ASAM LAMBUNG (Kisah Anak Perempuan Pertama )

aisyah nur hanifah
Chapter #22

KOMA

Ada suara yang paling menakutkan di dunia.

Bukan suara petir.

Bukan suara tangisan.

Bukan suara kehilangan.

Melainkan suara mesin monitor yang terus berbunyi pelan di ruang ICU.

Karena suara itu mengingatkan bahwa seseorang sedang bertahan.

Bukan hidup sepenuhnya.

Namun juga belum pergi.

Sudah dua minggu.

Empat belas hari.

Tiga ratus tiga puluh enam jam.

Dan Pelangi belum membuka matanya.

Tubuhnya terbaring diam di ruang ICU.

Selang infus terpasang.

Alat bantu pernapasan membantunya bernapas.

Monitor jantung berkedip tanpa henti.

Sementara di luar ruangan itu...

Dunia seolah berhenti.

Semua orang menunggu.

Menunggu keajaiban.

Atau mungkin...

Takut menghadapi kemungkinan yang lain.

Awalnya semua orang mengira Pelangi hanya pingsan karena kelelahan.

Karena kurang tidur.

Karena syok setelah kehilangan ayahnya.

Namun hasil pemeriksaan membuat semua orang terdiam.

Asam lambung akut kronis.

Malnutrisi berat.

Kelelahan fisik ekstrem.

Gangguan stres berkepanjangan.

Tekanan psikologis yang tidak pernah ditangani.

Dan yang paling menyakitkan...

Dokter menemukan bahwa kondisi itu bukan baru terjadi beberapa minggu.

Melainkan bertahun-tahun.

Bertahun-tahun.

Artinya selama ini Pelangi benar-benar hidup sambil menahan sakit.

Tetapi tidak pernah bercerita kepada siapa pun.

Langit menangis untuk pertama kalinya dalam hidupnya di depan ruang ICU.

Bukan tangisan karena kalah lomba.

Bukan tangisan karena motornya dicuri.

Bukan tangisan karena masa depannya terancam.

Melainkan tangisan karena merasa menjadi adik yang gagal.

Ia duduk di lantai koridor.

Kepalanya tertunduk.

Mata merah.

Wajah kusut.

Tangannya menggenggam laporan medis milik kakaknya.

Dan semakin ia membaca.

Semakin ia merasa sesak.

"Asam lambung kronis..."

bisiknya.

"Sejak kapan?"

Air matanya jatuh ke atas kertas.

"Kenapa aku nggak tahu?"

Karena selama ini ia tidak pernah bertanya.

Karena selama ini ia terlalu sibuk dengan dirinya sendiri.

Karena selama ini setiap kali pulang ke rumah...

Ia selalu disambut oleh kakak yang tersenyum.

Dan ia mengira senyum itu berarti semuanya baik-baik saja.

Padahal tidak.

Sama sekali tidak.

Langit menutup wajahnya.

"Kak..."

Tangisnya pecah.

"Maafin aku..."

"Aku nggak tahu kamu sesakit itu."

"Aku nggak tahu kamu selama ini sendirian."

"Aku nggak tahu."

Dan untuk pertama kalinya.

Ia berharap bisa mengulang waktu.


SEMENTARA ITU

Ibunya duduk diam di kursi tunggu.

Wajah perempuan itu tampak jauh lebih tua dibanding dua minggu lalu.

Rambutnya mulai beruban.

Mata sembab.

Lihat selengkapnya