ASAM LAMBUNG (Kisah Anak Perempuan Pertama )

aisyah nur hanifah
Chapter #8

HANYA SURAT DIATAS MEJA MAKAN

Pelangi tidak ingat kapan tepatnya ia tertidur malam itu.

Yang ia ingat hanya tubuhnya yang terasa sangat lelah.

Terlalu lelah.

Setelah seharian menghadapi kemarahan atasan, menahan nyeri lambung yang datang berulang kali, dan menelan kecewa yang tidak sempat ia ceritakan kepada siapa pun.

Bahkan kepada keluarganya sendiri.

Ketika ibunya menyuruhnya tidur lebih awal malam itu, Pelangi menurut.

Untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu terakhir, ia menyerah pada rasa lelahnya.

Tidak ada pekerjaan.

Tidak ada laptop.

Tidak ada laporan.

Hanya dirinya dan kasur yang akhirnya berhasil membuat matanya terpejam.

Pukul 06.00 pagi.

Sinar matahari masuk melalui celah tirai apartemen.

Pelangi perlahan membuka mata.

Kepalanya masih terasa berat.

Namun setidaknya tubuhnya sedikit lebih ringan dibanding kemarin.

Ia meregangkan tubuh pelan.

Lalu tersenyum kecil.

Sudah lama sekali ia tidak bangun pagi dengan suara keluarga di dekatnya.

Mungkin pagi ini akan berbeda.

Mungkin ia bisa sarapan bersama.

Mungkin ibunya masih ada di dapur.

Mungkin ayahnya sedang membaca berita.

Mungkin Langit sedang ribut mencari kaus kaki seperti biasanya.

Pikiran itu membuat hatinya terasa hangat.

Untuk sesaat.

Pelangi membuka pintu kamar.

Langkahnya terhenti.

Senyumnya menghilang perlahan.

Apartemen itu...

Berantakan.

Sangat berantakan.

Di atas meja ruang tamu terdapat bungkus makanan cepat saji yang belum dibuang.

Botol minuman kosong berserakan.

Piring kotor menumpuk di wastafel.

Sisa saus mengering di meja makan.

Bahkan sofa yang biasanya rapi kini dipenuhi jaket dan tas yang ditinggalkan begitu saja.

Pelangi berdiri diam.

Memandang semuanya.

Beberapa detik.

Satu menit.

Dua menit.

Sampai akhirnya matanya menemukan secarik kertas di atas meja makan.

Tulisan tangan ibunya.

Ia mengambilnya perlahan

Pelangi,

Ibu dan Ayah pulang tadi pagi sekali sebelum subuh.

Langit ada ujian Matematika pagi ini, jadi kami harus buru-buru berangkat.

Baik-baik ya di Jakarta.

Ibu buat nasi goreng di meja makan.

Tadi sebenarnya ibu buat untuk kamu dan Langit.

Tapi maaf ya, telur mata sapinya ibu masak matang.

Soalnya Langit nggak suka telur setengah matang, jadi ibu nggak mau masak dua kali.

Lihat selengkapnya