Asam Garam Kehidupan

Amrullah Ibrahim
Chapter #80

Malam Penyerahan Diri dan Munajat Panjang

Pukul sembilan malam lewat sepuluh menit, keheningan yang pekat dan syahdu merangkul seluruh kompleks pesantren Desa Cipta Rasa. Langit malam tanpa bintang membentang luas bagaikan permadani hitam legam, menaungi bangunan-bangunan asrama santri yang mulai memadamkan lampu utamanya satu per satu. Udara malam berhembus dingin, membawa embun pekat yang meresap perlahan melalui ventilasi kayu kamar asrama sederhana tempat Bara Fathan menghabiskan malam terakhir dalam status lajangnya. Di dalam ruangan berukuran tiga kali tiga meter itu, satu-satunya penerangan berasal dari lampu tidur kecil berpendar kuning lembut yang memantulkan bayangan hangat di dinding kamar.

Bara duduk bersila di atas selembar sajadah tebal berwarna hijau tua yang terbentang rapi di lantai. Ia mengenakan gamis putih bersih dengan wangi minyak wangi gaharu yang menguar lembut dari tubuhnya, menandakan persiapan spiritual yang telah ia lakukan sejak selepas shalat isya. Di hadapannya, suasana terasa begitu sunyi, jauh dari ingar-bingar dunia luar atau ketegangan sengketa tanah yang pernah mencabik-cabik ketenangan desa beberapa waktu lalu. Yang terdengar hanyalah desau angin malam yang bergesek pelan di luar jendela dan detak jarum jam dinding tua yang menghitung mundur detik-detik menuju fajar akad nikahnya.

"Malam yang begitu tenang," bisik Bara pelan pada dirinya sendiri, meresapi keheningan mutlak yang menyelimuti relung batinnya.

Di kamar asrama itulah, di hadapan sajadah yang menjadi saksi bisu perjalanan ibadahnya selama bertahun-tahun, Bara merenungkan betapa cepat waktu bergulir dari masa-masa ia menjadi santri biasa hingga kini berada di ambang gerbang pernikahan suci bersama Fathia Samaira.

❖ ❖ ❖

Bara menengadahkan kedua telapak tangannya ke hadapan dada, menutup matanya rapat-rapat untuk memusatkan seluruh pikiran dan perasaannya. Di malam penyerahan diri yang sangat sakral ini, tujuan utama Bara bukanlah merencanakan urusan teknis resepsi esok hari, menyusun daftar tamu undangan, atau memikirkan hal-hal duniawi lainnya. Tujuan spiritual yang paling mendasar adalah melantunkan munajat panjang, memohon ampunan atas segala khilaf masa lalu, serta mengetuk pintu rahmat Allah SWT agar ikatan suci pernikahan yang akan ia bangun esok hari senantiasa dilimpahi keberkahan, ketenangan, serta cinta yang mawaddah wa rahmah.

"Ya Allah, Ya Rahman, Ya Rahim... hamba berdiri di hadapan-Mu dengan segala kerendahan hati," ucap Bara dalam hati dengan suara bergetar halus penuh kekhusyukan.

Tujuan jangka pendeknya malam ini adalah membersihkan hati sepenuhnya dari segala keraguan, rasa cemas, atau beban mental yang tersisa. Bara ingin menyerahkan seluruh urusan masa depannya secara mutlak kepada Sang Pencipta, menyadari bahwa pernikahan adalah sebuah ibadah terpanjang yang membutuhkan sandaran iman yang kokoh.

"Jadikanlah pernikahan ini sebagai pelabuhan terakhir yang mendekatkan diriku kepada-Mu, dan jadikan aku suami yang mampu membimbing Fathia dengan penuh tanggung jawab," gumamnya tulus di dalam doa panjangnya.

❖ ❖ ❖

Seiring berjalannya waktu, jarum jam dinding bergeser merayap menunjuk pukul sepuluh malam lewat seperempat. Suasana di luar asrama semakin senyap, menyisakan keheningan malam yang mendalam dan menenangkan. Bara mengubah posisi duduknya dari bersila menjadi tahiyyat akhir di atas sajadah, memulai rangkaian shalat sunnah tahajud dan hajat dengan gerakan yang tenang, khusyuk, dan penuh penghayatan. Transisi batin mengalir lembut dari kesadaran duniawi menuju kefanaan spiritual di hadapan Ilahi.

Transisi kesadaran ini membawa Bara melintasi batas-batas lelah fisik akibat persiapan hari-hari sebelumnya. Setiap gerakan rukuk dan sujud yang ia lakukan terasa begitu ringan, seolah beban berat badai fitnah dan tekanan konflik desa yang pernah menghimpit pundaknya telah lama sirna, terbasuh oleh air mata taubat dan sujud yang panjang.

"Segala puji bagi Allah yang telah menuntun langkahku hingga detik ini," renung Bara dalam keheningan sujudnya. "Tiada daya dan upaya melainkan dengan pertolongan-Nya."

Peralihan fokus dari kecemasan esok hari menuju kepasrahan total di atas sajadah membuat jiwa Bara merasakan kedamaian yang sejati. Ia tidak lagi mencemaskan apakah akad nikahnya esok akan berjalan lancar atau tidak; ia mempercayakan segalanya kepada skenario terindah yang telah digariskan oleh Sang Maha Kuasa.

❖ ❖ ❖

Lihat selengkapnya