
Ada masa dalam hidup seseorang ketika ia mulai percaya bahwa dirinya pantas bahagia.
Dan bagi Pelangi, masa itu datang perlahan.
Sangat perlahan.
Seperti matahari pagi yang masuk dari sela jendela tanpa membuat siapa pun sadar kapan tepatnya kegelapan berganti terang.
Sudah hampir satu minggu berlalu sejak pertemuan tidak sengaja itu.
Sejak hari ketika Bumi membelikannya es krim vanila.
Sejak hari ketika untuk pertama kalinya ada seseorang yang memintanya berhenti memikirkan semua orang dan mulai memikirkan dirinya sendiri.
Dan anehnya...
Sejak hari itu hidup Pelangi berubah sedikit demi sedikit.
Bukan perubahan besar.
Bukan perubahan yang dramatis.
Tetapi perubahan kecil yang membuat hatinya terasa lebih ringan.
Setiap pagi ada pesan masuk.
Bukan dari Bumi.
Melainkan dari Mama Bumi.
Perempuan itu seperti memiliki energi yang tidak pernah habis.
"Pelangi, sarapan apa hari ini?"
"Pelangi, jangan lupa minum air."
"Pelangi, hari ini langit Jakarta bagus sekali."
"Pelangi, Tante nemu toko kue baru."
"Pelangi, kapan kita ngopi lagi?"
Awalnya Pelangi merasa canggung.
Sangat canggung.
Namun lama-kelamaan ia mulai terbiasa.
Bahkan tanpa sadar mulai menunggu pesan-pesan itu.
Ada hari ketika mereka menghabiskan waktu di kafe kecil dekat taman kota.
Ada hari ketika mereka menonton film bersama.
Ada hari ketika Mama Bumi memaksanya mencoba berbagai makanan yang katanya wajib dicoba sebelum meninggal.
Ada hari ketika mereka hanya duduk mengobrol berjam-jam.
Tentang hidup.
Tentang mimpi.
Tentang luka.
Tentang keluarga.
Tentang banyak hal yang selama ini tidak pernah bisa Pelangi ceritakan kepada siapa pun.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya...
Pelangi merasakan sesuatu yang aneh.
Sesuatu yang selama ini tidak pernah benar-benar ia miliki.
Kehadiran.
Bukan sekadar seseorang yang ada.
Melainkan seseorang yang benar-benar hadir.
Yang mendengar.
Yang memperhatikan.
Yang mengingat hal-hal kecil.
Yang bertanya apakah ia sudah makan.
Yang marah jika ia tidur terlalu larut.
Yang memaksanya membawa jaket saat cuaca dingin.
Hal-hal sederhana.
Tetapi bagi Pelangi...
Terasa sangat berharga.
Bumi juga sering ikut bergabung.
Meski biasanya lebih banyak diam.
Lebih banyak mendengarkan.
Lebih banyak memperhatikan.
Namun entah kenapa keberadaannya selalu membuat suasana terasa tenang.
Dan tanpa sadar...
Pelangi mulai berubah.
Aksara adalah orang pertama yang menyadarinya.
Pagi itu mereka sedang berada di pantry kantor.
Aksara hampir tersedak kopi ketika melihat Pelangi masuk.
"ASTAGA!"
Pelangi langsung terkejut.