Jakarta pagi itu cerah.
Langit biru membentang tanpa banyak awan.
Namun di dalam dada Pelangi, semuanya masih terasa mendung.
Sejak membaca surat ibunya pagi tadi, ada sesuatu yang mengendap di sana. Bukan kemarahan. Bukan pula kekecewaan yang meledak-ledak.
Lebih seperti rasa sesak yang pelan.
Diam.
Tapi tidak mau pergi.
Seperti seseorang yang mengetuk pintu hati berkali-kali tanpa pernah benar-benar masuk
PUKUL 08.30 PAGI
Pelangi berdiri di depan cermin apartemennya.
Hari itu sebenarnya akhir pekan.
Ia bisa saja beristirahat.
Bisa saja tidur seharian.
Bisa saja mengabaikan pekerjaan yang menumpuk.
Namun menjadi Pelangi berarti selalu merasa ada sesuatu yang harus diselesaikan.
Sesuatu yang harus dibereskan.
Sesuatu yang tidak boleh ditinggalkan.
Ia mengambil sweter rajut berwarna merah muda kesayangannya.
Lembut.
Hangat.
Sedikit longgar di tubuhnya yang akhir-akhir ini semakin kurus.
Rambut panjangnya diikat sederhana.
Tanpa riasan.
Tanpa usaha berlebihan.
Hanya dirinya sendiri.
"Aku cuma mau bekerja sebentar."
Kalimat itu ia ucapkan pada dirinya sendiri.
Meski ia tahu "sebentar" sering kali berubah menjadi berjam-jam
Namun sebelum pergi ke kantor, Pelangi memutuskan melakukan sesuatu yang sudah lama tidak ia lakukan.
Ia berjalan menuju taman kecil di kompleks apartemennya.
Udara pagi masih terasa segar.
Rumput-rumput basah oleh embun.
Beberapa orang sedang jogging.
Ada yang berjalan santai bersama pasangan.
Ada yang membawa anak-anak mereka bermain sepeda.
Ada pula yang mengajak anjing peliharaan berlari kecil.
Pelangi menghirup udara dalam-dalam.
Lalu mulai berjalan.
Perlahan.
Tanpa terburu-buru.
Untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu terakhir, ia membiarkan dirinya menikmati pagi.
Bukan bekerja.
Bukan memikirkan deadline.
Bukan memikirkan laporan.
Hanya berjalan.
Menjadi manusia biasa
Setelah hampir empat puluh menit berolahraga ringan, Pelangi singgah ke sebuah toko kue tradisional yang sering ia lewati.
Aroma mentega dan vanila memenuhi ruangan.
Hangat.
Menenangkan.
Ia membeli sepotong strawberry shortcake favoritnya.
Lembut dengan lapisan krim tipis dan potongan stroberi segar di atasnya.
Lalu segelas susu hangat.
Mungkin terdengar sederhana.
Tapi pagi itu, ia ingin memanjakan dirinya sedikit.
Meski hanya sedikit