
Pukul 03.17 dini hari.
Rumah sakit masih terjaga.
Lampu-lampu lorong tetap menyala.
Suara langkah perawat sesekali terdengar.
Namun sebagian besar dunia sudah tertidur.
Kecuali Pelangi.
Atau setidaknya tubuhnya yang belum sempat beristirahat.
Selama tiga hari terakhir, ia hanya tidur beberapa jam.
Itu pun dalam posisi duduk.
Di kursi ruang tunggu ICU.
Menunggu.
Berharap.
Berdoa.
Sampai akhirnya malam itu tubuhnya menyerah.
Kepalanya bersandar pada dinding.
Tangan masih menggenggam map berisi dokumen rumah sakit.
Dan tanpa sadar...
Ia tertidur.
Tidur yang tidak benar-benar tenang.
Dalam mimpinya ia melihat ayah.
Ayah sedang duduk di teras rumah.
Memakai kaos favoritnya.
Tersenyum.
"Ayah..."
Pelangi berjalan mendekat.
Namun semakin ia mendekat.
Bayangan itu semakin jauh.
"Ayah..."
Ia berlari.
Tetapi tidak pernah sampai.
Sampai akhirnya seseorang mengguncang bahunya.
"Mbak..."
"Mbak Pelangi."
Matanya terbuka perlahan.
Pandangan masih kabur.
Namun sebelum kesadarannya pulih sepenuhnya...
Ia mendengar suara yang membuat jantungnya berhenti berdetak sesaat.
Tangisan.
Tangisan yang sangat keras.
Tangisan yang penuh kepanikan.
Tangisan seorang ibu.
Pelangi langsung berdiri.
"Ada apa?"
Perawat tidak menjawab.
Namun wajah perempuan itu cukup menjelaskan segalanya.
Tidak.
Tidak.
Tidak.
Tubuh Pelangi langsung berlari menuju ruang ICU.
Lorong rumah sakit mendadak terasa panjang.
Sangat panjang.
Semua orang berkumpul di sana.
Ibunya menangis histeris.
Bibinya memegang bahunya.
Nenek berdiri diam.
Wajahnya pucat.
Namun tetap berusaha tegar.
Dokter dan perawat lalu lalang.
Suasana kacau.
"Ayah!"
Pelangi mencoba masuk.
Namun seorang dokter menahannya.
"Maaf, Mbak."
"Tolong tunggu di luar."