ASAM LAMBUNG (Kisah Anak Perempuan Pertama )

aisyah nur hanifah
Chapter #26

SETELAH LAMA CINTA HANYA DIAM MEMBISU

Langit senja mulai meredup.

Warung mi pedas yang tadi ramai perlahan menghilang.

Kini Pelangi dan ayahnya berjalan menyusuri jalan kecil yang dikelilingi hamparan rumput hijau.

Udara terasa hangat.

Tenang.

Seolah waktu berhenti hanya untuk mereka berdua.

Pelangi masih memikirkan semua cerita yang baru saja didengarnya.

Tentang hadiah ulang tahun.

Tentang apartemennya.

Tentang Langit.

Tentang ibunya.

Selama ini...

Ia selalu mengira dirinya dilupakan.

Namun ternyata tidak.

Sama sekali tidak.

Ayah menghentikan langkahnya.

Lalu menatap putrinya lama.

Sangat lama.

Seolah ingin mengingat wajah itu baik-baik.

"Pelangi."

"Iya, Yah?"

Ayah tersenyum.

Namun kali ini senyum itu menyimpan kesedihan.

"Tidak ada orang tua yang tidak mencintai anaknya."

Kalimat itu sederhana.

Namun membuat dada Pelangi terasa sesak.

"Ayah tahu selama ini banyak hal yang membuat kamu terluka."

"Ayah tahu."

"Dan untuk itu..."

Pria itu menarik napas panjang.

"Ayah minta maaf."

Pelangi langsung menggeleng.

"Yah..."

"Tolong dengarkan dulu."

Suara ayahnya bergetar.

"Ini salah Ayah."

"Salah Ayah sebagai kepala keluarga."

"Ayah terlalu sering melihat kamu kuat."

"Terlalu sering melihat kamu mandiri."

"Terlalu sering melihat kamu tersenyum."

"Ayah dan Ibu selalu berpikir..."

"'Pelangi pasti baik-baik saja.'"

Air mata mulai mengalir di wajah Pelangi.

Padahal ternyata...

Tidak.

Ia tidak baik-baik saja.

Sudah sangat lama.

"Ayah tidak sadar."

"Bahwa anak perempuan Ayah sedang kelelahan."

"Sedang menangis diam-diam."

"Sedang berusaha bertahan sendirian."

Suara ayahnya mulai pecah.

"Ayah gagal melihat itu."

Tangis Pelangi jatuh semakin deras.

Karena untuk pertama kalinya...

Seseorang akhirnya memahami rasa sakit yang selama ini ia sembunyikan.

Ayah mengusap rambutnya perlahan.

"Kalau saja Ayah tahu..."

"Mungkin Ayah akan memeluk kamu lebih sering."

"Mungkin Ayah akan menelepon kamu lebih banyak."

"Mungkin Ayah akan bilang kalau kamu tidak harus selalu kuat."

Pelangi menangis dalam diam.

Dan untuk pertama kalinya.

Tangis itu terasa seperti menyembuhkan.

Bukan melukai.

Kemudian ayah tersenyum kecil.

"Tapi ada satu hal yang harus kamu tahu."

"Apa?"

"Ibumu bangga sekali sama kamu."

Pelangi membeku.

Seketika.

Karena kalimat itu adalah kalimat yang paling ingin ia dengar selama bertahun-tahun.

"Bangga?"

Ayah tertawa kecil.

"Sangat bangga."

"Lebih bangga daripada yang pernah dia tunjukkan."

Pelangi terdiam.

Ayah melanjutkan.

"Setiap kali tetangga bertanya kabarmu."

"Ibumu selalu cerita."

Lihat selengkapnya