ASAM LAMBUNG (Kisah Anak Perempuan Pertama )

aisyah nur hanifah
Chapter #4

CINTA PERTEMUAN PERTAMA



"Pelangi."

Bumi mengulang namaku sekali lagi.

Entah kenapa, ada sesuatu dalam sorot matanya yang membuatku merasa tidak asing.

Seolah ia pernah melihatku sebelumnya.

Namun aku terlalu lelah untuk memikirkannya.

Aku tidak tahu bahwa bagi Bumi Ariksa, malam di rumah sakit itu bukanlah pertemuan pertama kami.

Karena satu bulan sebelumnya, semesta pernah mempertemukan kami di tempat yang bahkan tidak pernah kusangka.

Sebuah toko buku.

#FLASHBACK

#IBULAN LALU

#HARI ULANG TAHUN PELANGI YANG KE-28 TAHUN

Hari itu adalah hari ulang tahunku yang kedua puluh tujuh.

Tidak ada pesta.

Tidak ada kue.

Tidak ada lilin.

Aku bahkan tidak berharap hadiah mewah.

Aku hanya ingin pulang.

Pulang ke rumah di Bekasi.

Duduk di meja makan bersama Ayah, Ibu, dan Langit.

Makan semur ayam kesukaanku.

Lalu menikmati mi goreng lava buatan Ibu yang selalu berhasil membuatku bernostalgia pada masa kecil.

Sesederhana itu.

Karena sejak seminggu sebelumnya, Ayah dan Ibu sudah berjanji.

"Pulang ya, Nak. Kita rayakan ulang tahun kamu di rumah."

Kalimat itu membuatku bertahan melewati minggu yang melelahkan.

Aku bahkan sengaja mengambil cuti sehari.

Membayangkan rumah yang hangat.

Membayangkan Ibu memasak di dapur.

Membayangkan Langit yang mungkin akan menggodaku karena bertambah tua.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa memiliki sesuatu untuk ditunggu.

Namun hidup rupanya punya rencana lain.

Saat mobilku hampir memasuki gerbang tol menuju Bekasi, ponselku berdering.

Ibu.

Aku langsung tersenyum.

"Halo, Bu."

"Pelangi..."

Nada suaranya terdengar ragu.

Entah kenapa, dadaku langsung terasa tidak nyaman.

"Kamu sudah jalan?"

"Iya. Sebentar lagi sampai."

Hening beberapa detik.

Lalu Ibu berkata pelan.

"Nak... jangan ke rumah dulu ya."

Aku terdiam.

"Maksudnya?"

"Ibu sama Ayah lagi di perjalanan ke Bogor."

Aku menggenggam kemudi lebih erat.

"Bogor?"

"Iya. Langit lolos audisi balap tingkat provinsi. Hari ini ada seleksi lanjutan."

Aku tidak langsung menjawab.

Berusaha memahami kalimat yang baru saja kudengar.

"Tapi..."

Aku menelan ludah.

"Hari ini..."

Aku bahkan tidak sanggup menyelesaikan kalimatku sendiri.

Hari ini ulang tahunku.

Hari yang seminggu lalu mereka janjikan.

Hari yang sudah kutunggu.

Hari yang membuatku pulang.

Namun ternyata bukan hari yang mereka ingat.

"Ibu minta maaf ya, Nak."

Suara Ibu terdengar jauh.

"Kita rayakan lain kali."

Lain kali.

Aku tersenyum.

Meski tidak ada yang melihat.

"Iya, Bu."

"Kamu nggak marah kan?"

"Nggak kok."

Aku selalu pandai berbohong.

"Ya sudah, hati-hati ya."

Telepon berakhir.

Lihat selengkapnya