ASAM LAMBUNG (Kisah Anak Perempuan Pertama )

aisyah nur hanifah
Chapter #21

BUMI, AKHIRNYA KAMU DATANG




Malam itu terasa lebih dingin dari biasanya.

Mobil yang membawa Bumi, Raka, dan Aksara akhirnya memasuki desa tempat Pelangi dibesarkan.

Perjalanan panjang yang mereka tempuh terasa begitu melelahkan.

Namun tidak ada satu pun dari mereka yang mengeluh.

Karena sejak awal tujuan mereka hanya satu.

Menemukan Pelangi.

Bumi menatap keluar jendela.

Lampu-lampu rumah penduduk terlihat samar.

Jalanan mulai sepi.

Namun entah mengapa dadanya semakin tidak tenang.

Sangat tidak tenang.

"Aku nggak suka firasat ini."

gumamnya.

Aksara yang duduk di samping hanya diam.

Karena ia merasakan hal yang sama.

Tak lama kemudian mobil berhenti di depan rumah keluarga Pelangi.

Namun sesuatu terasa berbeda.

Terlalu banyak kendaraan.

Terlalu banyak orang.

Terlalu banyak suara doa.

Dan ketika mereka turun...

Mereka langsung melihat tenda duka.

Bumi membeku.

Tidak.

Matanya perlahan menatap foto besar yang terpajang di ruang depan rumah.

Seorang pria paruh baya tersenyum hangat dari dalam bingkai hitam.

Ayah Pelangi.

Raka menelan ludah.

Aksara langsung menutup mulutnya.

Air mata mengalir begitu saja.

"Tidak..."

bisiknya.

"Tidak mungkin..."

Mereka terlambat.

Beberapa detik tidak ada yang berbicara.

Bumi hanya berdiri.

Diam.

Namun bukan karena terkejut.

Melainkan karena tiba-tiba ia memahami semuanya.

Mengapa Pelangi menghilang.

Mengapa nomornya tidak aktif.

Mengapa ia tidak membalas pesan.

Mengapa ia tidak hadir kontrol kesehatan.

Karena dunia perempuan itu sedang runtuh.

Dan lagi-lagi...

Ia memilih menanggung semuanya sendirian.

Bumi memejamkan mata.

"Pelangi..."

Suaranya nyaris tidak terdengar.

Di dalam rumah, suasana dipenuhi tangisan.

Ibunya Pelangi terlihat menangis di pelukan beberapa kerabat.

Langit duduk menunduk.

Nenek berada di dekat ruang tamu.

Namun satu hal yang langsung disadari Bumi.

Pelangi tidak ada.

Ia mencari ke setiap sudut ruangan.

Tidak ada.

"Di mana Pelangi?"

Aksara juga mulai panik.

"Tadi siang masih ada."

"Dia nggak mungkin pergi jauh."

Namun semakin mereka mencari.

Semakin jelas satu kenyataan.

Pelangi menghilang lagi.

Dan kali ini Bumi langsung tahu.

Ia tidak pergi.

Ia hanya bersembunyi.

Seperti yang selalu ia lakukan saat hatinya terlalu sakit.

Saat itulah seorang perempuan tua mendekatinya.

Nenek.

Mata tua itu memandang Bumi cukup lama.

Seolah sedang menilai sesuatu.

Lalu tersenyum tipis.

"Kamu Bumi ya?"

Bumi mengangguk sopan.

"Iya, Nek."

Perempuan tua itu menatapnya lekat-lekat.

Lihat selengkapnya