Asam Garam Kehidupan

Amrullah Ibrahim
Chapter #67

Fajar Tauhid dan Makna Sibghah Allah

Pukul 04.30 WIB beranjak merangkak menuju pukul 06.00 WIB. Suasana fajar menyingsing di pagi hari yang sangat tenang menyelimuti seluruh dataran lereng bukit, menghadirkan kesejukan yang meresap hingga ke tulang. Langit pagi di ufuk timur memancarkan gradasi warna yang begitu sempurna dan memukau—perpaduan antara biru tua kelam malam yang perlahan memudar, warna keemasan yang berkilau lembut, dan semburat kemerahan fajar yang merekah indah di balik punggung pegunungan. Udara pagi berembus sepoi-sepoi, membawa kesegaran embun yang menempel di ujung-ujung daun pinus dan rumput liar.

Di atas sebuah batu besar pipih yang terletak tepat di puncak bukit—tempat di mana Bara biasa menyendiri dan merenung sejak ia masih anak-anak—pemuda itu duduk bersila dengan punggung tegak sempurna. Jubah putih bersih yang dikenakannya berpadu harmonis dengan sarung tenun berwarna hijau gelap dan kopiah hitam yang membingkai kepalanya. Matanya menatap lurus ke arah cakrawala luas, menyaksikan bagaimana matahari pagi perlahan-lahan mengangkat tirai malam dan menyiramkan cahaya kehidupan ke atas lembah desa di bawahnya.

"Subhanallah, betapa agung lukisan alam ciptaan-Mu," gumam Bara pelan, suaranya berbisik halus memecah kesunyian puncak bukit yang damai.

Di sekeliling batu besar tempat ia duduk, hamparan kabut tipis tampak berarak lambat menyelimuti pepohonan hijau, menciptakan pemandangan seolah bumi sedang bersujud dalam keheningan pagi. Tidak ada suara bising kendaraan atau ketegangan konflik korporasi yang terdengar; yang ada hanyalah harmoni suara angin pagi dan kicauan burung-burung liar yang menyambut hari baru penuh kemenangan moral.

Bara menutup matanya sejenak, menarik napas dalam-dalam untuk mengisi rongga dadanya dengan oksigen pegunungan yang sangat murni. Di bawah temaram cahaya fajar yang kian benderang, ia bersiap merangkum seluruh perjalanan hidupnya ke dalam sebuah perenungan teologis yang paling mendalam.

❖ ❖ ❖

Tujuan utama Bara duduk bersila di puncak bukit hingga pagi menjelang ini adalah merenungkan dan menyarikan makna tertinggi dari seluruh rangkaian ujian hidup yang telah ia lewati selama ini. Setelah berhasil membendung gelombang fitnah sosial, menepis ancaman hukum korporasi, dan mendamaikan warga desanya, Bara merasa perlu menarik diri sejenak dari keramaian untuk melakukan muhasabah total di hadapan Sang Pencipta. Ia ingin memahami apa hikmah besar di balik setiap kepahitan, air mata, dan perjuangan melelahkan yang ia lalui.

"Aku harus memahami ke mana arah dari semua badai ini membawaku," ucap Bara pada dirinya sendiri, meraba permukaan buku catatan harian di dalam tasnya dengan jemari yang tenang.

Ia memiliki tujuan yang sangat spesifik pada fajar ini: meresapi makna hakiki dari konsep Sibghah Allah—celupan kasih sayang dan didikan Allah—yang selama ini ia pelajari di pesantren. Bara menyadari bahwa segala peristiwa yang terjadi dalam hidupnya bukanlah kebetulan semata. Setiap badai fitnah, setiap tikaman keraguan dari teman masa kecil, setiap keringat di ladang, hingga setiap ilmu silat dan ketajaman batin yang ia kuasai, adalah bagian dari cetakan tangan-Nya untuk membentuk kepribadiannya.

"Untuk apa semua tempaan fisik dan batin ini diberikan jika aku tidak mengembalikannya kepada didikan-Nya?" bisik Bara dengan nada penuh perenungan, menatap hamparan awan di bawah bukit.

Pena di tangannya siap menorehkan kalimat-kalimat suci perenungan jiwa. Tujuan besar pagi ini adalah menyatukan seluruh kepingan pengalaman hidupnya ke dalam satu kerangka tauhid yang utuh, menjadikan setiap detik kehidupannya bernilai ibadah yang murni tanpa tersisa setitik pun rasa bangga diri.

"Mari kita selami makna celupan Ilahi ini dengan hati yang sepenuhnya pasrah," ujar Bara mantap, memusatkan seluruh kesadarannya pada keindahan fajar di hadapannya.

❖ ❖ ❖

Transisi dari perenungan hening di atas batu besar menuju pemahaman teologis yang mendalam tentang Sibghah Allah berlangsung secara mengalir dan penuh kesadaran spiritual. Bara membuka buku catatan harian bersampul kulit hitam miliknya, membuka halaman kosong terakhir, dan mendekatkan ujung pena ke atas permukaan kertas putih yang diterangi cahaya fajar.

"Sibghah Allah: Celupan Allah, dan siapakah yang lebih baik celupannya daripada Allah?" tulis Bara pada baris pertama halaman tersebut, dengan goresan tangan yang sangat mantap, tenang, dan penuh wibawa.

Transisi pemikiran ini membawanya pada pencerahan bahwa seluruh pengalaman hidupnya—baik kesenangan maupun penderitaan—adalah proses "pewarnaan" jiwa yang dilakukan oleh Sang Maha Pencipta. Badai fitnah yang menghantamnya di malam hari berfungsi mencuci bersih kesombongan, ilmu silat mengajarkannya tentang disiplin raga, kepekaan batin melatih ketajaman akal, dan ujian sosial mendewasakan jiwanya secara seimbang.

"Ketika aku diuji dengan penolakan dan fitnah warga beberapa waktu lalu," lanjut Bara merumuskan sambil menuliskan kalimat berikutnya, "aku baru sadar bahwa Allah sedang mencelup jiwaku ke dalam ketabahan agar aku tidak mudah goyah oleh pujian maupun caci maki manusia."

Transisi fajar menyingsing ini juga menyatukan kembali seluruh pelajaran dari para guru pesantren, Kiai Abidin, hingga Fathia Samaira ke dalam satu kesimpulan agung. Bahwa manusia yang tangguh bukanlah mereka yang tidak pernah jatuh, melainkan mereka yang setiap kejatuhannya dicelup ulang oleh rahmat Allah menjadi kekuatan iman yang tak tergoyahkan.

Ia meneguk sedikit air putih dari botol kecil di tasnya, merasakan kesegaran yang mengalir di tenggorokannya. Transisi fisik dan mental ini menyempurnakan metamorfosis dirinya menjadi seorang mukmin yang utuh.

"Seluruh badai dan nikmat ini adalah celupan kasih sayang-Nya yang mendidik akal, raga, dan jiwa secara seimbang," tulis Bara menutup paragraf refleksinya dengan goresan pena yang sangat tegas.

❖ ❖ ❖

Lihat selengkapnya