Hari pertama, Bumi masih mencoba tenang.
Ia berpikir mungkin Pelangi sedang bersama keluarganya.
Mungkin sedang menemani ayahnya.
Mungkin kelelahan.
Mungkin lupa mengisi daya ponsel.
Mungkin...
Masih ada banyak kemungkinan yang terdengar masuk akal.
Hari kedua, ia mulai gelisah.
Pesan yang dikirimnya hanya centang satu.
Panggilan telepon tidak pernah tersambung.
Bahkan pesan dari Mama Bumi yang biasanya selalu dibalas Pelangi juga tidak mendapat jawaban.
Tidak ada kabar.
Tidak ada pesan.
Tidak ada penjelasan.
Hari ketiga.
Bumi mulai benar-benar khawatir.
Pukul sepuluh pagi.
Ia sedang memeriksa hasil observasi pasien ketika matanya kembali melirik layar ponsel.
Kosong.
Masih kosong.
Tidak ada nama Pelangi.
Tidak ada pesan.
Tidak ada apa-apa.
Bumi mengusap wajahnya pelan.
Sudah tiga hari.
Tiga hari tanpa kabar.
Dan yang membuatnya semakin cemas adalah hari itu seharusnya jadwal kontrol lambung Pelangi.
Ia hafal.
Sangat hafal.
Karena sejak membaca laporan kesehatan itu, ia hampir tidak pernah melupakannya.
Di atas meja kerjanya masih tersimpan salinan hasil observasi terakhir.
Hipertensi akibat stres.
Gangguan lambung kronis.
Malnutrisi ringan.
Kelelahan berkepanjangan.
Risiko komplikasi jika terus memaksakan diri bekerja.
Secara fisik memang terlihat membaik.
Pelangi bahkan terlihat lebih sehat beberapa minggu terakhir.
Lebih cerah.
Lebih hidup.
Lebih bahagia.
Namun sebagai dokter, Bumi tahu satu hal.
Tubuh yang tersenyum belum tentu tubuh yang sembuh.
Dan Pelangi termasuk pasien yang pandai sekali menyembunyikan rasa sakit.
"Bumi."
Suara seseorang membuatnya menoleh.
Mama Bumi berdiri di ambang pintu ruangannya.
Membawa segelas kopi.
"Kamu belum makan lagi ya?"
Bumi hanya menggeleng.
Mama Bumi duduk di depannya.
Menatap anak laki-lakinya yang sejak tiga hari terakhir tampak kehilangan sebagian cahaya dalam dirinya.
"Masih belum ada kabar?"
tanya beliau lembut.