Pelangi masih duduk di tepi danau.
Angin sore berembus pelan.
Rumput-rumput bergoyang mengikuti arah angin.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, hatinya terasa ringan
Ayah duduk di sampingnya.
Masih memegang kail pancing.
Masih dengan senyum hangat yang selalu membuat Pelangi merasa aman.
Mereka terdiam cukup lama.
Menikmati suasana.
Menikmati kebersamaan yang selama ini hanya bisa hadir dalam kerinduan.
Lalu tiba-tiba ayah tertawa kecil.
"Ayah baru ingat sesuatu."
Pelangi menoleh, "Apa?"
Ayah menggeleng sambil tersenyum.
"Kamu dulu jelek sekali."
"Hah?!"
Pelangi langsung protes.
"Ayah!"
Ayah tertawa keras.
Tawa yang sudah sangat lama tidak didengarnya.
"Bener."
"Ayah bohong."
"Nggak."
"Kamu waktu bayi kecil banget."
"Merah."
"Keriput."
"Dan suka nangis tengah malam."
Pelangi langsung menutup wajahnya.
"Ayah jangan cerita itu."
Ayah justru semakin tertawa.
"Kasihan ibumu."
"Setiap malam begadang."
"Kalau kamu nangis, ibumu langsung panik."
Pelangi terdiam.
"Aku?"
Ayah mengangguk.
"Padahal waktu ibumu hamil kamu..."
Senyumnya berubah lembut.
"Dia bahagia sekali."
Pelangi menatap ayahnya.
Dan perlahan ayah mulai bercerita.
Tentang masa lalu yang mungkin sudah lama terlupakan.
"Waktu dokter bilang anak pertama kami perempuan..."
"Ayah sama ibu langsung senyum terus."
Pelangi ikut tersenyum kecil.
"Ibu bilang..."
Ayah menirukan suara istrinya.
"'Akhirnya aku punya teman cerita.'"
Pelangi tertawa pelan.
Itu memang sangat mirip ibunya.
"Ibumu waktu itu mulai beli baju bayi warna-warni."
"Padahal uang kita pas-pasan."
"Dia sampai rajin menjahit sendiri."
"Karena pengen anak perempuannya cantik."
Entah kenapa.
Mata Pelangi mulai terasa hangat.
Ia tidak pernah tahu cerita itu.
Tidak pernah tahu bahwa dirinya begitu ditunggu.
Begitu diharapkan.
"Setiap malam."
lanjut ayah.
"Ibumu selalu ngobrol sama perutnya."
Pelangi tersenyum.
"Apa yang ibu bilang?"
Ayah tertawa kecil.
"Banyak."
"'Nak, nanti kalau lahir jangan bandel ya.'"
"'Nak, nanti jadi anak baik ya.'"
"'Nak, nanti kalau ibu sedih harus jadi teman ibu ya.'"