ASAM LAMBUNG (Kisah Anak Perempuan Pertama )

aisyah nur hanifah
Chapter #20

LELAH DAN CAPEK

Rumah duka dipenuhi orang-orang.

Doa terus mengalir.

Tetangga datang silih berganti.

Kerabat berdatangan dari berbagai kota.

Namun di tengah keramaian itu, Pelangi merasa sangat sendirian.

Sejak pagi ia hampir tidak berbicara.

Hanya duduk di dekat foto ayahnya.

Menatap kosong.

Sesekali menjawab ucapan belasungkawa.

Lalu kembali diam.

Matanya bengkak.

Kepalanya berat.

Tubuhnya lelah.

Lambungnya mulai terasa nyeri lagi.

Namun ia tidak peduli.

Karena rasa sakit fisik terasa jauh lebih ringan dibanding kehilangan yang sedang ia rasakan.

Nenek beberapa kali menyuruhnya makan.

Bibinya membawakan teh hangat.

Namun Pelangi hanya menggeleng.

Sampai sore hari.

Tiba-tiba terdengar suara motor berhenti di depan rumah.

Semua orang menoleh.

Dan sesaat kemudian...

Langit muncul.

Kemejanya kusut.

Wajahnya pucat.

Bibirnya pecah.

Mata sembab.

Tidak ada sedikit pun sisa kepercayaan diri yang biasanya memenuhi dirinya.

Ibunya langsung berdiri.

"LANGIT!"

Perempuan itu berlari memeluk anak laki-lakinya.

"Kamu ke mana saja?"

Langit menunduk.

Tidak menjawab.

"Ayah meninggal, Nak..."

Kalimat itu membuat tubuh Langit membeku.

Wajahnya langsung berubah.

"Ayah..."

Air mata mulai jatuh dari matanya.

"Aku terlambat..."

Untuk pertama kalinya.

Pelangi melihat adiknya menangis seperti anak kecil.

Namun entah kenapa.

Hari itu hatinya tidak mampu ikut luluh.

Karena terlalu banyak yang sudah terjadi.

Terlalu banyak yang ia tahan.

Dan saat Langit akhirnya mulai bercerita...

Pertahanan terakhir Pelangi runtuh.

"Aku kalah lomba."

Semua orang diam.

"Motorku dicuri."

Ibunya terkejut.

"Apa?"

"Aku juga ditipu."

"Ditipu?"

Langit menunduk.

"Uang lima juta hilang."

Hening.

Pelangi perlahan mengangkat kepala.

Lima juta.

Angka itu mungkin terdengar biasa bagi sebagian orang.

Namun bagi keluarganya...

Itu uang yang besar.

Sangat besar.

Apalagi saat ayah mereka sedang sakit.

Apalagi saat biaya rumah sakit belum selesai.

Apalagi saat mereka baru kehilangan tulang punggung keluarga.

Namun Langit belum selesai.

"Kepala sekolah juga telepon."

Suaranya mulai bergetar.

"Mungkin aku nggak bisa ikut ujian susulan."

Ibunya langsung pucat.

"Langit..."

"Aku bisa nggak lulus."

Dan saat itulah sesuatu dalam diri Pelangi pecah.

Benar-benar pecah.

Lihat selengkapnya