Perjalanan menuju kota tempat orang tua Pelangi tinggal memakan waktu berjam-jam.
Langit mulai menggelap.
Lampu-lampu jalan satu per satu menyala.
Di dalam mobil, suasana jauh lebih sunyi daripada biasanya.
Raka sedang menyetir.
Aksara duduk di kursi depan.
Sementara Bumi duduk di belakang.
Tatapannya tertuju ke luar jendela.
Namun pikirannya sama sekali tidak berada di jalanan yang mereka lewati.
Pikirannya berada pada seorang perempuan yang sedang duduk sendirian di depan ICU.
Menahan dunia di pundaknya.
"Dia pasti belum tidur."
gumam Bumi.
Aksara menoleh.
Lalu tersenyum pahit.
"Itu sudah pasti."
"Dia pasti juga masih kerja."
"Kemungkinan besar."
Bumi memijat pelipisnya.
"Kondisi lambungnya belum stabil."
"Kalau stres lagi..."
Kalimat itu menggantung.
Tidak perlu dilanjutkan.
Karena mereka semua mengerti.
Di saat yang sama.
Jauh di Jakarta.
Mama Bumi duduk sendirian di ruang keluarga.
Rumah terasa sepi.
Biasanya ada suara Bumi yang pulang larut malam.
Biasanya ada suara televisi.
Biasanya ada suara dirinya yang terus mengomel.
Namun malam itu rumah terasa berbeda.
Karena sejak Bumi pergi mencari Pelangi, hatinya tidak tenang.
Ia tahu anak laki-lakinya.
Bumi bukan tipe orang yang mudah mengkhawatirkan seseorang.
Apalagi sampai menempuh perjalanan sejauh itu.
Artinya...
Perempuan itu benar-benar penting.
Mama Bumi tersenyum kecil.
"Dasar anak keras kepala."
Namun senyumnya perlahan memudar.
Karena tanpa sengaja matanya tertuju ke arah lorong rumah.
Ke arah sebuah pintu putih.
Pintu yang sudah tiga tahun tidak pernah benar-benar berani ia buka.
Kamar Senja.
Tangannya perlahan mengepal.
Entah mengapa.
Setiap kali memikirkan Pelangi.
Setiap kali melihat Pelangi tersenyum.
Setiap kali mendengar Pelangi berkata,
"Aku baik-baik saja."
Ia selalu teringat pada anak perempuannya.
Senja.
Perempuan itu akhirnya berdiri.
Lalu berjalan perlahan menuju kamar tersebut.
Klik.
Pintu terbuka.
Ruangan itu masih sama.