ASAM LAMBUNG (Kisah Anak Perempuan Pertama )

aisyah nur hanifah
Chapter #23

AYAH YANG MENUNGGU

Langit-langit putih.

Bau obat.

Suara pendingin ruangan.

Dan infus yang terpasang di tangannya.

Ia mengerjapkan mata beberapa kali.

Masih bingung.

Masih linglung.

"Kok aku di rumah sakit lagi?" gumamnya pelan.

Kepalanya terasa ringan.

Anehnya tidak sesakit biasanya.

Tidak ada rasa perih di lambung.

Tidak ada sesak.

Tidak ada beban.

Semuanya terasa tenang.

Terlalu tenang.

Pelangi mencoba duduk.

Namun saat ia melihat sekeliling ruangan, ada sesuatu yang aneh.

Tidak ada perawat.

Tidak ada dokter.

Tidak ada suara monitor.

Tidak ada suara langkah kaki.

Ruangan itu kosong.

Sangat kosong.

"Aksara?" panggilnya.

Tidak ada jawaban.

"Ibu?"

Hening.

"Nenek?"

Tetap tidak ada jawaban.

Perasaan asing mulai merambat di hatinya.

Sampai akhirnya pintu ruangan perlahan terbuka.

Kriiit...

Pelangi menoleh.

Dan dunia seolah berhenti.

Karena sosok yang berdiri di sana sangat dikenalnya.

Pria itu mengenakan kemeja kotak-kotak favoritnya.

Rambutnya sedikit beruban.

Senyumnya hangat.

Matanya teduh.

Sosok yang selama beberapa minggu terakhir terus dirindukannya.

Sosok yang setiap malam ia panggil dalam tangisnya.

"Ayah..."

Suaranya langsung bergetar.

Tidak.

Tidak mungkin.

Tapi itu benar-benar ayahnya.

Pria itu tersenyum.

Senyum yang sama seperti saat mengantarnya sekolah pertama kali.

Senyum yang sama seperti saat mengajarinya naik sepeda.

Senyum yang sama seperti saat diam-diam membelikan es krim ketika ibunya melarang.

"Pelangi."

Hanya satu kata.

Namun cukup membuat seluruh pertahanan Pelangi runtuh.

"Ayah..."

Air matanya langsung jatuh.

"Ayah..."

Ia berlari.

Benar-benar berlari.

Lalu memeluk ayahnya sekuat tenaga.

"Ayah..."

Tangisnya pecah.

"Ayah..."

"Pelan-pelan, Nak."

Suara itu masih sama.

Hangat.

Lembut.

Menenangkan.

Pelangi semakin erat memeluknya.

"Ayah jangan pergi lagi."

Tangisnya tersengal.

Lihat selengkapnya