Pukul 07.00 WIB beranjak merangkak menuju pukul 10.00 WIB. Suasana pagi hari yang sibuk, cerah, dan penuh dengan kebersamaan yang hangat menyelimuti seluruh kompleks pesantren lereng bukit. Langit biru bentang luas tanpa sepotong awan pun, memancarkan sinar matahari pagi yang hangat dan keemasan, menyinari halaman pesantren yang luas serta barisan tenda bernuansa putih dan hijau muda yang baru saja didirikan oleh warga desa. Udara pagi berembus sepoi-sepoi, membawa aroma harum daun pisang, wangi masakan tradisional dari dapur umum darurat, serta semerbak bunga melati yang disiapkan untuk dekorasi pelaminan.
Di halaman utama pesantren, suasana tampak begitu hidup dan meriah. Puluhan santri berpeci putih tampak bahu-membahu bersama para pemuda desa dan bapak-bapak petani yang beberapa waktu lalu sempat berselisih paham. Mereka bekerja sama dengan penuh semangat—ada yang mengangkat meja dan kursi kayu, merangkai janur kuning di gerbang utama, hingga menata piring dan gelas untuk acara kenduri agung. Tidak ada lagi sisa-sisa ketegangan konflik agraria atau tatapan curiga; yang terdengar hanyalah gelak tawa, canda gurau riang, dan suara alat-alat pertukangan yang beradu secara harmonis.
"Letakkan bambu dekorasi itu sedikit ke sebelah kanan agar gerbangnya terlihat lebih simetris, Mang Udin!" seru seorang santri senior memberi instruksi sambil tersenyum lebar.
"Siap, Nak Santri! Tenang saja, urusan mempercantik gerbang nikahan Bara ini serahkan pada paman!" balas Mang Udin—pria paruh baya yang dulu sempat termakan isu korporasi—dengan tawa berderai penuh keakraban.
Dari arah teras asrama, Bara melangkah keluar mengenakan kemeja batik lengan panjang bermotif klasik berpadu celana bahan hitam rapi. Rambutnya tersisir rapi dan wajahnya memancarkan binar kebahagiaan yang tulus, meskipun garis-garis ketegasan seorang pejuang masih jelas terlihat di rahangnya. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling halaman pesantren, menyaksikan bagaimana seluruh elemen masyarakat desa dan santri tumpah ruah merayakan hari bahagia tersebut dalam ikatan persaudaraan yang utuh.
"Pagi yang luar biasa, penuh berkah dan persatuan," gumam Bara pelan, merasakan kehangatan yang menjalar di sekujur dadanya.
❖ ❖ ❖
Tujuan utama Bara melangkah keluar menuju tengah halaman pesantren di pagi yang cerah ini adalah memastikan seluruh persiapan tempat, dekorasi, dan konsumsi untuk acara akad nikahnya bersama Fathia Samaira berjalan lancar tanpa ada kendala. Setelah berhasil melewati berbagai ujian hidup yang melelahkan, Bara ingin mempraktikkan langsung semangat gotong royong bersama warga desa, menunjukkan bahwa dirinya tidak mengambil jarak sebagai pengantin, melainkan tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari komunitas mereka.
"Biar kubantu mengangkat gulungan karpet merah ini ke teras utama, Pak Marto," ujar Bara sigap menghampiri seorang petani sepuh yang sedang kerepotan membawa gulungan karpet berat.
Pak Marto menghentikan langkahnya, tersenyum lebar hingga kerutan di sudut matanya berlipat-lipat. "Eh, Pengantin Baru! Jangan, Nak Bara. Kamu itu hari ini raja sehari, cukup berdiri dan tersenyum saja mengawasi kami kerja!"
Bara tertawa kecil, tetap meraih sisi ujung karpet tersebut dengan cekatan. "Ah, Paman bisa saja. Saya tetap Bara yang kemarin ikut mencangkul di ladang dan berjuang bersama Paman di balai desa. Tidak ada yang berubah hanya karena hari ini saya menikah."
Ia memiliki tujuan yang sangat spesifik pada pagi gotong royong ini: merangkul kembali setiap warga yang pernah khilaf, mempererat simpul silaturahmi yang sempat koyak oleh intrik korporasi, dan menjadikan perhelatan pernikahannya sebagai simbol rekonsiliasi total masyarakat lereng bukit. Bara tidak ingin hari bahagianya dirayakan dalam sekat-sekat eksklusif; ia ingin seluruh warga desa duduk bersama menikmati kebahagiaan di bawah naungan tenda pesantren.
"Bagaimana laporan dari bagian konsumsi dapur umum, Kang Hasan?" tanya Bara ramah saat berpapasan dengan kepala dapur umum pesantren.
"Alhamdulillah, semua bahan makanan sumbangan dari para petani sudah melimpah, Bara. Daging dan bumbu-bumbu siap diolah oleh ibu-ibu PKK sejak subuh tadi," jawab Kang Hasan penuh semangat.
Tujuan besar pagi ini adalah memastikan bahwa keringat dan kerja keras bersama seluruh warga desa terbayar lunas melalui perayaan yang damai, khidmat, dan penuh rasa syukur kepada Sang Pencipta.
❖ ❖ ❖
Transisi dari kesibukan fisik membantu persiapan tempat menuju perenungan batin yang mendalam tentang makna gotong royong berlangsung secara mengalir dan penuh kesadaran sosial. Bara berjalan pelan meninggalkan kerumunan pemuda yang sedang memasang teratak, menuju area beranda samping perpustakaan pesantren yang sedikit lebih sepi dan teduh. Ia menyeka keringat di keningnya dengan sehelai sapu tangan putih, lalu bersandar sejenak pada tiang kayu jati berukir klasik.
"Gotong royong ini bukan sekadar tradisi desa biasa," tulis batin Bara dalam perenungan jiwanya yang tenang, "melainkan manifestasi nyata dari ukhuwah islamiyah yang murni setelah badai perpecahan."
Transisi pemikiran ini membawanya pada pemahaman sosiologis dan spiritual yang sangat agung. Bahwa konflik agraria yang sempat meretakkan hubungan antarwarga beberapa waktu lalu sebenarnya adalah cara takdir untuk menguji seberapa kuat fondasi solidaritas sosial mereka. Ketika ancaman dari luar datang menghantam, warga desa sempat goyah; namun ketika mereka kembali disadarkan oleh nilai-nilai kebersamaan dan keadilan, ikatan kekeluargaan itu justru tumbuh jauh lebih kokoh dari sebelumnya.
"Lihatlah mereka," gumam Bara dalam hati, mengamati dari jauh bagaimana Umar—teman masa kecilnya yang sempat termakan fitnah—kini tampak tertawa riang bersama santri lain mengangkat meja prasmanan. "Umar yang dulu sempat menjauh, kini berdiri di garda terdepan menyiapkan tempat pernikahan kami."
Transisi pagi yang cerah ini merefleksikan pemulihan total struktur sosial desa. Sinar matahari pagi yang hangat menyimbolkan terangnya masa depan perkampungan lereng bukit yang kini merdeka secara ekonomi, sosial, dan mental. Bara menyadari bahwa kebahagiaan pernikahannya dengan Fathia Samaira bukanlah kemenangan personal semata, melainkan kemenangan kolektif seluruh warga desa yang berhasil merawat martabat tanah kelahiran mereka.
Ia menegakkan kembali tubuhnya, merapikan kerah kemeja batiknya, dan menarik napas dalam-dalam menghirup udara pagi yang segar. Transisi fisik dan mental ini menyempurnakan kesiapan dirinya menyongsong detik-detik akad nikah yang tinggal beberapa jam lagi.