Asam Garam Kehidupan

Amrullah Ibrahim
Chapter #41

Senja Sastra dan Kelembutan Seni

Pukul 16.30 WIB. Sore hari di akhir musim kemarau menghadirkan ketenangan yang luar biasa di kompleks Pondok Pesantren Al-Fanan. Semburat cahaya matahari sore perlahan-lahan meredup, memancarkan warna jingga keemasan yang hangat dan lembut ke seluruh sudut halaman pesantren. Di beranda perpustakaan lama yang dikelilingi oleh pilar-pilar kayu jati tua dan tanaman hias melati air, udara terasa sejuk, membawa aroma harum khas kertas manuskrip kuno yang berpadu dengan wewangian bunga di taman. Suasana di sekitar beranda begitu sunyi, jauh dari hiruk-pikuk aktivitas para santri yang biasanya memenuhi lapangan utama.

Bara Fathan duduk seorang diri di kursi kayu panjang di sudut beranda. Mengenakan kemeja koko putih bersih yang lengannya dilipat sebatas siku dan peci hitam yang sedikit miring, ia tampak begitu khusyuk. Di hadapannya tersaji sebuah botol tinta hitam cair, sebilah pena bambu berujung runcing, dan selembar kertas tebal bertekstur halus. Tangan kanannya bergerak perlahan, menggoreskan ujung pena dengan penuh perhitungan, merangkai garis-garis huruf Arab menjadi bentuk kaligrafi yang indah dan sarat makna.

"Menulis kaligrafi di sore hari ternyata memiliki ketenangannya sendiri ya, Bara," sebuah suara lembut memecah keheningan beranda perpustakaan.

Bara mengangkat kepalanya perlahan, menghentikan goresan penanya, lalu tersenyum ramah ke arah Fathia Samaira yang berdiri beberapa langkah di sampingnya. Fathia mengenakan jilbab abu-abu muda sederhana, membawa setumpuk buku referensi sejarah di tangannya, baru saja selesai bertugas merapikan arsip perpustakaan.

"Ah, Fathia. Silakan kemari," sambut Bara dengan suara rendah yang menenangkan. "Sore ini angin lembahnya bertiup begitu bersahabat, membuat pikiran terasa lebih jernih untuk merangkai kata."

Refleksi waktu sore hari yang tenang ini menampilkan sisi lain yang jarang terlihat dari diri seorang Bara Fathan. Di balik ketangguhannya sebagai seorang pemuda yang menguasai jurus-jurus silat tradisional dan memimpin kedisiplinan santri, Bara ternyata menyimpan jiwa seni yang sangat halus, puitis, dan peka terhadap keindahan ciptaan Allah. Waktu sore menjelang senja di beranda perpustakaan itu menjadi saksi bisu bagaimana kelembutan sastra mampu menyeimbangkan gemblengan fisik yang keras.

❖ ❖ ❖

Fathia melangkah mendekat, meletakkan setumpuk buku di atas meja kayu di dekat Bara, lalu menunduk untuk mengamati goresan tinta hitam di atas kertas putih tersebut. Alisnya terangkat kagum melihat keindahan bait-bait sajak religius dan kaligrafi khat Naskhi yang terpampang nyata di hadapannya.

"Ini indah sekali, Bara," puji Fathia tulus. "Bait-bait sajak tentang embun pagi dan kesabaran air sungai... apa ini rangkuman dari semua perjalanan yang sudah kamu lalui selama di pesantren?"

Bara meletakkan pena bambunya di atas meja, bersandar sejenak pada punggung kursi kayu sambil menatap hamparan langit senja yang mulai menguning di ufuk barat. "Bisa dibilang begitu, Fathia. Selama ini kita terlalu sibuk berlatih fisik, menghadapi konflik dusun, dan memikirkan teka-teki masa lalu yang rumit. Terkadang, jiwa kita butuh jeda untuk merenungkan makna hidup melalui seni dan sastra."

Tujuan Bara menyempatkan diri menulis di sela-sela kesibukannya sore ini bukan sekadar mengisi waktu luang atau menghasilkan karya estetis. Ia memiliki tujuan batin yang lebih dalam: ia ingin menyalurkan segala gejolak pikiran, rasa syukur, dan kerinduan spiritualnya ke dalam bentuk tulisan yang abadi. Baginya, sastra religius dan kaligrafi adalah media komunikasi yang paling jujur antara hati seorang hamba dengan Sang Pencipta alam semesta.

"Kudengar dari Ustadz Haris bahwa kamu belakangan ini sering menghabiskan waktu malam untuk merenung di kamar setelah urusan musyawarah warga selesai," lanjut Fathia, matanya menatap lekat wajah Bara dengan sorot penuh perhatian. "Apakah beban pemikiran tentang masa depan dusun dan pesantren tua di puncak bukit itu masih terlalu berat untuk kamu pikul sendirian?"

Bara tersenyum tipis, menggelengkan kepalanya perlahan. "Beban itu memang berat, Fathia. Tapi sastra mengajarkan kepadaku bahwa sekeras apapun batu karang di dasar sungai, ia pasti akan terkikis oleh kelembutan air yang mengalir terus-menerus. Tujuanku menulis hari ini adalah mengingatkan diriku sendiri agar tidak kehilangan kelembutan hati di tengah kerasnya dunia luar."

Fathia menganggukkan kepalanya perlahan, meresapi setiap kata yang diucapkan pemuda di hadapannya. Ia menyadari betapa matangnya pemikiran Bara di usianya yang menginjak akhir remaja menuju dewasa penuh.

❖ ❖ ❖

Cahaya matahari sore semakin meredup, mengubah warna langit di atas perbukitan dari jingga keemasan menjadi lembayung senja yang anggun. Suara deburan angin lembah yang bergesekan dengan rumpun bambu di belakang perpustakaan menciptakan irama alami yang menenangkan, mengiringi keheningan di antara Bara dan Fathia yang duduk berdampingan di beranda.

"Bolehkah aku membaca bait terakhir yang baru saja kamu tulis itu?" tanya Fathia menunjuk selembar kertas dengan ujung jarinya yang berbalut kain lengan gamis.

"Silakan, Fathia. Tulisannya masih basah, jadi berhati-hatilah," jawab Bara mempersilakan sambil menggeser kertas tersebut sedikit mendekat.

Fathia membaca baris demi baris sajak religius yang ditulis dengan goresan pena yang sangat rapi:

"Sajak ini... sangat dalam maknanya," bisik Fathia dengan nada bergetar tertahan. "Seolah-olah mewakili seluruh perjalanan batin para santri yang menuntut ilmu di pesantren ini."

Transisi dari suasana diskusi filosofis menuju keheningan senja yang magis menghadirkan kedekatan batin yang suci di antara mereka berdua. Di bawah temaram cahaya lampu gantung beranda perpustakaan yang mulai dinyalakan oleh petugas jaga, batas antara kesibukan dunia luar dan ketenangan spiritual pesantren seolah melebur. Bara merenungkan bagaimana waktu sore hari ini mampu meredakan ketegangan yang sempat menghantuinya setelah menerima surat ancaman di makam leluhur beberapa waktu lalu.

"Seni dan sastra adalah cara kita merawat kemanusiaan kita, Fathia," ucap Bara memecah keheningan transisi sore tersebut. "Di tengah dunia yang bergerak serba cepat dan penuh ambisi materi, kelembutan seni mengingatkan kita bahwa manusia diciptakan dengan hati yang mampu merasakan keindahan."

Fathia mengalihkan pandangannya dari kertas tulisan ke arah wajah Bara, sorot matanya menyiratkan rasa kagum dan hormat yang mendalam. "Kamu benar, Bara. Semoga kelembutan itu tidak pernah hilang dari dirimu, bahkan ketika kamu nanti harus menghadapi badai yang paling besar di luar sana."

Lihat selengkapnya