ASAM LAMBUNG (Kisah Anak Perempuan Pertama )

aisyah nur hanifah
Chapter #2

AKU BAIK-BAIK SAJA




Ada kalanya seseorang terlalu sering mengatakan "aku baik-baik saja" sampai akhirnya ia sendiri mempercayainya.

Aku tidak tinggal bersama kedua orang tuaku.

Sejak menyelesaikan pendidikan magister dan diterima bekerja sebagai Fashion Forecaster di sebuah perusahaan multinasional, aku menetap di Jakarta. Sementara Ayah, Ibu, dan Langit masih tinggal di rumah kami di Bekasi. Jarak Jakarta dan Bekasi memang tidak terlalu jauh, tetapi kesibukan sering kali membuat pulang menjadi kemewahan yang sulit ditemukan.

Karena itulah akhir pekan kemarin terasa begitu berharga.

Sabtu pagi aku sengaja pulang ke Bekasi. Hanya dua hari. Hanya untuk makan masakan Ibu, mendengar candaan Ayah, dan melihat bagaimana Langit tumbuh semakin dewasa. Rumah itu masih sama seperti yang kuingat. Hangat. Ramai. Penuh tawa. Tempat yang selalu kurindukan ketika pekerjaan mulai terasa melelahkan.

Namun seperti biasa, waktu berjalan terlalu cepat.

Kini hari Senin kembali datang.

Aku berdiri di depan jendela apartemen lantai dua puluh satu sambil memandangi Jakarta yang mulai sibuk sejak pagi. Tas kerja sudah tersampir di bahu. Secangkir kopi hangat berada di genggamanku. Di bawah sana, kendaraan bergerak seperti arus yang tak pernah berhenti.

Akhir pekan yang hangat itu telah berakhir.

Dan aku kembali pada rutinitasku.

Sendiri.

Ponselku bergetar di atas meja.

Ibu.

Senyum kecil langsung terbit di wajahku.

"Halo, Bu."

"Sudah bangun?"

Aku tertawa pelan.

"Ini udah siap berangkat kerja."

"Oh, syukurlah."

Aku menunggu.

Mungkin kali ini Ibu akan bertanya apakah aku sudah sarapan.

Atau bagaimana pekerjaanku minggu ini.

Atau apakah aku kelelahan setelah perjalanan pulang kemarin.

Namun yang kudengar justru kalimat berikutnya.

"Pelangi, jangan lupa transfer uang buat Langit ya. Katanya dia mau beli perlengkapan balap yang baru."

Aku terdiam sesaat.

"Ya, Bu. Nanti aku transfer."

"Iya. Makasih ya, Nak."

Telepon ditutup.

Begitu saja.

Aku menatap layar ponsel yang kembali gelap.

Lalu tersenyum kecil.

Karena memang tidak ada yang salah.

Sungguh.

Tidak ada.

Setidaknya itulah yang selalu berusaha kuyakini.

Kantor tempatku bekerja berdiri megah di tengah kawasan bisnis Jakarta Selatan.

Aku bekerja sebagai Fashion Forecaster. Tugas yang terdengar glamor bagi sebagian orang.

Banyak yang mengira pekerjaanku hanya tentang pakaian, warna, dan tren.

Padahal lebih dari itu.

Aku harus memprediksi perubahan selera pasar, menganalisis perilaku konsumen, menghadiri berbagai presentasi internasional, dan memastikan perusahaan selalu selangkah lebih maju dibanding kompetitor.

Singkatnya, aku dibayar untuk memikirkan masa depan.

Lucunya, aku bisa memprediksi tren lima tahun ke depan.

Tetapi tidak pernah benar-benar memahami isi hatiku sendiri.

"Morning, Pel!"

Suara riang itu datang dari Aksara.

Sahabat sekaligus rekan kerjaku sejak tiga tahun terakhir.

Ia menjatuhkan dirinya ke kursi di samping meja kerjaku.

"Kamu kelihatan capek."

"Aku baik-baik saja."

Aksara langsung mendesah panjang.

"Nah. Kalimat itu lagi."

Aku tertawa.

"Kenapa?"

"Karena orang yang benar-benar baik-baik saja nggak perlu bilang kalau dia baik-baik saja setiap hari."

Aku kembali tertawa.

Lihat selengkapnya