ASAM LAMBUNG (Kisah Anak Perempuan Pertama )

aisyah nur hanifah
Chapter #10

TERUSLAH JADI PELANGI YANG BAHAGIA

Pelangi masih memegang es krim vanila itu ketika Bumi tiba-tiba berdiri dari bangku taman.

"Tunggu di sini."

Pelangi mengernyit.

"Hah?"

Namun Bumi sudah berjalan pergi.

Tanpa penjelasan.

Tanpa alasan.

Seperti biasa.

Misterius dan menyebalkan.

Lima menit kemudian ia kembali.

Dengan sesuatu di tangannya.

Pelangi mengedip beberapa kali.

Lalu menatap benda itu.

"Balon?"

Bumi mengangguk.

"Bukan satu."

Pelangi menatap ke belakang.

Ada lima balon warna-warni.

Merah.

Kuning.

Biru.

Hijau.

Ungu.

"Bumi..."

"Iya?"

"Umur saya dua puluh delapan tahun."

"Iya."

"Kenapa saya dikasih balon?"

"Karena umur dua puluh depan bukan alasan untuk berhenti menyukai balon."

Pelangi terdiam.

Lalu tanpa sadar tertawa kecil.

Tawa pertama pagi itu.

Dan Bumi langsung menyadarinya.

Matanya sedikit melunak.

Seolah itulah yang sedari tadi ia tunggu.

"Pegang."

Bumi menyerahkan tali balon itu.

Pelangi menerimanya dengan bingung.

Angin pagi membuat balon-balon itu bergoyang di udara.

Tiba-tiba ia merasa seperti kembali menjadi anak kecil.

Anak kecil yang dulu pernah memiliki banyak mimpi.

Sebelum dunia mengajarinya untuk selalu kuat.

Selalu mengalah.

Selalu mendahulukan orang lain.

"Kamu tahu?" kata Bumi sambil berjalan pelan di sampingnya.

"Hm?"

"Waktu kecil aku iri sama anak-anak yang main balon."

Pelangi menoleh.

"Kok bisa?"

"Soalnya aku selalu diajarin untuk cepat dewasa."

Pelangi tersenyum tipis.

"Aneh ya."

"Aneh."

"Kita tumbuh besar ingin cepat dewasa."

"Lalu ketika dewasa kita justru kangen jadi anak-anak."

Bumi mengangguk.

"Persis."

Mereka terus berjalan menyusuri taman.

Sampai akhirnya Bumi berhenti di dekat seorang penjual gelembung sabun.

Pelangi langsung tertawa.

"Jangan bilang..."

Lihat selengkapnya