ASAM LAMBUNG (Kisah Anak Perempuan Pertama )

aisyah nur hanifah
Chapter #5

KAK SENJA, HADIRNYA MENGINGATKANMU

Siluet wajah Pelangi masih menari-nari dalam pikiranku. Senyumnya yang tulus menyimpan banyaka misteri yang tersimpan rapi dalam hatinya. Cara bicaranya yang tenag dan perlahan, menunjukkan bagaimaan dia selalu siap dalam menghadapi cobaan, cantik dan elegan.

Busana yang terlihat sederhana, hanya dengan kaos oblong panjang berwarna putih dipadukan dengan rok tutu coklat panjang, lalu semakin menawan dengan rambut terurai panjang sebahu, terlihat anggun dan berkelas. Aku seketika mengingat sesuatu saat menatap sorot matanya dari jauh, SENJA, dia sangat mirip dengan Alm. kakakku.

DI MOBIL PERJALANAN MENUJU KERUMAH

DARI BALIK CENDELA, AKU MENATAP SPONTAN WANITA ITU TEPAT DIHADAPANKU

DIA BERKENDARA SENDIRI DENGAN MOBIL SEDAN PUTIH

LUSUH TAPI BERSIH DAN TERAWAT

SETIBANYA DIRUMAH

Bumi Aksira

Huf, membosankan harus kembali ke rumah besar bertingkat 3 ini, tapi hanya sendiri dan ditemani oleh bibi pembantu kepercayaan mama. Padahal, rumah mama dan aku hanya berjarak 35 menit, dan itu cukup lumayan tidak masalah jika aku harus pulang pergi perjalanan dari Rumah Sakit tempat aku bekerja.

Namun, bagaimana lagi, sebagai satu-satunya anak bungsu di rumah, mama tetap melihatku sebagai anak kecil kesayangannya. Dia selalu tidak tega, jika melihatkau pulang larut malam dan berangkat pagi sebelum subuh untuk menjalankan tugas.

Tetapi, dia juga tidak bisa ambil pilihan, karena papa sangat mencintai rumah masa kecil peninggalan oma, dan ada banyak kenangan manis di rumah itu bersama kak Senja, sehingga mama mengalah untuk tidak pindah rumah.

Aku pernah sesekali bertanya kepada mama, kenapa mama sangat protektif padaku dan selalu mengkhawatirkanku, aku sudah berusia 30 tahun dan akhir tahun memasuki 31 tahun. Bukankah aku sudah dewasa.

Tapi, sembari tertawa ringan dan mengecup keningku mama berkata, selama kamu masih single dan belum berkeluarga, belum memiliki keluarga kecil sendiri, mama tetap melihat kamu sebagai anak bungsu kesayangan mama. Makanya, cepat dong cari pacar dan jadikan dia istri, kasih mama menantu yang manis.

TUUTTT ... TUTTT ...

Telepon itu berdering tepat ketika Bumi Ariksa baru saja meletakkan tubuhnya di sofa, masih dengan pikiran yang belum sepenuhnya tenang setelah pertemuannya dengan Pelangi yang terus saja berputar di kepalanya.

Nama yang muncul di layar: “Mama 💛”

Bumi menghela napas kecil, lalu tersenyum tipis. “Kalau bukan Mama, pasti sudah tidur dari tadi,” gumamnya pelan sebelum mengangkat telepon.

“Hallo, Ma…”

Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, suara di seberang sudah lebih dulu menyerbu hangat, penuh energi yang seolah tak pernah habis dimakan usia.

“Bumiii… anak Mama yang paling tampan, paling mandiri, paling kerja keras sedunia!” suara itu terdengar ceria, hampir seperti menyanyi.

Bumi terkekeh kecil. “Iya, Ma. Ada apa malam-malam begini?”

“Tidak boleh ya Mama telepon anak sendiri?” jawab sang ibu cepat, lalu tertawa. “Mama cuma kangen. Rumah ini sepi, Papa lagi sibuk baca koran di ruang tengah, jadi Mama ingat kamu.”

Lihat selengkapnya