ASAM LAMBUNG (Kisah Anak Perempuan Pertama )

aisyah nur hanifah
Chapter #7

AKU TERLALU PERCAYA DIRI


Pagi itu, Jakarta menyambut Pelangi dengan langit yang mendung.

Sama seperti isi kepalanya.

Baru tiga hari sejak ia keluar dari rumah sakit, tetapi meja kerjanya sudah dipenuhi puluhan email yang belum dibaca, laporan yang menunggu revisi, dan pesan-pesan dari berbagai divisi yang meminta keputusan darinya.

Pelangi menarik napas panjang.

Tangannya masih sesekali gemetar.

Tubuhnya belum sepenuhnya pulih.

Lambungnya masih terasa perih jika ia terlambat makan.

Namun seperti biasa, ia memilih datang.

Karena dunia tidak pernah berhenti hanya karena seseorang sedang sakit.

Dan Pelangi sudah terlalu terbiasa berjalan meski dirinya tertatih.

Begitu memasuki ruang kerja, suasana terasa berbeda.

Tidak ada sapaan hangat.

Tidak ada senyum.

Bahkan beberapa rekan kerja terlihat menghindari kontak mata dengannya.

Jantung Pelangi berdegup pelan.

Perasaannya tidak enak.

Lalu ia melihat sosok atasannya berdiri di depan ruang rapat dengan wajah yang tidak biasa.

"Kamu ikut saya sekarang."

Nada suaranya dingin.

Terlalu dingin.

Ruangan rapat itu terasa sesak.

Padahal hanya ada beberapa orang di dalamnya.

Layar proyektor menampilkan data tren pasar fashion untuk kuartal berikutnya.

Data yang seharusnya menjadi dasar keputusan perusahaan dalam mengeluarkan investasi miliaran rupiah.

Dan semuanya...

Salah.

Fatal.

Sangat fatal.

"Pelangi, kamu tahu berapa kerugian yang hampir kita alami karena ini?"

Pelangi menunduk.

Tangannya mengepal di bawah meja.

"Saya minta maaf, Pak."

"Maaf?"

Atasannya tertawa pendek.

"Ini bukan masalah maaf atau tidak."

Ruangan semakin sunyi.

"Selama ini saya selalu membanggakan kamu."

Kalimat itu justru terasa lebih menyakitkan daripada bentakan.

"Saya selalu bilang kamu adalah analis terbaik yang pernah saya miliki."

Nada suara atasannya berubah.

Kecewa.

"Saya tidak menyangka kesalahan seperti ini datang dari kamu."

Pelangi menggigit bibir bagian dalam.

Tidak membela diri.

Tidak menjelaskan.

Tidak mengatakan bahwa selama seminggu terakhir dirinya bekerja sambil menahan nyeri lambung.

Tidak mengatakan bahwa beberapa data terakhir sebenarnya dimasukkan oleh tim lain sebelum ia jatuh sakit.

Tidak mengatakan bahwa ia bahkan mengerjakan laporan itu sambil demam.

Ia hanya diam.

Karena terkadang diam terasa lebih mudah daripada menjelaskan kepada orang yang sudah memutuskan untuk menyalahkan.

"Saya minta maaf, Pak."

Hanya itu.

Lagi.

Setelah rapat selesai, Pelangi keluar dengan langkah pelan.

Dunia terasa berputar sedikit lebih cepat dari biasanya.

Kepalanya pening.

Dadanya sesak.

Tetapi yang paling menyakitkan bukanlah kemarahan atasannya.

Melainkan kenyataan bahwa ia sudah memberikan hampir seluruh hidupnya untuk pekerjaan itu.

Malam-malam yang hilang.

Libur yang dilewatkan.

Kesehatan yang dikorbankan.

Dan semua itu seolah lenyap hanya karena satu kesalahan.

"Pelangi!"

Suara seseorang memanggil dari belakang.

Aksara Nirmala Putri.

Sahabatnya.

Satu-satunya orang yang masih terlihat benar-benar khawatir.

Aksara berjalan cepat menghampirinya.

Wajahnya kesal.

Sangat kesal.

"Kamu tuh sebenarnya kenapa sih?"

Lihat selengkapnya