ASAM LAMBUNG (Kisah Anak Perempuan Pertama )

aisyah nur hanifah
Chapter #1

PERKENALKAN, AKU PELANGI



Aku adalah Pelangi.

Tercipta dari sebuah nama yang indah, sebuah nama yang disematkan dengan begitu banyak doa dan harapan. Kata Ayah, aku adalah warna-warna yang hadir setelah hujan. Kata Ibu, aku adalah cahaya yang akan menerangi rumah kecil kami. Dan sejak hari pertama aku membuka mata di dunia, aku tumbuh sebagai anak sulung yang dipercaya untuk menjadi kebanggaan keluarga.

Aku lahir di tengah keluarga yang utuh. Rumahku tidak pernah kekurangan tawa. Ada Ayah yang selalu pulang membawa cerita dari kantornya, Ibu yang tidak pernah lupa menyiapkan sarapan hangat setiap pagi, dan Langit, adik laki-lakiku yang sejak kecil selalu menjadi teman bertengkar sekaligus teman tertawa. Di rumah kami, meja makan adalah tempat segala cerita bermula. Tidak ada hari tanpa candaan. Tidak ada malam tanpa doa-doa yang dipanjatkan bersama.

Sejak kecil, aku selalu ingin menjadi anak yang membanggakan.

Aku belajar dengan sungguh-sungguh, bukan karena dipaksa, melainkan karena aku menyukai perasaan ketika melihat mata Ayah dan Ibu berbinar saat menerima raporku. Dari bangku sekolah dasar hingga sekolah menengah atas, aku selalu berusaha memberikan yang terbaik. Piala-piala akademik memenuhi lemari ruang tamu. Sertifikat demi sertifikat tersusun rapi di dalam map biru kesayanganku. Setiap kali namaku dipanggil sebagai juara, hal pertama yang kucari adalah senyum bangga kedua orang tuaku di antara kerumunan.

Dan entah sejak kapan, kebahagiaan mereka perlahan menjadi tujuanku.

Aku tumbuh menjadi perempuan yang mandiri. Berani mengambil keputusan. Bertanggung jawab terhadap setiap pilihan yang kuambil. Aku tidak pernah membuat orang tuaku khawatir. Aku tidak pernah pulang larut malam tanpa kabar. Aku tidak pernah terlibat dalam hal-hal yang membuat nama keluarga kami dipertanyakan. Aku selalu menjadi anak yang baik. Setidaknya, begitulah kata orang-orang.

Ketika banyak teman seusiaku masih bingung menentukan masa depan, aku sudah jatuh cinta pada dunia mode dan kreativitas. Kecintaanku pada fashion membawaku melangkah lebih jauh dari yang pernah kubayangkan. Meski terlahir dari keluarga yang berkecukupan, aku memilih memperjuangkan jalanku sendiri. Aku menghabiskan malam demi malam menyusun portofolio, mengikuti kompetisi, dan berburu kesempatan hingga akhirnya mendapatkan beasiswa untuk menempuh pendidikan di ESMOD International.

Itu adalah salah satu hari paling membahagiakan dalam hidup Ayah dan Ibu.

Mereka memelukku erat sambil menangis. Dan untuk pertama kalinya, aku merasa seluruh kerja kerasku benar-benar terbayar.

Perjalanan itu tidak mudah. Ada banyak malam yang kuhabiskan bersama secangkir kopi, tumpukan sketsa, dan tenggat waktu yang terasa mustahil. Ada saat-saat ketika aku hampir menyerah. Namun setiap kali mengingat kedua orang tuaku, aku kembali berdiri. Aku menyelesaikan pendidikan Bachelor of Arts hingga Master of Arts dengan predikat Summa Cum Laude. Sebuah pencapaian yang bahkan membuatku sendiri sulit mempercayainya.

Hari wisudaku menjadi salah satu hari terindah bagi keluargaku.

Ibu menangis sejak pagi. Ayah berkali-kali memotretku dari berbagai sudut. Langit bahkan datang membawa bunga sambil bercanda bahwa akhirnya aku berhenti membuat rumah penuh dengan kain, pensil warna, dan majalah fashion.

Dan aku tertawa.

Aku selalu tertawa.

Setelah lulus, hidup seolah berjalan sesuai rencana. Aku diterima bekerja sebagai Fashion Forecaster di sebuah perusahaan multinasional ternama di Jakarta. Pekerjaan yang diimpikan banyak orang. Gaji yang cukup besar. Karier yang menjanjikan. Kehidupan yang terlihat sempurna dari luar.

Aku memiliki semuanya.

Keluarga yang hangat.

Pendidikan yang baik.

Pekerjaan yang membanggakan.

Prestasi yang membuat banyak orang kagum.

Setidaknya, itulah yang mereka lihat.

Karena tidak ada seorang pun yang pernah bertanya apa yang terjadi setelah lampu kamar dimatikan. Tidak ada yang tahu bahwa di balik semua pencapaian itu, ada seorang perempuan yang diam-diam belajar menanggung semuanya sendiri. Tidak ada yang tahu bahwa menjadi kebanggaan terkadang terasa begitu melelahkan.

Dan mungkin, saat itu, bahkan aku sendiri belum menyadarinya.

Aku adalah Pelangi.

Anak perempuan pertama yang selalu berusaha menjadi yang terbaik.

Anak yang terlihat baik-baik saja.

Sampai suatu hari, hidup mengajarkanku bahwa tidak semua luka terlihat oleh mata. Dan tidak semua orang yang tersenyum sedang benar-benar bahagia.

Pagi itu, aroma nasi goreng buatan Ibu memenuhi ruang makan.

Seperti biasa, meja makan menjadi tempat berkumpul kami sebelum memulai aktivitas masing-masing. Ayah membaca berita dari tablet di tangannya. Ibu sibuk menuangkan teh hangat ke dalam cangkir. Langit duduk di sampingku sambil memainkan ponselnya dengan santai.

Aku baru saja tiba dari Jakarta semalam. Sudah hampir tiga bulan aku tidak pulang ke rumah karena pekerjaan yang cukup padat.

"Langit, gimana hasil try out kemarin?" tanya Ayah sambil mengambil segelas air.

Langit mengangkat bahu.

"Biasa aja."

"Biasa aja itu gimana?" Ibu ikut bertanya.

"Ya... nggak jelek-jelek amat."

Padahal kami semua tahu nilai try out-nya jauh dari kata memuaskan.

"Tapi kamu tetap ikut latihan balap minggu ini kan?" lanjut Ayah.

Wajah Langit langsung berbinar.

Lihat selengkapnya