Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 13.00 siang.
Matahari bersinar semakin terik.
Taman yang tadi ramai mulai perlahan sepi.
Pelangi yang sedari tadi tertawa dan menikmati waktu bersama Bumi tiba-tiba melihat jam di layar ponselnya.
Wajahnya langsung berubah.
"Astaga..."
Bumi menoleh.
"Ada apa?"
Pelangi langsung berdiri.
"Aku harus ke kantor."
"Kantor?"
"Iya."
Bumi mengernyit.
"Hari ini weekend."
"Aku tahu."
"Lalu?"
Pelangi menggigit bibirnya pelan.
"Ada deadline yang belum selesai."
Kalimat itu keluar cepat.
Seolah ia sedang menjelaskan sesuatu yang sangat mendesak.
Padahal yang sebenarnya terjadi adalah rasa takut.
Takut pekerjaan menumpuk.
Takut dimarahi lagi.
Takut mengecewakan orang lain.
Takut gagal.
Lagi.
"Bumi, aku harus pergi sekarang."
Pelangi buru-buru merapikan tasnya.
Namun sebelum ia melangkah, Bumi lebih dulu berdiri.
Lalu tanpa banyak bicara mengambil tas yang ada di tangannya.
"Bumi?"
"Ayo."
"Mau ke mana?"
"Ke mobil."
Pelangi bingung.
"Kenapa?"
"Aku antar."
Sepanjang perjalanan menuju kantor, Pelangi terlihat gelisah.
Sangat gelisah.
Tangannya menggenggam ujung sweter merah mudanya.
Kakinya bergerak kecil tanpa sadar.
Pikirannya kembali dipenuhi berbagai kemungkinan buruk.
Bagaimana kalau bosnya masih marah?
Bagaimana kalau laporan itu belum selesai?
Bagaimana kalau hasilnya tidak sempurna?
Bagaimana kalau ada kesalahan lagi?
Bagaimana kalau...
Bagaimana kalau...
Bagaimana kalau...
Bumi yang sedang menyetir melirik sekilas.
Ia tidak perlu menjadi psikolog untuk tahu isi kepala Pelangi saat itu.
Karena hampir semua orang yang terlalu sering terluka selalu hidup di masa depan.
Mereka sibuk takut pada hal-hal yang bahkan belum terjadi.
Tiba-tiba ponsel Pelangi berdering.