
Malam mulai turun di luar rumah sakit.
Lampu-lampu lorong menyala satu per satu.
Suasana menjadi lebih sunyi.
Lebih tenang.
Namun tidak dengan hati Pelangi.
Sejak bertemu neneknya sore tadi, untuk pertama kalinya ia bisa bernapas sedikit lebih lega.
Setidaknya ada seseorang yang melihat keadaannya.
Benar-benar melihatnya.
Bukan hanya sebagai anak sulung.
Bukan hanya sebagai penanggung jawab keluarga.
Tetapi sebagai manusia yang sedang kelelahan.
Saat itu mereka sedang duduk di ruang tunggu ICU.
Nenek menggenggam tangan Pelangi yang terasa dingin.
Sementara bibinya pergi membeli makan malam.
Nenek memperhatikan wajah cucunya cukup lama.
Terlalu lama.
Sampai akhirnya perempuan tua itu menghela napas panjang.
"Sudah berapa hari kamu nggak istirahat?"
Pelangi tersenyum kecil.
"Nggak tahu."
"Sudah mandi?"
Pelangi diam.
Nenek langsung tahu jawabannya.
"Belum."
Pelangi tertawa kecil.
Tertawa yang terdengar lebih mirip tangisan.
"Belum sempat, Nek."
"Belum sempat atau nggak mikirin diri sendiri?"
Pelangi menunduk.
Karena keduanya benar.
Saat itulah ibunya datang membawa beberapa berkas rumah sakit.
Wajahnya terlihat lelah.
Namun tetap sibuk menelepon seseorang.
Nenek langsung menatap putrinya.
Dan untuk pertama kalinya malam itu...
Wajah lembut perempuan tua itu berubah tegas.
"Kamu lihat anakmu?"
Ibunya mengangkat kepala.
"Hm?"
"Kamu lihat Pelangi?"
"Ada apa?"
Nenek berdiri.
"Anakmu belum mandi."
Ibunya terdiam.
"Belum tidur."
Diam.
"Belum makan dengan benar."
Diam.
"Dan kamu masih bilang 'ada apa'?"
Pelangi langsung panik.
"Nek..."
Namun nenek menggeleng.
"Diam dulu."
Sudah lama sekali Pelangi tidak melihat neneknya marah.
"Kamu sibuk mengurus semuanya."
"Tapi kamu lupa mengurus anakmu."
Suasana mendadak hening.
Ibunya terlihat terkejut.
"Maksud Ibu apa?"
"Maksudku jelas."
Nenek menunjuk Pelangi.
"Lihat dia."
"Rambut berantakan."
"Wajah pucat."
"Mata sembab."
"Badannya tinggal tulang."
Air mata mulai menggenang di mata nenek.
"Dia ini cucuku."