Mobil Bumi perlahan memasuki area apartemen Pelangi.
Langit Jakarta mulai berubah jingga.
Sore itu terasa jauh lebih ringan dibanding pagi tadi.
Entah karena film komedi yang mereka tonton.
Atau karena untuk pertama kalinya setelah waktu yang lama, Pelangi berhasil melewati satu hari tanpa memikirkan pekerjaan setiap lima menit sekali.
Ia bahkan sempat tertawa sampai perutnya sakit.
Dan Bumi diam-diam merasa puas melihatnya.
Karena sejak awal, memang itu tujuannya.
Melihat Pelangi tersenyum.
Bukan senyum sopan.
Bukan senyum profesional.
Melainkan senyum yang benar-benar lahir dari hati.
Mobil berhenti tepat di depan lobi apartemen.
Pelangi hendak membuka pintu ketika seseorang tiba-tiba melambaikan tangan dari seberang jalan.
"Wah."
Suara perempuan itu terdengar ceria.
"Bumi?"
Bumi yang sedang mematikan mesin mobil langsung membeku.
Seketika.
Pelangi menoleh.
Lalu melihat seorang perempuan paruh baya berjalan cepat ke arah mereka.
Wajahnya cantik.
Ramah.
Dan memiliki senyum yang sangat mirip dengan milik Bumi.
"Ma?"
Bumi langsung memijat pelipisnya.
Bukan karena sakit kepala.
Melainkan karena ia sudah hafal betul ekspresi itu.
Ekspresi seseorang yang baru saja melakukan sesuatu secara diam-diam.
"Mama?"
Pelangi ikut terkejut.
Perempuan itu tersenyum lebar.
"Iya."
Lalu tanpa malu-malu ia memperhatikan Pelangi dari ujung kepala sampai kaki.
Pelan.
Sangat pelan.
Seolah sedang melakukan proses penilaian.
"Bumi..."
bisik Pelangi.
"Kenapa Mama kamu lihat aku kayak mau wawancara kerja?"
Bumi langsung menahan tawa.
Karena jujur saja...
Itu memang persis yang sedang terjadi.
"Mama ngapain di sini?"
tanya Bumi curiga.
Ibunya langsung tersenyum manis.
"Oh kebetulan lewat."
"Kebetulan?"
"Iya."
"Mama tinggal dua jam dari sini."
"Ya siapa tahu tersesat."
"Di Jakarta selama dua jam?"
"Namanya juga takdir."
Bumi menutup mata.
Selesai sudah.
Ia tahu persis.
Mamanya pasti sedang berulah.
Sementara itu Pelangi yang belum mengerti apa-apa hanya berdiri canggung.
Sampai akhirnya Mama Bumi menggenggam kedua tangannya.