Langit sore perlahan berubah menjadi jingga.
Danau tempat Pelangi dan ayahnya memancing perlahan menghilang.
Kini mereka berada di sebuah tempat yang sangat familiar.
Sebuah warung mi pedas sederhana.
Dengan meja plastik.
Kursi kayu yang sedikit goyah.
Dan aroma cabai yang memenuhi udara.
Pelangi langsung tertawa.
"Ayah!"
"Apa?"
"Ini warung favoritku waktu SMP!"
Ayah tersenyum.
"Ayah tahu."
"Bahkan pemilik warung ini hafal kamu."
Pelangi langsung berlari kecil masuk ke dalam.
Persis seperti gadis remaja yang baru pulang sekolah.
Bukan Pelangi yang menjadi Fashion Forecaster.
Bukan Pelangi yang memikirkan target perusahaan.
Bukan Pelangi yang memikirkan tagihan.
Bukan Pelangi yang harus menjadi anak pertama.
Hanya Pelangi kecil.
"Bu! Mi level lima!"
teriaknya spontan.
Lalu ia berhenti.
Pemilik warung itu hanya tersenyum.
Seolah sudah mengenalnya sejak lama.
Ayah tertawa kecil.
"Dulu kamu selalu pesan level lima."
"Iya."
"Padahal habis itu nangis kepedesan."
Pelangi tertawa keras.
"Tapi tetap pesan lagi minggu depannya."
"Iya."
"Dasar keras kepala."
Tak lama kemudian semangkuk mi panas tersaji.
Pelangi langsung makan lahap.
Sangat lahap.
Sampai lupa kalau dirinya memiliki asam lambung kronis.
Sampai lupa kalau selama ini dokter melarangnya makan pedas.
Sampai lupa kalau tubuhnya pernah hampir menyerah.
Yang ada hanya rasa bahagia.
Ayah memperhatikannya sambil tersenyum.
"Lambat sedikit makannya."
"Nggak mau."
"Nanti keselek."
"Nggak akan."
Persis seperti dulu.
Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun...
Pelangi tertawa tanpa memikirkan apa pun.
Tidak memikirkan kantor.
Tidak memikirkan proyek.
Tidak memikirkan keluarga.
Tidak memikirkan rumah sakit.
Bahkan...
Ia tidak mengingat Bumi sama sekali.
Karena saat itu dunia Pelangi hanya berisi dirinya dan ayahnya.
Persis seperti masa kecil.
Setelah selesai makan.
Mereka berjalan pelan di sebuah jalan yang dipenuhi cahaya senja.
Pelangi menggenggam tangan ayahnya.
Seperti anak kecil.
Lalu tiba-tiba ayah berhenti.
"Pelangi."
"Hm?"
"Ada beberapa hal yang harus Ayah ceritakan."
Nada suaranya berubah.
Lebih lembut.
Lebih serius.
Pelangi menoleh.
"Apa?"
Ayah tersenyum tipis.
"Kamu sering berpikir Ibu lupa ulang tahunmu, ya?"
Pelangi terdiam.
Karena itu memang salah satu luka yang selalu ia simpan.
Tahun demi tahun.
Ia selalu merasa dirinya bukan prioritas.