ASAM LAMBUNG (Kisah Anak Perempuan Pertama )

aisyah nur hanifah
Chapter #16

PELUKAN YANG DINGIN

Rumah sakit itu terasa dingin.

Bukan karena pendingin ruangan.

Bukan karena dinding putihnya.

Melainkan karena ketakutan yang menggantung di setiap sudutnya.

Sudah tiga hari Pelangi berada di sana.

Tiga hari tanpa tidur yang cukup.

Tiga hari dengan kopi yang mulai terasa hambar.

Tiga hari menahan tangis.

Tiga hari berpura-pura kuat.

Di depan ruang ICU.

Pelangi duduk sendirian.

Masih mengenakan kemeja yang sama sejak pagi.

Rambutnya terikat seadanya.

Wajahnya pucat.

Matanya sembab.

Namun tidak ada yang memperhatikan.

Karena seperti biasa...

Semua orang menganggap Pelangi akan baik-baik saja.

Dari balik kaca ICU, ia melihat ayahnya.

Tubuh yang dulu terlihat begitu kuat kini terbaring diam.

Berbagai kabel terhubung ke tubuhnya.

Monitor jantung berbunyi pelan.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya...

Pelangi merasa takut.

Sangat takut.

Ia selalu berpikir ayahnya akan baik-baik saja.

Ayahnya selalu terlihat kuat.

Selalu menjadi orang yang bisa menyelesaikan apa pun.

Selalu menjadi tempat keluarga bersandar.

Namun kini...

Ayahnya terlihat rapuh.

Begitu rapuh.

"Ayah..."

bisiknya pelan.

Tangannya menempel pada kaca ICU.

"Ayah harus sembuh."

Suaranya bergetar.

"Ayah jangan pergi dulu."

Air mata jatuh satu per satu.

Karena di balik semua luka yang ia miliki.

Di balik semua kecewa yang pernah ia rasakan.

Di balik semua rasa lelah yang selama ini dipendam.

Ia tetap anak perempuan ayahnya.

Dan tidak ada anak perempuan yang siap kehilangan ayahnya.

Pelangi mengusap air matanya cepat.

Lalu kembali membuka laptop.

Email pekerjaan.

Tagihan rumah sakit.

Dokumen asuransi.

Pesan dari kantor.

Telepon dari pihak administrasi.

Semuanya menumpuk.

Dan seperti biasa.

Semuanya jatuh ke tangannya.

Ibunya lebih sering berada di rumah.

Mengurus berbagai kebutuhan.

Mengurus pakaian.

Mengurus perlengkapan.

Mengurus Langit.

Langit...

Nama itu membuat dada Pelangi kembali sesak.

Karena bahkan dalam kondisi seperti ini...

Adiknya masih sibuk membicarakan lomba balap motor yang akan berlangsung minggu depan.

"Kak, motorku udah diservis belum?"

"Kak, sponsor itu jadi nggak?"

"Kak, aku harus latihan."

Pelangi hanya diam.

Sampai akhirnya suatu sore.

Kesabarannya habis.

Lihat selengkapnya