Asam Garam Kehidupan

Amrullah Ibrahim
Chapter #54

Dini Hari di Batas Kesabaran

Malam mencengkeram bumi dengan kepekatan yang amat mencekam, menelan bayangan pepohonan di tepi lembah dan menyelimuti sudut-sudut desa dalam kesunyian yang terasa begitu berat. Pukul menunjukkan tepat pukul tiga dini hari, saat sepertiga malam terakhir membentang dalam dekapannya yang paling sunyi dan dingin. Udara pegunungan meresap tajam hingga ke tulang, membawa serta embusan angin dini hari yang berdesir pelan di celah-celah dinding kayu bilik asrama darurat.

Di dalam ruangan yang hanya diterangi oleh temaram lampu minyak kecil, Bara duduk seorang diri di atas sajadah usang berwarna hijau pudar. Tidak ada suara lain yang menemani selain detak jam dinding yang berdetak lambat dan suara napasnya sendiri yang terdengar berat. Wajahnya tampak letih, bukan karena lelah fisik semata, melainkan oleh beban batin yang teramat dalam akibat badai fitnah yang mendadak menghantam hidupnya dari orang-orang yang selama ini ia bela dengan segenap jiwa raga.

"Ya Allah... betapa beratnya ujian ini," bisik Bara lirih, suaranya bergetar hebat di tengah keheningan malam, mencerminkan kerapuhan jiwa yang nyaris runtuh di batas kesabarannya.

Beberapa jam lalu, desas-desus keji berhembus kencang di desa; ia dituduh memanfaatkan situasi kerusuhan kemarin demi keuntungan pribadi dan dituding bersekongkol dengan kelompok perusak luar. Fitnah itu menyebar begitu cepat bagaikan api dalam sekam, menghancurkan kepercayaan yang telah ia bangun dengan peluh dan air mata selama berbulan-bulan di tanah pesantren.

Pintu bilik yang tertutup rapat tidak mampu menahan gemuruh perasaan di dalam dadanya. Suasana dini hari itu menjadi saksi bisu dari titik nadir seorang manusia yang merasa terasing di tempat yang ia anggap sebagai rumah keduanya sendiri.

❖ ❖ ❖

Bara merunduk dalam, menempelkan dahinya ke atas lantai kayu yang dingin, membiarkan butiran air matanya tumpah membasahi kain sajadah. Di tengah kepedihan yang meremukkan hatinya, ia menetapkan satu tujuan mulia yang menjadi satu-satunya pegangan hidupnya malam ini: ia ingin mencurahkan seluruh rasa sakit, kekecewaan, dan kepedihan hatinya hanya kepada Sang Pencipta melalui sujud yang panjang dan khusyuk.

"Aku tidak butuh pembelaan di hadapan manusia jika Engkau tahu kebenarannya, ya Allah," rintih Bara dalam munajat sunyinya, memohon agar diberikan keteguhan hati yang tidak mudah goyah oleh lidah-lidah tajam yang memfitnahnya.

Tujuannya bukanlah mencari kambing hitam atau melampiaskan amarah kepada warga desa yang telah termakan hasutan dusta. Ia sadar betul bahwa badai asam garam kehidupan baru saja menunjukkan sisi terkelamnya—di mana orang yang menolong terkadang justru menjadi orang yang paling pertama ditikam oleh kecurigaan.

"Bimbing aku agar tidak terjerumus dalam dendam," doa Bara dengan suara yang semakin tercekat di tenggorokan.

Ia ingin mengubah rasa sakit akibat fitnah tersebut menjadi bahan bakar untuk menempa kesabaran tingkat tinggi. Selama bertahun-tahun ia belajar ilmu silat, tasawuf alam, dan tata krama sosial, namun ujian malam ini adalah ujian kesabaran yang paling sejati: berdiri tegak di atas reruntuhan kepercayaan tanpa kehilangan kendali diri.

❖ ❖ ❖

Waktu terus merayap perlahan menuju pukul setengah empat dini hari. Gerakan sujud Bara berlangsung lama, seolah ia ingin menenggelamkan seluruh raga dan jiwanya ke dalam kepasrahan mutlak di hadapan Zat Yang Maha Mendengar. Transisi dari kepedihan yang meluap-luap menuju keheningan batin yang khusyuk mulai terasa ketika detak jantungnya yang tadinya berdegup kencang berangsur-angsur melambat, mengikuti irama napasnya yang mulai teratur.

"Subhana rabbial a'la wa bihamdih..." bisik Bara berulang-ulang, meresapi setiap lafaz tasbih yang keluar dari bibirnya yang kering.

Transisi spiritual itu mengalir bagaikan air jernih yang membasuh bara api kemarahan di dalam dadanya. Setiap kali ia teringat pada tatapan curiga dan kata-kata pedas warga desa yang menuduhnya berkhianat, rasa sakit itu sempat mencuat kembali, namun segera ia redam dengan mengingat kesabaran para nabi dan para wali yang menghadapi ujian jauh lebih berat di masa lalu.

Cahaya lampu minyak di sudut ruangan berkedip pelan ketika angin malam menyelinap masuk lewat ventilasi, menyapu peluh dingin yang membasahi kening Bara. Pikirannya yang tadinya kalut dan dipenuhi bayangan kelam perlahan-lahan mulai menjernih, menemukan titik terang di balik pekatnya malam.

"Engkau adalah sebaik-baik penolong, ya Allah," gumam Bara perlahan, mengangkat kepalanya dari sujud dan duduk di antara dua sujud dengan postur tubuh yang tegap meski jiwanya masih berbalut luka.

Transisi waktu menuju sepertiga malam akhir itu membawa perubahan suhu yang semakin membekukan, tetapi Bara tidak lagi merasa kedinginan; kehangatan doa dan munajat telah menyelimuti sekujur jiwa raganya.

❖ ❖ ❖

Lihat selengkapnya