
Suasana kafe itu terasa lebih sunyi daripada biasanya.
Padahal tidak ada yang berbeda.
Mesin kopi masih berdengung.
Pelayan masih lalu lalang.
Musik jazz pelan masih terdengar dari pengeras suara.
Namun bagi Bumi, Raka, dan Aksara, dunia seolah berhenti di meja kecil dekat jendela itu.
Sudah hampir satu jam Bumi mencoba berbicara.
Namun hasilnya tetap sama.
Aksara diam.
Sangat diam.
"Aksara."
Bumi kembali mencoba.
"Tolong."
Perempuan itu menatap cangkir kopinya.
Matanya sembab.
Sejak tadi ia menggigit bibirnya sendiri.
Menahan sesuatu.
Menahan janji yang sudah ia buat.
"Aku nggak bisa," jawabnya lirih.
"Aku cuma ingin tahu dia baik-baik saja."
Aksara menggeleng.
"Aku sudah janji sama Pelangi."
"Aksara..."
"Dia nggak mau merepotkan siapa-siapa."
Kalimat itu membuat Bumi memejamkan mata.
Karena kalimat itu memang terdengar seperti Pelangi.
Terlalu seperti Pelangi.
"Aku cuma ingin membantu."
kata Bumi pelan.
"Tapi itu masalahnya."
Suara Aksara mulai bergetar.
"Dia selalu berpikir semua harus dia selesaikan sendiri."
Air mata mulai memenuhi mata perempuan itu.
"Dia selalu begitu."
Raka yang duduk di sampingnya langsung menggenggam tangannya.
Memberikan ketenangan.
Memberikan kekuatan.
Namun Aksara akhirnya menyerah.
Mungkin karena sudah terlalu lama menyimpan semuanya.
Mungkin karena selama ini tidak ada yang benar-benar bertanya.
Atau mungkin karena ia sendiri sudah terlalu takut.
"Kalian tahu nggak..."
suaranya pecah.
"Sepuluh tahun aku berteman sama Pelangi."
Bumi langsung memperhatikan.
"Dan selama sepuluh tahun itu..."
Aksara tertawa pahit.
"Aku nggak pernah lihat dia memilih dirinya sendiri."
Air mata mulai jatuh.
"Dari SMA."
"Dia selalu jadi yang terbaik."
"Nilainya terbaik."
"Prestasinya terbaik."
"Beasiswanya terbaik."
"Tapi setiap kali berhasil..."
Aksara menunduk.
"Tidak pernah ada yang benar-benar bertanya apakah dia capek."