah dengan berteriak dan saling menuduh di siang bolong yang panas ini, tugas risalah kalian akan selesai dengan sendirinya?"
Suasana di dalam ruangan mendadak sunyi senyap. Tidak ada yang berani menjawab. Para santri lain saling berpandangan, menyadari betapa kekanak-kanakan tindakan mereka di hadapan seorang senior yang berbicara dengan kepala dingin.